Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Tak rela


__ADS_3

Cahyo menggeleng, “Apa yang membuat Papa lebih memilih wanita sialan itu dari pada putramu sendiri, huh?” Masih menggeleng, “Papa dan mama selama ini mungkin saja setia, Papa tidak pernah tahu bagaimana rasa sakitnya dikhianati, dan karena itu Papa dengan mudah membela Yuni.”


Papa Cahyo terkekeh, “Bukan perkara setia atau tidak, nyatanya kamu dan Nana juga melakukan hal yang sama, apa yang mengharuskanmu untuk membela?” Membuka ke dua tangan sambil mengangkat bahu. “Pilihanmu, menikah dengan Nana, jadi kalau pilihan Yuni menceraikanmu, kenapa tidak? Dari pada dia mati di rumah ini?”


“Mati? Siapa yang akan membunuhnya, Pa? Aku hanya memberinya pelajaran agar tak kurang ajar.” Cahyo tak paham dengan pemikiran papanya.


“Memangnya apa yang dilakukan Yuni sampai kau memberinya pelajaran seperti itu?” tanya papa Cahyo.


“Dia bilang ke luar dengan Ratih dan nyatanya pergi dengan Hendra, sedangkan Hendra, berbohong sedang ada rapat dengan Anton, nyatanya malah berduaan dengan Yuni di mall. Bayangkan, hanya sehari mereka ketahuan, bagaimana dengan kemarin, kemarin, dan kemarinnya lagi, Pa? Mereka bisa saja menginap di hotel selama aku sibuk membanting tulang di kantor dan Papa masih bisa membela Yuni?!” Cahyo benar-benar tak habis pikir.


Di luar dugaan, papa Cahyo malah terkekeh, “Aku baru sadar kalau putraku ini ternyata gila. Banyak yang tidak kau tahu, dan alasannya hanya satu, semua tertutup oleh kebusukan Nana. Pernahkah kamu mencari tahu satu hal pun mengenai Yuni? Bagaimana dia, keadaannya, kebutuhannya? Apa kamu pernah peduli padanya? Kalau aku yang jadi Yuni, aku bahkan membunuhmu karena Nana ke sini dengan perutnya yang berisi anakmu, tapi lihat Yuni! Dia hanya diam dan berharap kamu masih memilihnya, yang dia dapatkan? Hanya siksaan dan menunggu kematian karena terus ada di sampingmu.” Seharusnya semua ucapan itu mudah dimengerti oleh Cahyo, tapi kalau kebodohan Cahyo sudah mendasar, angkat tangan saja.


“Hahahahaha.” Cahyo tertawa, berdiri, dia belum puas membalas dendam, dia ingin melampiaskan sebelum amarahnya di ubun-ubun. “Lepas, Pa.” Pintanya saat tangannya masih saja ditahan oleh papanya.


“Yuni dan Hendra bertemu karena aku yang menyuruhnya, Yuni sudah kuanggap sebagai anakku sendiri, dan aku ingin dia bisa menyaingimu melalui Hendra.” Papa Cahyo terpaksa mengatakan itu, dia tetap tak ingin Cahyo tahu kalau Yuni belajar mengemudi, banyak hal yang perlu dibuktikan.


“Ada aku, Pa. Kenapa harus Hendra? Ada Surya.” Cahyo tak menyangka kalau papanya malah di balik semua kejadian ini. “Aku tidak menyangka kalau semua orang akan memihak Yuni dan melupakan aku begitu saja.”

__ADS_1


“Siapkan saja dirimu, aku akan mengurus perceraian itu besok, jadi jangan membuat masalah ini semakin besar.” Papa Cahyo pun pergi dari kamar Cahyo.


Cahyo tak mau, dia tak ingin kehilangan Yuni, dia tak akan rela, bagaimana dengan kebiasaannya setelah ini? Dia tak mau Yuni pergi, apa lagi sampai dirinya tinggal sendirian, Cahyo tak akan rela. Tahu kalau tak mungkin menghentikan papanya, Cahyo segera berlari, dia ingin sampai lebih dulu di depan Yuni, dan meminta maaf.


