
Mr akan melahap makanannya lagi, tapi ponselnya berdering, dan dia tersenyum ke Yuni sambil mengangkat telepon itu. “Ya... sangat baik, kami makan dan menghabiskan waktu bersama... oke... oke... iya.” Menutup sambungan telepon itu dan menggigit sate miliknya.
“Hm... telepon dari siapa? Mr bilang kami makan, apa... membahas aku?” Yuni hanya menerka-nerka.
Mr tertawa, bahkan hampir tersedak juga, “Bukan, itu klienku, kami bicara tentang Anton, Anda tahu, kan? Anton sangat berpotensi, banyak yang mencarinya sekarang, aku tidak sabar melihatnya berkembang.”
Yuni jadi malu, sudah besar kepala, ternyata malah salah paham. “Mr, kalau misal aku ingin mengunjungi temanku, apa Anda mengizinkannya?” Yuni rindu dengan Ratih. Dia bisa berusaha melupakan Cahyo, tapi tidak dengan Ratih, sahabat karibnya itu.
Mr mengangguk, “Tapi aku kawatir kalau tuan Cahyo tahu Anda berkeliaran di luar, bagaimana jika aku yang mengantar Anda, Nona Yuni?”
Yuni ikut mengangguk juga, “Tidak masalah, Mr. Anda akan senang di sana, temanku sangat baik, Anda pasti menyukainya. Bagaimana jika besok?”
“Ya, setelah makan sarapan, kalau teman Anda sudah siap, kita berangkat.” Hanya satu yang Mr inginkan, menggantikan posisi Cahyo untuk menyembuhkan luka hati Yuni, dan dia yakin jalannya akan sangat mudah.
Cahyo... baru saja sampai rumah, sepi dan hening, bahkan pelayan yang kini menyambutnya tak lagi menarik hati. “Mama dan papa belum pulang?” Berjalan dengan gontai sambil meregangkan dasi menuju kamar.
“Tuan dan nyonya besar kan ke luar kota, Tuan. Untuk beberapa hari saya yang akan membantu Anda.” Pelayan yang membawakan tas kerja Cahyo menjawab dengan sopan.
Cahyo menghela napas. Rumah ini terasa bosan sekarang.
“Anda mau makan sekarang atau nanti saja, Tuan Cahyo?” tanya pelayan itu.
“Ck! Aku sedang tak berselera. Bawakan kudapan saja ke ruang kerja, setelah mandi aku akan berada di sana.” Cahyo masuk ke kamar dan mengambil handuk. Dia segera ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Ada yang hilang dan dia tak tahu harus mencarinya ke mana.
Setelah selesai, ke luar dengan handuk terlilit, tak ada apa pun di ranjangnya, “Bajuku mana, Yun?” Duduk sambil mengeringkan rabut dan membuatnya sadar kalau Yuni sudah pergi terlalu jauh. Cahyo menghela napas, “Apa dia benar-benar pergi? Ke mana? Ponselnya juga tidak aktif." Jangan pikir Cahyo tak kawatir, dia begitu memikirkan Yuni, menelepon dan mengirim pesan juga, tapi centang pesan itu tetap saja satu.
Cahyo menghela napas lagi, “Apa itu anakku? Bagaimana mungkin?” Berdiri dengan gontai dan mencari pakaian untuk dirinya sendiri, “Huh! Badanku sangat sakit, biasanya kamu mijitin aku, Yun.” Terkekeh, dia tak gila, kan? Menggeleng untuk meyakinkan diri. Yuni pasti akan pulang kalau sudah tak marah padanya.
__ADS_1
***
Hari berganti. Cahyo ke kantor seperti biasa dan saat bertemu dengan Surya di lift, Cahyo terkekeh, “Kapan hari pernikahanmu? Aku lupa.”
Surya menggeleng, “Datang saja, kau tidak akan lupa karena pernikahanmu sama dengan pernikahanmu, dan kita menyewa gedung yang sama.”
Cahyo mengangguk, “Kenapa kau memilih hari itu? Sengaja agar tak datang ke pernikahanku?"
"Tidak, aku kan pengantin baru, orang tua yang mencarikan harinya, bukan pengantin tua dan buru-buru sepertimu.” Surya terkekeh. Puas setelah mengejek Cahyo.
