
Yuni sibuk di toko bunga dan saat itu pula ada panggilan telepon masuk dari Ratih, “Ya, kamu sudah berangkat? Aku masih di toko.” Tangannya sibuk menata buket bunga mawar ungu pesanan pembeli spesial.
Ratih pun menjawab, “Aku sudah jalan ke pantai, apa aku perlu menjemputmu? Kita bisa berangkat bersama dan mengejutkan Hendra.” Tertawa, dia ingin membuat temannya yang satu itu jengkel padanya.
“Tidak, Rat. Aku bawa mobil sendiri saja, ada yang harus kulakukan nanti sepulang dari pantai, aku siap-siap dulu dan segera berangkat setelah ini, ya?” Yuni tersenyum saat Ratih mematikan sambungan telepon itu. Segera menyelesaikan buket bunganya dan berangkat ke pantai saat itu juga. Di pantai dia langsung melihat Ratih yang bercanda dengan Hendra, Yuni pun bergabung, tetap tersenyum meski Hendra memandangnya berbeda.
Ratih tertawa, “Kalau dipikir, dulu Hendra tak sehebat ini, ya? Dia pemalas dan beberapa kali tidak lulus ujian skripsi.” Tertawa kembali setelah puas mengejek Hendra.
Ikut tertawa juga, “Aku dulu tidak terlalu memikirkan uang, yang terpenting bisa eksis dan punya banyak teman, tapi setelah ada anak panti yang sakit, kupikir uang memang nomor satu.” Hendra menoleh ke Yuni sesekali.
“Oiya, pernikahanmu besok, siapa yang jadi pengiringnya? Hendra kan kosong, jadikan dia berguna biar cepat nikah.” Yuni sengaja mengatakan hal itu agar Hendra membencinya.
“Aku akan membawa pacarku besok, jadi aku tidak bisa mengiringi pernikahanmu.” Hendra mengambil soda dan meminumnya.
“Pacar?” tanya Ratih.
“Pacar?!” Suara Yuni malah lebih keras dari Ratih.
Hendra mengangguk, “Kupikir mengejar Yuni akan sangat melelahkan, jadi kuputuskan mengejar wanita yang bisa menerimaku, percuma kan menggantung perasaan?”
Yuni menoleh ke Ratih, baru setelahnya ke duanya tertawa bersamaan, “Cepat kenalkan padaku, oke?” Yuni senang mendengar keputusan Hendra ini.
“Aku yakin dia sangat cantik, buktinya kamu sampai jatuh cinta, kalau tidak mana mau pria gila sepertimu mendekati wanita selain Yuni?” Ratih terkekeh.
__ADS_1
Yuni ingin menyela, tapi ponselnya berdering dan itu telepon dari Cahyo, dia pun mengangkatnya dengan menjauh agar tak berisik oleh candaan Ratih dan Hendra.
Ratih melirik Yuni dan dia mendekati Hendra setelah Yuni ke luar dari penginapan Hendra, “Apa wanita itu benar-benar ada? Kamu sedang tak membohongiku dan Yuni, kan?”
Hendra terkekeh, “Tentu saja tidak. Yuni sudah punya suami, meski suaminya gila, Yuni tak akan mungkin mau lari bersamaku. Lebih baik aku berhenti.” Meski sakit dan perih, Hendra akan mengalah dan mencari wanita lain setelah ini, dan dia berharap bisa segera melupakan Yuni.
Ratih mengangguk, “Aku senang mendengarnya.” Saat Yuni mendekat lagi, Ratih pun tersenyum, “Ayo ke pantai! Aku membawa alat pancing tadi.” Berdiri, dia ingin menghabiskan banyak waktu di sini.
Hendra pun berdiri juga, “Kamu bisa mancing? Bagaimana jika kita mengajak Anton? Dia juga suka memancing.”
Yuni mengangguk setuju, sepertinya semakin rame semakin seru, dia pun mengekor Hendra menuju penginapan Anton, dan ke empatnya pun berangkat ke tepi pantai bersamaan. Ada jembatan yang menjorok ke tengah, meski setengah jadi, gazebo di ujung cukup nyaman untuk istirahat, “Kita mancing saja di sini.”
