
Hari berganti. Dapur dari rumah besar ini sudah harum dengan berbagai masakan untuk sarapan. Mama Cahyo yang baru selesai menata meja makan, ke kamarnya untuk membantu suaminya ganti baju. Saat suaminya tengah mengenakan dasi, segera mendekat dan mengambil alih pekerjaan itu.
“Yuni sudah bangun?” tanya papa Cahyo.
“Aku tidak tahu, Pa.”
Papa Cahyo pun menghela napas, “Jangan seperti itu. Kita tidak tahu apa yang dirasakan Yuni, dan kita sama-sama tahu kalau Cahyo sangat cuek, keterlaluan, jangan sepenuhnya menyalahkan Yuni.”
“Katakan, Pa. Apa pernah aku atau Papa selingkuh dulu? Seharusnya Yuni mencari solusi yang baik, bukan dengan cara seperti ini.”
“Hmmmm,” Papa Cahyo kalah debat kalau melawan istrinya, “begini saja, kalau memang Yuni dan Hendra punya hubungan, aku yang maju, tapi selama semua belum ada bukti, jangan memusuhinya, semua itu hanya akan memperkeruh keadaan. Harusnya kita tetap mendukung Yuni, kan? Kalau dia tidak bersalah?”
Mama Cahyo pun mengangguk, “Iya, Pa. Aku hanya kesal.” Dasi yang dipasang baru saja selesai, berniat akan ke luar dan sarapan.
“Aku turun dulu, ajak Yuni, kita sarapan bersama.” Papa Cahyo mengambil tas kerjanya, dia akan ke kantor selama Cahyo ke luar kota.
Mama Cahyo ke kamar Yuni, mengetuknya perlahan, dan hanya hening yang dia dapat. Dia pun memutar gagang pintu, hanya untuk memastikan apa Yuni sudah turun ke ruang makan, tapi kamar ini terlalu gelap, mama Cahyo pun menyalakan lampu, dan mendapati Yuni masih bersembunyi ke balik selimutnya. “Bangun, Yun ...kita sarapan dulu, kamu tidak ke toko?” tanyanya seraya mendekat.
Yuni yang menggigil kedinginan hanya bisa bergumam mendengar suara tak jelas itu.
Mama Cahyo yang melihat keadaan Yuni, segera menyentuh keningnya, “Astaga! Kamu sakit, Yun?!” panik karena kening itu sangat panas, “Mama ke bawah dulu, tunggu sebentar!” segera ke dapur untuk mengambil baskom dan sapu tangan, dia akan mengompres Yuni. Tak lupa menelepon dokter juga agar Yuni segera diobati.
Sedangkan Cahyo... semalam semua berjalan lancar. Dia dan Surya pulang setelah sarapan bersama dengan koleganya. “Kamu sama Ratih kapan nikah?” tanya Cahyo.
__ADS_1
Surya menggeleng, “Dia masih mau mengejar impiannya, aku sudah bilang gajiku besar, tapi dia tidak mau, katanya masih ingin keliling dunia. Jadi nunggu Ratih siap dulu.”
“Kamu percaya? Bagaimana kalau ternyata Ratih punya pacar lain? Lebih muda dan lebih keren dari kita yang berumur ini? Hahahaha.” Cahyo menertawakan ucapannya sendiri.
“Kau memang gila! Tentu saja itu tidak akan terjadi. Aku kenal siapa Ratih, dan bisa saja semua perempuan itu sama, kalau ada yang salah dengan hubungan yang kita jalani, pasti saat bertemu dengan kita, sikap mereka juga berubah, tapi tidak dengan Ratih, jadi artinya aman. Kau sendiri, bagaimana dengan Yuni? Jangan hanya memikirkan Nana saja, Nana itu tidak baik.” Surya sangat tahu siapa Nana, hanya saja malah ikut campur.
Cahyo terkekeh, “Apa kamu pikir aku juga tidak sedang bingung? Aku dan Nana tidak sebentar, kami melewati semua bersama-sama. Ini tidak mudah.”
“Apa Yuni kurang cantik?” tanya Surya.
“Dia cantik, hanya saja dia terlalu kecil, tidak gaul, dan dandanannya biasa. Dia tidak bisa berpakaian seksi seperti Nana, dan itu membuatku tidak berselera, bukankah itu lucu?” Hendra tertawa kembali.
“Kurasa otakmu yang salah, coba pikir dari sisi Yuni, andai kamu yang jadi Yuni apa yang akan kamu lakukan kalau punya suami sepertimu, kalau kamu memang ingin yang terbaik, kamu akan menemukan jawabannya.” Semua keputusan ada di tangan Cahyo, Surya tak mau terlalu ikut campur.
“Mandilah dulu. Kamu dari perjalanan jauh. Yuni sakit, jangan karena kamu yang membawa debu dari luar, Yuni malah semakin parah nanti.” Ucap mama Cahyo sambil berdiri dan ke luar kamar.
