
“Hoek! Hoek!” Di sinilah Cahyo dan Yuni sekarang. Di pelataran parkir dengan dipandangi banyak orang setelah klien dari Singapura tadi memberinya izin untuk pulang lebih dulu.
“Astaga, Yun... Yun.” Cahyo bingung. Dia tahu kala Yuni tak pernah minum dan sekarang melihatnya terus muntah membuatnya semakin kasihan saja.
Yuni tertawa, “Kenapa, Mas? Di depanku banyak bintang. Sepertinya aku di luar angkasa—hoek!” Yuni merasakan perutnya begitu melilit.
“Bintang apa, Yun? Bintang kejora? Bintang kecil? Ayo pulang!” Sudah tak ada yang ke luar dari mulut Yuni, Cahyo pun merangkul Yuni, mengajaknya masuk mobil dan pulang. Biar Yuni tak jadi tontonan banyak orang di sini.
“Bintang-bintang, Mas. Mereka terbang ke sana dan ke sini. Sepertinya mereka ingin aku terbang bersamanya.” Yuni tertawa, “Apa aku sedang terbang sekarang? Ciuuuuu... ciuuuuu... winggggg ....” Yuni membuka ke dua tangan, bergaya seperti pesawat meski ruang geraknya sangat terbatas.
Sopir yang mengemudi, terkekeh, meski begitu dia menahan agar tuannya tak tersinggung.
“Terserah kau saja, Yun. Bintang terbang, bintang kecil, yang penting kita pulang. Cepat, Pak.” Cahyo pusing melihat Yuni. Sesampainya di rumah, disertai dengan banyaknya cerita konyol dari Yuni, Cahyo tetap merangkul Yuni ke kamar. Dengan sengaja mengunci kamarnya agar tak ada yang masuk, dia membiarkan Yuni kembali bercerita sedangkan dirinya sendiri merebahkan diri di ranjang.
Yuni tertawa. Tertawa hingga puas dan diam setelahnya. Dia mengingat sesuatu dan tak lama setelahnya dia menangis meski tanpa suara.
“Kenapa? Kau sudah bosan bercerita?” Cahyo menopang kepala dengan tangannya.
Yuni menggeleng, “Kau kenal dengan pria bernama Cahyo?”
“Tidak. Memangnya kenapa dengannya?” Cahyo terkekeh, Yuni benar-benar mabuk malam ini.
“Dia sangat jahat.”
__ADS_1
“Oiya?!” Cahyo membuang napas kasar, “Sejahat apa?”
Yuni mengusap pipinya kasar, “Dia tidak tahu kalau aku menyukainya, tapi dia marah-marah terus. Aku sangat ingin memukul kepalanya agar hilang ingatan.” Yuni mengepalkan ke dua tangannya.
Cahyo terkekeh, “Dengan apa? Dengan tanganmu yang kecil itu? Cahyo sangat besar, dia lebih besar darimu, hanya dengan tinjumu yang kecil, apa dia bisa hilang ingatan?” Cahyo semakin terkekeh saja.
Yuni segera menari kerah kemeja pria di depannya, “Kalau begitu kamu harus membantuku. Tanganmu besar, kau pasti kuat, kau harus memukul Cahyo untukku. Dia sangat jahat.” Yuni memeluk, dia kesal dan marah bercampur menjadi satu.
Cahyo kembali tertawa, “Aku tidak mau membantumu. Aku sibuk. Aku punya pacar, kau harusnya cari pacar juga, jadi dia mau membantumu.” Cahyo ingin menggoda Yuni.
“Baiklah. Aku akan mencari pacar besok pagi.” Yuni segera merebahkan diri. Dia menatap langit-langit kamar, mengerjapkan matanya beberapa kali, “Aku baru tahu kalau ada kentaki bisa terbang.”
Cahyo kembali tertawa, “Apa kau lapar?”
“Gudang? Ini kamarku. Jangan ke mana-mana, aku akan mencarikan makanan untukmu.” Cahyo segera bangun, ke dapur untuk mencari makanan, dan ke atas kembali. Dia mengunci kamarnya tadi, semua dilakukan agar Yuni tak kabur, “Ini ...” Cahyo melongo lalu terkekeh, “dia malah tidur.” Cahyo meletakkan nampan di meja. Ikut naik ranjang, tubuhnya juga lelah, Cahyo pun menyusul Yuni ke pulau mimpi.
