Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Sapu tangan ini


__ADS_3

Ha ha ha. Mungkin tawa itu terdengar aneh, tetapi Mr memang melakukannya, “Setelah tadi kau mengajariku kehilangan, tiba-tiba saja kau membahas pembebasan lahan. Katakan, siapa kamu sebenarnya? Ada yang mengirimmu ke sini?” Bagaimana bisa Mr kecolongan? Bahkan selama ini dia sangat berhati-hati.


 


Budi ikut tertawa juga, “Aku sudah mengawal banyak orang, Mr. Anak pejabat, pacar orang, istri ke dua, atau bahkan turis dengan beberapa pekerjaan gelap. Apa-“


 


“Seru sekali, sedang membicarakan apa?” Yuni duduk dibantu Sri, membiarkan saat Sri mengambilkannya makanan juga, dia tak pernah meragukan semua pelayanan di sini.


 


“Mr bilang kita harus sering keluar, dia ingin kamu tidak stres, demi bayimu. Bukan begitu, Mr?” Budi menoleh sambil memamerkan senyumannya.


 


“Ya, Budi benar. Aku sangat sibuk, jadi Budi yang akan mengantarmu ke mana pun.” Tak mengira kalau Budi memang pandai membuatnya tak berdaya. Tujuannya sebentar lagi tercapai, jangan sampai dia tak bisa menahan emosi karena Budi, bisa hancur semuanya.


 


Yuni pun tersenyum lebar, “Terima kasih, aku tidak sabar bertemu seseorang.” Segera sarapan dan bersiap pergi.


 


Mr terkekeh setelah Yuni meninggalkan ruang makan, “Aku yang membayarmu jika kau lupa.” Membersihkan mulutnya dan berdiri.


 


Budi tak berniat menjawab, hanya membalas dengan senyum, dan menghabiskan makanannya begitu saja. Setelahnya dia ke garasi untuk memilih mobil dan mengajak Yuni ke luar. Budi tidak menyangka akan ke rumah sakit, dia pikir Yuni akan menemui Ratih tadi, “Kau sering ke sini? Bukankah lebih baik menyuruh dokter itu ke vila? Lebih aman dan hemat waktu. Apa uang Mr tidak cukup?” Budi berjalan di samping Yuni, meski begitu dia tetap menjaga jarak agar Yuni tak gerah, memastikan kehadirannya yang mengganggu.


 

__ADS_1


Yuni menggeleng, “Memang sangat nyaman berada di vila seindah itu, tapi aku butuh udara segar, dan ke sini adalah pilihan baik. Setelah ini aku bisa jalan-jalan, mencari angin, dan makanan enak. Aku juga bertemu banyak orang dan itu menyenangkan. Kau sudah menikah? Sudah punya anak?” Yuni duduk di koridor menunggu namanya dipanggil. Antrean tak terlalu lama, kurang dua orang saja, dan Yuni tak keberatan meski selalu membayar mahal untuk perawatannya.


 


Budi mengangguk, “Ya, istriku sedang hamil, itu anak pertama, mungkin dua atau tiga bulan lagi dia melahirkan, aku akan cuti nanti. Kau tidak keberatan?”


 


“Tentu saja tidak. Anakku juga lahir sebentar lagi, aku tidak membutuhkan sopir karena selalu di vila, seharusnya kau di rumah untuk menemaninya, Budi.” Yuni mengusap perutnya, tak bisa membayangkan seorang wanita ditinggal sendirian di rumah dalam keadaan hamil besar, bagaimana jika tiba-tiba waktunya datang lebih awal?


 


Baru saja akan menjawab, nama Yuni sudah dipanggil, dan Budi tersenyum sambil membantu Yuni berdiri. Dia memang tak ikut masuk, hanya mengintip di kaca kecil yang terpasang di pintu, “Kalau aku di rumah bagaimana caraku menemanimu? Aku sedang menjagamu saat ini.” Dilihatnya Yuni tersenyum saat bertemu dengan gambar bergerak di monitor, Budi tak kuasa, seolah sesak, tetapi dia sadar akan keberadaannya saat ini.


 


Setelah memeriksakan kehamilan, Yuni ingin bertemu Ratih, dan jalan yang diambil Budi sangat asing. “Apa kau yakin kita lewar sini? Kau bisa melihat google maps jika bingung.” Kawatir tak sampai rumah Ratih.


