Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Pria berseragam


__ADS_3

Cahyo tertawa, dia sedang menikmati sebuah drama, dan semua yang terjadi baru dimulai, bukan akhir. Saat Lani masuk ruangan, Cahyo segera berdehem dan merapikan jasnya, “Mencariku? Biasanya kamu dan Surya.”


Lani tersenyum sambil meletakkan sebuah map, “Ada pekerjaan baru, Tuan. Kata pak Surya saya yang harus menemani Tuan. Hendra ‘kan bagian lapangan, jadi saya mulai diberi pekerjaan baku.” Duduk sambil menyilangkan kaki.


Cahyo membaca map itu, tersenyum lebar, dan segera menanda tanganinya, “Atur saja jadwalnya besok, dan--"


"Ada tamu untukmu." Surya menyela, dia membuka pintu tanpa permisi karena ini cukup darurat.


Cahyo mengembalikan dokumen itu, “Kita bicarakan lagi nanti.” Segera mengikuti ke mana Surya pergi, “Apa dia yang datang?”


“Ya, sesuai dengan rencana kita.” Surya berjalan lebih cepat. Setelah sampai di ruang tamu khusus, dia tersenyum, itu adalah Mr.


“Senang bertemu dengan Anda, Mr.” Cahyo mengulurkan tangan, bersalaman seramah mungkin seolah tak terjadi apa pun di antara mereka, “Saat gunting pita Anda tidak datang.” Mempersilakan Mr untuk duduk kembali.


Terkekeh, “Ya, akhir-akhir ini aku sangat sibuk, bagaimana? Semua pekerjaan lancar? Bisa kita kerja sama lagi? Sisakan satu kursi untukku.” Mr mengacungkan jari telunjuk ke ajudannya dan segera menerima dokumen yang diberikan, “Ini hanya proyek kecil, tapi Anda pasti bisa mengatasinya, beberapa polisi bekerja terlalu keras, dan itu merepotkanku.” Mr memang melepas kewarganegaraan, memilih untuk tinggal di luar negeri bertahun-tahun untuk menyembuhkan diri, dan sekarang semua malah kacau.


Cahyo membolak-balik dokumen itu, membaca mana yang penting, dan menutupnya kembali sebelum menaruhnya di meja. “Gampang. Kami akan menanganinya, tapi perseteruan yang panas beberapa waktu terakhir membuatku ragu.” Cahyo tersenyum lebar ke Mr.


“Maksudmu?” Mr tak paham dengan ucapan Cahyo.


“Aku ingin Yuni kembali.” Cahyo rasa apa yang diminta sangat mudah. Mr mengungkung terlalu lama, jadi buat apa bertele-tele lagi?

__ADS_1


Mr malah tertawa, “Aku tidak menyangka Anda akan membahas hal semacam itu di sini. Semalam Yuni sangat panas, dia bahkan memintanya lagi dan lagi, dan Anda ingin aku melepaskannya?”


Surya yang tahu semua hanya provokasi, menahan tangan Cahyo, dia tak mau ada kekerasan di sini.


Cahyo pun terkekeh, “Tidak masalah. Bukan hanya Yuni, aku pernah tidur dengan banyak wanita, dan bagiku tak masalah jika Yuni melakukan hal yang sama juga. Jadi... kapan Anda akan membawa Yuni ke sini? Aku akan menanda tangani dokumen saat itu juga.”


Mr tersenyum lebar, menyapu rambut, dan merapikan jasnya, “Sepertinya Anda salah paham. Terima kasih sudah menjamuku dengan baik.” Segera berdiri dan mengajak ajudannya ke luar juga dari kantor Cahyo. Naik mobil seperti biasanya dan segera melepas dasinya setelah mobil melaju, “Sial!” Membuang dasi itu begitu saja, “Bagaimana bisa semua terjadi?!”


Ajudan dan sopir tak berani menjawab, mereka hanya tahu...


Mobil datang, beberapa pria berseragam mendekat dengan membawa surat izin penggeledahan.


“Kami hanya menjalankan perintah dan bos kami masih mengurus perizinannya.” Ajudan mengatakan sejujurnya.


Mr datang dengan wajah tegang dan marah-marah. “Apa Anda jadi menikah dengan nona Yuni?” Ajudan selama ini tak pernah menyinggung tentang urusan pribadi bosnya, tapi jika hanya ini jalan ke luarnya? Mau bagaimana lagi?