Ratih mengangguk, “Kamu bisa mancing? Mau berlomba denganku? Aku sangat pandai menarik ikan yang besar dari laut.”
Sedangkan Yuni dan Hendra tetap di gazebo. Yuni menoleh ke Hendra, “Apa yang kamu katakan tadi benar? Aku ingin kenal wanita yang beruntung itu, Hen.”
Hendra tertawa, “Aku akan mengenalkannya padamu, tapi berjanjilah, jangan mau kalau disiksa Cahyo lagi, atau aku akan membunuh suami gilamu itu.”
Yuni malah tertawa, “Dia tidak gila, Hen. Mas Cahyo hanya terlalu mencintaiku.”
“Ck! Itu bukan cinta, Yun. Jangan menutup mata hatimu.” Hendra membuang muka, memilih memandangi laut lepas dari pada patah hati. Yuni tak pernah mendengar ucapannya, padahal Hendra sangat yakin akan kebenarannya, cinta memang sebuta itu.
“Akh! Yuni!”
__ADS_1
Mendengar teriakan Ratih, Yuni pun menjadi panik, dia segera berdiri dan berniat menyusul Ratih, tapi sepatu hak tinggi membuatnya terjatuh, “Akh!”
Untung saja Hendra menyadari dengan cepat, dia segera menangkap Yuni hingga tak sampai tubuh itu menyentuh lantai jembatan yang kotor, “Hati-hati dengan langkahmu, Yun.” Memunggungi matahari dan karena itulah bayangannya menutupi wajah Yuni.
“Yuni!” Untung saja Cahyo datang tepat waktu, hingga dia tak ketinggalan adegan menjijikkan itu, dengan begitu tak akan ada lagi yang membohonginya.
Yuni segera mendorong Hendra, “Mas?!”
“Kenapa? Kamu tak suka melihatku di sini, hah?!” Cahyo mengangkat tangannya dan siap menampar Yuni, berani sekali wanita sialan itu berselingkuh di depan mata kepalanya sendiri, dan di atas proyek jembatan yang dia garap juga.
Hendra segera menarik Yuni agar berada di belakang tubuhnya dan menangkap tangan Cahyo, “Jangan pernah menyakiti Yuni lagi.” Melempar tangan kotor itu menjauh.
“Mas, ini tidak seperti yang kamu pikirkan.” Yuni sangat ingin menjelaskan ke Cahyo agar kesalah pahaman bisa dihindari.
Cahyo tertawa, “Kalian memang pasangan yang serasi.” Tahu tak ada ruang, Cahyo pun berbalik dan pergi. Biar saja Hendra membela Yuni dan dia akan mencari cara untuk menyadarkan Yuni kalau berbuatan itu salah. Cahyo merasa kemarahannya harus ditahan untuk beberapa waktu.
“Mas Cahyo! Mas Cahyo!!” Yuni ingin mengejar, tapi Hendra malah menahan tangannya agar tak pergi, begitu erat hingga dia sulit melepas.
“Buat apa, Yun?! Dia akan menghajarmu lagi dan kamu masih juga ingin mengejarnya? Buat apa?” Hendra sangat heran dengan pikiran Yuni.
“Dia tetap suamiku, Hen. Lepaskan aku.” Tangis Yuni pecah begitu saja. Meski tanpa suara, pipinya begitu basah, dan dia tetap tak mendapatkan apa yang diinginkan.
Hendra menggeleng, “Kalau Cahyo memang pria yang baik, dia akan mendengarkanmu, baru setelah itu aku rela melepasmu, Yun. Kenapa kamu tidak bisa merasakannya juga? Cahyo tidak baik, mengertilah itu, Yun.” Di bawah sana, mobil Cahyo baru saja melintas, dan barulah Hendra melepas tangan Yuni. Membiarkan cintanya pergi membawa setiap rasa yang harus rela dia tinggalkan.
__ADS_1
Yuni mengejar sekuat tenaga, tapi tetap tak juga bisa menahan Cahyo, hingga akhirnya tubuhnya limbung ke pasir pantai yang panas. Cukup bisa membakar kulitnya.