Melihat putranya melewatinya, papa Cahyo segera menarik pakaian Cahyo, ‘Bruaakk!’ Membuat putranya sendiri terjerembap hingga menabrak rak berisi hiasan di belakangnya roboh dan isinya berserakan ke lantai.


"Papa!" Cahyo sedang tak butuh dihentikan sekarang.


“Jangan pernah menyentuh Yuni lagi. Aku bisa mematahkan tanganmu meski kau anak kandungku sekali pun.” Itu adalah peringatan terakhir untuk Cahyo. Ucapan papa Cahyo kali ini tak main-main.


“Ada apa, Pa?!” Mama Cahyo yang panik setelah mendengar suara keras tadi, naik lagi, dan melihat ruangan yang begitu kacau, dia mempertanyakan ke suaminya.


“Baik, Tuan.” Semua pekerja menjawab serentak. Segera menarik tangan tuan mudanya ke kamar, meminta maaf atas kelancangan, dan tetap menjaga pintu kamar yang kini didobrak dari dalam itu.


Sedangkan papa Cahyo segera turun dan disusul juga oleh istrinya. Dia duduk di sebelah Yuni, memeluk menantu kesayangannya itu, “Papa akan mengantarmu ke toko bunga sekarang.”


Yuni mengangguk, segera menyeka air matanya, dan berjalan sambil merangkul mama Cahyo. Jalan menuju toko bunga begitu berbeda, ada yang tertinggal di dalam sana, Yuni tak rela, tapi dia tetap harus pergi juga. Dia menoleh, mama mertuanya terus saja menyeka air mata, sedangkan papa mertuanya diam menatap jalan di depan, bahkan sopir pun juga tak berani menanyakan sesuatu, dan setelah sampai Yuni segera memeluk mama mertuanya.

__ADS_1


Mama Cahyo menciumi Yuni beberapa kali, “Jangan takut, Sayang. Semua akan cepat berlalu, meski mungkin mama dan papa jauh, kami akan cepat datang kalau kamu membutuhkan mama. Mama mohon jangan cerita apa pun dulu ke orang tuamu, ya? Mama... malu sudah jadi mertua yang gagal untuk kamu. Setidaknya setelah semua memar ini hilang. Kabulkan permintaan mama, ya, Sayang?”


Yuni pun mengangguk, “Iya, Ma. Yuni gak akan ke mana-mana dulu, rasanya sangat lelah, Ma.”


“Terima kasih, Sayang. Mama akan ke sini lagi besok, kamu jangan kawatir, ya?” Setelah mendapatkan anggukan dari Yuni, mama Cahyo pun mengurai pelukan itu, mengantar Yuni turun, hingga masuk ke kamar istirahat di belakang.


Papa Cahyo memerintah semua karyawan toko agar berkumpul, “Kalau Cahyo ke sini, usir! Jika aku tahu di antara kalian ada yang mengizinkan Cahyo masuk karena takut dengannya, aku akan memecat kalian saat itu juga karena sekarang aku bosnya, paham?!”


“Iya, Tuan!” Jawab semua serentak.


Papa Cahyo segera berbalik dan menyusul istrinya ke kamar Yuni. Duduk diam menunggu dua wanita berhenti menangis dan menghela napas panjang, berharap sesak di dada segera berkurang.


Mama Cahyo mengusap lengan Yuni pelan, berharap tak menyakiti menantunya, “Mama pulang, ya, Sayang? Kalau ada apa-apa cepat telepon mama.”


Yuni mengangguk, “Mama, hati-hati, ya? Mas Cahyo kalau marah—“


“Jangan memikirkan dia, Yun. Mama bisa menangani Cahyo lebih baik dari yang kamu kira. Mama pulang, Sayang.” Memeluk menantunya sekali lagi dan mengajak suaminya pulang.

__ADS_1


Yuni menelan ludah, ada yang masih mengganjal hati, dan dia pun tak kuasa menahannya lebih lama lagi. “Ma.” Setelah mama dan papa mertuanya menoleh, Yuni pun tersenyum, “Apa Mama tetap akan mengurus perceraian itu?”


__ADS_2