 


 


Yuni mengerutkan keningnya, dia tak mengerti dengan apa yang dilakukan Budi, hanya masih yakin kalau Budi tak mungkin kurang ajar padanya. “Kenapa kau mengajakku ke sini?” Segera duduk di bangku panjang di bawah pohon Cermai.


 


Budi tersenyum, “Sebenarnya aku ingin membicarakan sesuatu, kalau di vila rasanya tidak nyaman, jadi aku ingin membicarakannya sini.” Wajah Yuni terlihat bingung, “Ada yang menyuruhku bekerja ikut Mr, jujur saja aku tidak suka dengan klien dari luar negeri, tapi melihat apa yang terjadi denganmu, aku mengambilnya.” Budi mengambil sesuatu dari kantong celana, “Dia menitipkan ini untukmu.” Mengulurkan sebuah sapu tangan ke Yuni.


 


Segera menerimanya, “Siapa? Aku yakin kalau aku pasti mengenalnya, katakan siapa namanya, aku bisa saja melaporkanmu ke Mr atas tindakan pengkhianatan, Budi.” Yuni hanya tak ingin keberadaan Budi membuat anaknya terancam.

__ADS_1


 


“Kau pasti tahu siapa dia.” Budi berdiri, “Aku sudah selesai, kita ke rumah temanmu sekarang?” Mengulurkan tangan untuk membantu Yuni berdiri.


 


Yuni menelan ludah, dia menerima juga tangan Budi, kembali masuk mobil, dan membiarkan Budi menyetir tanpa ada suara yang mengganggu. Sapu tangan itu masih di genggam, untuk apa orang asing itu memberinya benda seperti ini? Bukankah semua orang sudah menggunakan tisu sekarang? Sesampainya di rumah Ratih, Yuni turun begitu saja, dia meninggalkan Budi, dan saat menoleh, tatapan itu menimbulkan banyak tanya di benak Yuni.


 


Ponsel di saku Budi berdering, dia pun segera mengangkatnya, “Apa? Urus saja yang itu, seperti apa yang kita rencanakan dari awal, aku yakin dia tidak akan tahu. Ya ... biarkan sisanya jadi milikku.” Budi terkekeh sambil menyimpan ponselnya kembali. Dia berbalik, ingin menyusul Yuni, dan apa yang ada di depannya sangat mengejutkan.


 


Yuni tersenyum, “Sisanya jadi milikmu?” Tersenyum lebih lebar lagi, “Kalau kau menganggap aku wanita lemah, kamu salah, Budi. Meski aku hamil besar seperti ini, kalau kamu berusaha menyakiti atau bahkan mengusikku, aku tidak akan segan-segan mengotori tanganku sendiri.”


 


“Nyonya Yuni, ini—“ Budi mengurungkan niatnya untuk bicara karena Yuni sudah menginterupsinya agar diam dengan jari telunjuk yang mengacung.


 


“Harusnya dari awal aku menyadarkanmu kalau kita hanya pengawal dan terkawal, jangan bermain-main denganku atau kau akan menyesal.” Yuni segera berbalik dan masuk lebih dulu. Dia memang ingin mengajak Budi masuk karena di luar panas, tapi apa yang didengar seolah menyadarkannya agar tetap berhati-hati.


 


Sesampainya di dalam, Ratih masuk mengupas buah untuknya, Yuni pun jadi teringat sesuatu. Diambilnya tas yang dibawa tadi dan diambil sapu tangan pemberian Budi. Jika ada bius di dalamnya, di sini cukup aman untuk pingsan, dan karena itulah Yuni membuka sapu tangan itu perlahan. Tak ada yang spesial. Nama, gambar, motif, bahkan tak ada goresan apa pun di sana. Hanya warna coklat yang polos.


 


Ratih datang dengan semangkuk besar buah dan bumbu rujak, “Apa itu? Kau membutuhkan tisu?” Meletakkan begitu saja yang dibawa di meja dan ke dapur lagi untuk mengambil tisu, “Ini baru, lebih lembut dari biasanya, tidak terlalu wangi. Aku yakin kamu menyukainya. Aku akan memberitahumu belinya di mana.”

__ADS_1


 


Mendengar ocehan Ratih, Yuni pun refleks menghirup sapu tangan yang dipegangnya, “Ini ....”


__ADS_2