“Yuni? Aku tidak akan pernah menikah dengan wanita itu. Dia sangat berbeda dengan Dania dan selamanya tak akan pernah bisa menjadi Dania. Apa lagi dia sedang mengandung anak tuan Cahyo, untuk apa aku menikahi Yuni, huh?!” Mr tak habis pikir dengan pertanyaan ajudannya.


“Kalau memang begitu, kenapa tidak mengembalikan nona Yuni saja, Mr? Kita hanya punya dua pilihan, Anda menikah dengan nona Yuni atau atas pertolongan tuan Cahyo dengan jalan bekerja sama, tapi nona Yuni kembali.” Ajudan itu mengingatkan dua jalan yang dipunya.


“Kita akan menemukan jalannya. Kita akan menemukannya.” Mr punya satu senjata pamungkas dan dia sangat yakin bisa menyelesaikan permasalahan dengan itu.

__ADS_1


Cahyo... tertawa terbahak-bahak, “Kita tunggu saja.”


“Masalahnya... kenapa kamu tidak menerimanya begitu saja? Ini kesempatan besar untuk bertemu dengan Yuni, kalian akan sering bertemu, dan bisa saja semua salah paham jadi jelas.” Surya juga ingin teman hidup dengan benar.


Menggeleng, “Aku ingin Mr mengakui kekalahannya, kalau aku setuju semudah ini, Mr tetap akan meremehkanku, dan bukan itu tujuanku. Kita tunggu saja, aku yakin dia akan tetap kembali ke sini, siapa yang bisa melakukan ini dengan baik selain kita? Perizinan sangat mudah di sini, memang kita orangnya, dan Mr tak akan pergi ke tempat lain. Percayalah!” Cahyo berdiri dan berniat kembali ke ruangannya, tapi dia malah bertemu dengan Hendra saat membuka pintu, yakin kalau teman Yuni yang satu itu pasti sudah mendengar semuanya. Cahyo melangkah, Hendra mengekor, dan keduanya berakhir di atas gedung, “Kau ingin mengatakan sesuatu?” Cahyo tak ingin menunggu terlalu lama.


Hendra terkekeh, “Kamu sangat tahu kalau aku mencintai Yuni. Pertemuan luar biasa itu menarik perhatianku, apa lagi saat tahu perbuatanmu ke Yuni, aku bisa membalik seisi dunia kalau Yuni mengangguk saat itu juga.”


Cahyo tersenyum lebar, “Bukan hanya kamu, aku pun mencintainya. Aku hanya tidak bisa mengatakannya dengan benar, jadi jangan pernah mengambil kesempatan apa pun dariku, aku akan tetap menggenggamnya.”


“Sampai kapan? Kalau Mr menyakitinya juga, kamu tidak akan bisa membayangkan apa yang bisa kulakukan untuk mengambil Yuni.” Itu bukan ancaman belaka, Hendra benar-benar akan melakukannya jika Cahyo ingkar, dia masih menyayangi Yuni seperti dulu.


“Lalu istrimu? Kau akan mengambil Yuni dan membuang istrimu begitu saja?” Cahyo tak yakin dengan ucapan Hendra.


“Banyak hal yang disembunyikan dengan baik, jangan menganggap remeh orang, atau bisa saja kamu menyesal.” Hendra tersenyum, memasukkan tangan ke saku celana, dan beranjak pergi. Dia akan membiarkan Cahyo sendiri untuk memikirkan ucapannya.


Mr... baru saja sampai rumah. Terlalu sepi dan itu membuatnya heran, “Apa Yuni pergi?”


Pelayan menggeleng, “Mungkin di taman belakang, nona Yuni tadi di kamar, tapi sekarang tidak di sana.”


Mengangguk, “Aku akan membersihkan diri. Setelah ini siapkan makanan, aku mau makan, jangan mengulur waktu, panggil Yuni juga ke maja makan.” Mr terus berjalan cepat ke kamarnya.

__ADS_1


Yuni menoleh saat mendengar pintu terbuka dan tersenyum sambil berjalan mendekati Mr yang memandangnya heran. “Selamat datang, Mr. Apa aku mengejutkanmu karena menemukanku di sini?” Yuni mengusap dada Mr dan menaruh kepala di sana.


__ADS_2