“Ck! Itu tidak mempan. Hahahaha.” Cahyo tak sakit hati sedikit pun.
“Tidurmu nyenyak semalam?” tanya Surya.
Cahyo menggeleng, “Hanya beberapa jam, apa wajahku terlihat kusut? Aku sudah mandi tadi.”
Cahyo meninju lengan Surya, “Pekerjaanmu kurang banyak, Sur? Aku bisa menambahnya.” Melihat Surya yang langsung menghentikan tawa, ganti dengan Cahyo yang tertawa terbahak-bahak, “Aku tidak ke mana-mana hari ini, kalau ada tamu suruh masuk saja, oke?” Meninggalkan lift lebih dulu.
Surya menggeleng, dia bisa membaca keruwetan di wajah Cahyo, tapi tak bisa menolong. Sebagai teman, tak tega rasanya, tapi Cahyo juga salah, mau bagaimana lagi?
Yuni... segera melambaikan tangan saat melihat Ratih di kejauhan. “Namanya Ratih, dia sahabatku, Mr.” Memeluk saat dekat, “Aku sangat rindu. Oiya, ini Mr, aku... tinggal dengannya di suatu tempat.”
Mr mengulurkan tangan ke Ratih, “Halo.”
Ratih menyambutnya, “Tampan sekali, Mr. Sayang aku menikah besok.” Terkekeh saat Yuni menyenggol lengannya, “Sudah kupesankan minuman dan kudapan yang sehat untuk ibu hamil, dan... kumohon datanglah besok, Yun.”
Yuni mengangguk, “Aku pasti datang, tapi aku tidak bisa banyak gerak, aku sering pingsan, Rat.”
__ADS_1
“Iya, aku tahu, kedatanganmu saja sangat berarti. Dia baik-baik saja, kan?” Ratih segera mengambil tangan Yuni dan mengusapnya.
“Baik, sangat baik, mungkin karena banyak pikiran, tapi dokter sudah memberiku vitamin terbaik, jangan kawatir.” Yuni akan banyak makan setelah ini agar tak pingsan lagi.
“Berjanjilah untuk hidup bahagia setelah ini, Yun.” Ratih tak akan bisa tersenyum kalau mendengar Yuni disiksa Cahyo lagi,
“Ya, aku janji. Hm... aku ke toilet sebentar, ya?” Yuni merasa ingin muntah, jadi dia segera ke sana.
Mr berdiri untuk mengantar Yuni, tapi tangannya ditahan oleh Ratih, dan itu membuatnya langsung menoleh heran.
“Tunggu.” Ratih tersenyum, “Duduklah sebentar, Yuni aman di sini, jadi duduklah.”
Mr tersenyum dan duduk kembali.
“Kenapa kamu mau menolong Yuni?” Sebagai sahabat yang baik, Ratih tak akan membiarkan Yuni salah pilih lagi, cukup Cahyo saja yang berengsek.
Mr terkekeh, “Aku mencintai nona Yuni.”
“Secepat itu? Bagaimana bisa? Banyak wanita yang lebih cantik, dia juga tidak kaya, dan dia mengandung anak dari pria lain. Apa yang membuatmu mencintai wanita seperti itu, Mr?” Ratih tak akan mudah percaya.
Mr malah terkekeh lebih keras, “Aku tidak menyangka kalau nona Yuni punya sahabat sebaik kamu.” Baru saja ingin menjawab, tapi Yuni sudah berjalan ke arahnya, dan itu menguntungkan untuk Mr, “Nona Yuni akan tersinggung jika dia tahu apa pertanyaanmu padaku, Nona Ratih.”
Ratih menelan ludah, bukan orang sembarangan di depannya, dan Ratih harus mencari tahu dengan atau tanpa izin dari Yuni.
Yuni tersenyum, “Kalian cepat akrab, ya? Aku senang melihatnya.”
Ratih tertawa, “Mr berjanji akan mengantarmu datang ke pernikahanku besok, bukan begitu?” Sengaja memancing jawaban pamungkas agar Yuni menghadiri acara pentingnya.
__ADS_1
Mr mengangguk, “Ya, Nona Yuni akan datang denganku besok.” Dia merasa harus hati-hati dengan Ratih.