Cahyo mengindahkan ucapan mamanya. Tak menyentuh Yuni, dia segera mandi, baru setelahnya mendekat dan melihat Yuni yang tidur dengan kompres di kening. Tak bicara apa pun, Cahyo malah ke luar mencari mamanya, “Ma, aku lapar.” Ucapnya dan segera ke ruang makan.
Mama Cahyo yang mengambilkan makan untuk putranya pun berucap, “Yuni demam tadi pas Mama mau ngajak sarapan, kata dokter hanya kelelahan, kamu tambah deh anak di toko, Yuni banyak kerjaan kali.”
Cahyo mengangguk. Segera mengisi perut dan kembali ke kamar. Perjalanan juga lumayan jauh, dia hanya merebahkan diri di sisi Yuni.
Yuni merasa lebih baik. Membuka mata perlahan, terkejut saat Cahyo sedang tidur di sebelahnya, dia bangun tanpa suara. Ke kamar mandi untuk membuang seni dan kembali duduk di kursi yang ada di depan jendela. Di luar sudah sangat panas. Yuni enggan turun, dia bingung akan mengatakan apa kalau Cahyo bertanya padanya nanti.
__ADS_1
Cahyo menggeliat, ruang di sebelahnya kosong, terbukti dengan tangan yang tak menyentuh apa-apa. Dia melihat Yuni diam di kursi, dia pun berucap dengan malas, “Sudah sembuh, Yun? Buatkan aku minum, mulutku pahit.” Pintanya sambil menggeliat kembali.
Yuni menoleh sambil tersenyum, “Iya, Mas. Aku buatkan.” Yuni berjalan pelan, meski agak pusing, dia akan bersikap baik di depan Cahyo. Saat bertemu mama Cahyo di ruang makan, terlihat sedang mengupas buah, Yuni hanya tersenyum dan mengangguk saja sebagai sapaan.
“Kamu kemarin tidak makan, apa kamu ingin sakit seperti itu?” tanya mama Cahyo.
“Tidak, Ma. Yuni lelah jadi semalam ketiduran.” jawab Yuni.
“Kalau gitu makan, Cahyo tadi juga makan pulang kerja, Mama memang kesal denganmu, tapi jangan membuat Mama kawatir, Mama gak suka lihat kamu sakit. Cepat sembuh, nanti Mama ajak kamu ke panti, maafkan Mama.”
Yuni menoleh, melihat mama Cahyo tersenyum membuatnya tersenyum juga. Yuni pun mendekat dan memeluk mertuanya itu, “Jangan marah lagi, Ma. Yuni suka lihat Mama yang seperti ini.”
“Iya, Sayang.” Diusapnya punggung menantunya itu.
Yuni pun membuat minuman untuk Cahyo dengan cepat, mengantarnya ke kamar, dan kembali ke dapur untuk makan. Sekarang semua terlihat menggoda. Dia makan di sebelah mama Cahyo yang juga menikmati buah kupas.
Di tengah kesadaran, Cahyo mencium kopi yang menyegarkan, dia pun bangun dengan malas, tapi tak menemukan Yuni di kamar. “Yun? Yun?! Yuni!!” teriaknya sekuat tenaga.
Yuni baru saja selesai makan. Mendengar teriakan itu segera kembali ke kamar, “Iya, Mas? Aku baru makan tadi.” Jawabnya setengah ngos-ngosan karena ke kamar dengan berlari tadi.
Cahyo turun dari ranjang, berkacak pinggang di depan Yuni, “Makan? Kamu tadi sakit lemas dan sekarang baru makan? Apa semua lemasmu tadi hanya sandiwara?!” ucap Cahyo bernada setengah tinggi.
Yuni menggeleng, dia menunduk untuk menghindari tatapan Cahyo, dan itu cukup untuk membuatnya takut.
__ADS_1
“Kamu tahu aku baru pulang kerja, kan? Apa menurutmu semua sandiwaramu ini seru untuk kutonton, huh?!” Cahyo maju selangkah lagi, tangannya mencengkeram lengan Yuni karena semakin geram, “Kamu hanya bisa menggeleng dengan mulutmu yang mulai bisu?! Sikapmu yang seperti ini membuatmu muak, Yuni!” bentaknya semakin keras. Antah apa yang membuatnya marah melihat Yuni, padahal dia sangat merindukan Yuni tadi selama di perjalanan dan juga sejak semalam, tapi nyatanya Yuni yang seperti ini malah membuatnya ingin meluapkan amarahnya. Cahyo yang kesal, menghempas Yuni, membuat tubuh itu terduduk di lantai, “Menangislah sekuatmu, Yun. Aku pergi dulu.” Cahyo mengambil kunci mobil dan dompet, lalu pergi dari kamarnya sendiri. Mungkin mencari Nana adalah pilihan terbaik untuknya.