***
Hari ini Yuni bangun lebih pagi. Dia kelaparan, “Kenapa ada makanan dingin di sini?” Yuni lebih dulu ke kamar mandi sebelum membawa makanan dingin itu ke dapur. Ada banyak roti di dapur, Yuni mengganjal perutnya lebih dulu, baru setelahnya duduk di depan TV. Entah, hari ini dia sangat malas melakukan apa pun.
Cahyo memiringkan tubuhnya setelah lelah tengkurap dan tangannya tak menemukan apa pun di sana. Dengan segera membuka mata, “Yun?!” Tak ada jawaban. Cahyo refleks bangun, mencari Yuni ke kamar mandi, ditambah dengan balkon yang terbuka, Cahyo semakin ketakutan, “Yun?!” Cahyo pun panik. Dia berlari ke bawah, “Yun!!” Takut jika sampai terjadi sesuatu dengan Yuni selama dia tidur.
“Ada apa, Mas?!” Yuni agar berteriak karena Cahyo terdengar cukup jauh.
__ADS_1
Suara itu dari dalam, Cahyo baru saja sampai di halaman samping segera masuk kembali, menemukan Yuni di depan TV, dia pun membuang napas kasar dan duduk di sana. “Kenapa di sini? Kau meninggalkanku.” Cahyo sengaja menindih setengah tubuh Yuni.
Yuni terkekeh, “Memangnya kenapa, Mas? Aku lapar, jadi aku cari roti di dapur, mau kembali ke kamar juga hari ini minggu, kamu tidak ke kantor, kan?” Yuni menggigit lagi rotinya.
Lagi-lagi Cahyo membuang napas kasar, “Ambilkan ponselku, Yun.” Cahyo malas ke kamarnya. Mencari Yuni sambil berteriak lumayan lelah juga.
Tak menjawab, Yuni hanya menaruh roti yang tinggal sedikit itu, dan ke atas untuk mengambilkan ponsel Cahyo. “Ini.” Yuni kembali mengambil sisa rotinya.
Meski masih jam lima pagi, Cahyo sudah menelepon seseorang, dia suka membuat keributan. “Bangun pemalas.” Cahyo terkekeh saat mendengar umpatan dari seberang sana. “Ya, aku memang gila. Jangan lupa nanti jam delapan, aku tidak mau kita kesiangan, tempat itu cukup jauh, kan?” Cahyo diam, mendengar jawaban dari seberang sana, dan tertawa setelahnya, “Kau yang gila. Cepat atau aku akan menyeretmu. Hahahaha.” Cahyo segera memutus sambungan telepon itu dan menoleh ke Yuni.
Yuni meringis, “Kamu sibuk di hari minggu?”
“Bukan aku, tapi kita. Cepat mandi. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.” Cahyo mendorong Yuni agar cepat bergerak.
Yuni tak berani membantah, dia segera mandi dan jadi bingung saat akan memakai baju. “Akan ke mana memangnya? Apa pagi-pagi begini harus memakai gaun?” Yuni beberapa kali mengeluarkan baju formal dan non formal.
Cahyo masuk, dia melihat Yuni masih memakai handuk dengan rambut yang basah, “Kau akan pergi dengan busana seperti itu?” Cahyo mendekat untuk mengambil handuk di sebelah Yuni.
Yuni meringis, “Tidak, Mas. Aku hanya bingung harus memakai baju seperti apa.” Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Pakai apa pun yang kamu suka, Yun. Apa lagi yang membuat dirimu nyaman. Santai saja. Aku akan mengajakmu ke pantai.” Cahyo berlalu dan masuk kamar mandi.
“Pantai?” Ulang Yuni lirih, dia tersenyum sendiri, dia sangat suka dengan pantai dan Cahyo akan mengajaknya ke sana. Tak butuh waktu lama, Yuni pun segera menemukan baju apa yang akan membuatnya nyaman, tak lupa dia juga mencarikan pakaian untuk Cahyo, lalu berias tipis. Merasa semua cukup, Yuni pun melangkah riang ke dapur, sudah lama dia ingin piknik ke pantai, dan hari ini dia akan mengejutkan Cahyo dengan barang bawaannya. Yuni menata semua dengan rapi, memastikan tak ada yang tertinggal, dan tersenyum lebar saat Cahyo turun dengan mengenakan baju pilihannya tadi.
__ADS_1