
Cahyo terkekeh, “Apa kamu pikir aku akan takut dengan gertakanmu, Yun?”
Yuni masih menatap tajam Cahyo, “Menggertak yang bagaimana? Aku istrimu, kenapa kita melakukannya saja? Aku akan memenuhi kewajibanku.”
Cahyo merapikan rambut Yuni, wajah sinis itu malah membuatnya semakin suka, dan dia segera menarik tengkuk Yuni agar lebih mudah memagut bibir yang mulai berani menjawab ucapannya. ******* yang dia beri, Yuni malah membalasnya, saling menarik lidah dan membuat suasana ini semakin panas. Cahyo mengangkat pantat Yuni, menggendongnya, merebahkan ke ranjang sambil membuang bra dan ****** ***** itu. Kenapa baru kali ini dia tahu kalau Yuni begitu indah? Cahyo terkekeh, berdiri untuk melepas pakaiannya sendiri dan mendekat lagi ke Yuni.
Yuni memalingkan wajah, memejamkan mata, nyatanya dia masih punya malu untuk melihat Cahyo dalam keadaan seperti itu.
Cahyo terkekeh, mengangkang di atas Yuni, menunjukkan miliknya dengan bangga, dan menarik dagu Yuni agar melihatnya. “Aku ingin kewajiban yang lebih, Yun. Kurasa kamu sudah cukup dewasa sekarang.” Cahyo tersenyum, hasratnya sangat tinggi, situasi ini berbeda dengan kemarin malam.
Yuni membuka mulutnya, meski tak butuh guru agar dia tahu, pengalaman akan mengajarinya sendiri, kan? Mulai mengulum milik Cahyo meski beberapa kali tersedak karena terlalu panjang dan kembali memejamkan mata saat Cahyo menghujam lagi miliknya yang masih belum terbiasa setelah dia berhasil membangunkan apa yang masih tertidur tadi.
Mama Cahyo baru saja mendiskusikan apa yang dia bicarakan dengan Yuni tadi dengan suaminya, dia mendapatkan jawaban yang sepertinya sangat tepat, dan karena itu pula dia ke kamar Yuni untuk memberitahukan jawaban yang dipunyainya setelah diskusi tadi. Baru saja akan mengetuk pintu itu, tapi sepertinya dia salah, memilih untuk diam sambil tersenyum di depan kamar Yuni.
“Ough, ah, ahhh, ahhh, oughhhh, Mas.” Yuni mengerang sambil memeluk Cahyo, kenapa hari ini Cahyo tak selembut yang kemarin?
Mama Cahyo menghela napas, “Sepertinya aku salah sudah datang ke sini.” Terkekeh kembali, “Aku akan kembali lagi nanti. Semoga yang di dalam sana segera berhasil mencetak cucuku yang sebenarnya.” Kekehannya semakin keras, dia pun berbalik dan pergi, tak ingin mengganggu yang masih muda.
“Ahhhh ....” Cahyo tersenyum lebar sambil memejamkan mata, dia puas, dahaga itu seolah lenyap bersama dengan pusing yang sedari tadi mengikat. Setelah denyutan pada miliknya mereda, Cahyo membuka mata, menatap Yuni yang masih tersengal di bawahnya, “Kau... milikku, Yun. Aku...” Cahyo menggeleng, “tidak akan pernah melepaskanmu.” Mengatakan semua itu di saat miliknya masih menyatu dengan milik Yuni.
Yuni menoleh, “Bagaimana bisa, huh?! Aku melakukan semua ini... hanya karena aku istrimu. Jangan berharap lebih, Mas.”
__ADS_1
Mendengarnya, Cahyo mencabut miliknya, duduk menumpu dengan lutut, dan menatap Yuni tajam.
Yuni pun memalingkan wajah, “Setelah kau puas menyiksaku... jangan ragu untuk menceraikanku, aku akan segera menandatanganinya, Mas.”
“Kurang ajar!” Cahyo sangat marah, ‘Plak!’ satu tamparan tak akan cukup untuk istri tak tahu diri seperti Yuni.
Yuni menoleh, terkekeh, dan saat Cahyo menaikkan tangan kembali, Yuni malah tertawa. “Hahahaha. Aku suka melihatmu seperti ini, Mas. Aku sangat suka. Hahahaha.” Terus tertawa, meski begitu tak kuat juga berpura-pura, Yuni pun menangis tersedu. Tak peduli dengan Cahyo yang belum turun dari tubuhnya, dia hanya ingin menangis, mungkin dengan begitu dia akan cepat gila dan segera dibuang oleh Cahyo.
Melihat Yuni yang terus meraung, Cahyo pun meninggalkan Yuni, dia mengguyur tubuhnya di kamar mandi. Berharap gemercik air bisa mengalahkan suara tangisan Yuni di luar sana.
***
Hari berganti. Mama Cahyo sedang arisan di restoran bersama teman-temannya. Hanya ada empat orang, meski begitu cukup ramai untuk membicarakan semua permasalahan di dunia ini, dan salah satunya malah membuka topik yang seru, “Jeng, bagaimana Cahyo? Kudengar ada dokter hebat di Surabaya selatan, bayi tabung tidak mahal, kan? Jangan menunggu keajaiban Tuhan terlalu lama.”
“Yuni masih muda, tapi Cahyo? Aku mengerti perasaanmu, kita bisa pergi ke sana bersama-sama, aku akan mengatur waktunya karena anakku pun juga menjalankan bayi tabung di sana. Mereka berhasil dalam sekali percobaan.”
Mama Cahyo tersenyum, dia mengambil ponsel di meja, dan memasukkannya ke tas. “Aku tidak tersinggung, tapi aku akan mengabarkan berita bagus ini ke anak-anak, tidak masalah ‘kan kalau aku pulang duluan?”
Ke tiganya terkekeh bersamaan, “Tentu saja tidak. Cepat kabari kalau ke sana.”
Mama Cahyo mengangguk, “Aku pulang dulu.” Melambaikan tangan dan pergi. Hampir sampai di pintu ke luar, tapi dia seolah melihat seseorang yang dia kenal, sedikit membuntuti tidak salah, kan?
__ADS_1
“Aku sangat merindukanmu, kenapa tidak membalas pesanku? Teleponku juga kamu abaikan. Aku sangat kawatir, Na.” Anton berdiri, dia ingin memeluk kekasihnya itu, beberapa hari ini sangat sulit menemukannya.
Nana mengangkat tangan agar tak disentuh oleh Anton, “Jangan berlebihan, Ton. Mau bicara apa? Waktuku tidak banyak. Aku sangat sibuk hari ini.” Sudah ada minuman dingin di depannya dan Nana segera meneguk karena berjalan dari tempat parkir itu melelahkan.
Anton tersenyum, “Bagaimana keadaanmu? Baik? Sehat? Bagaimana keadaan anak kita?”
Mama Cahyo membelalakkan matanya, dia mendengar semua dengan telinganya sendiri, kekonyolan macam apa ini?
“Stop! Jangan membahasnya lagi, Anton. Itu anakku dan kekasihku, tapi bukan denganmu, jadi jangan membahasnya lagi, okey?” Nana tak suka dengan pertanyaan Anton tadi.
Terkekeh, Anton merasa Nana sangat lucu, “Itu anakku, Na. Dia anakku dan aku yakin itu. Jangan main-main denganku, pekerjaanku bagus sekarang, apa yang membuatmu kawatir? Kita akan bahagia sampai tua nanti, Na.”
“Cukup! Jangan membuatku semakin marah, Ton. Kalau kamu menyuruhku datang hanya untuk membahas masalah ini saja, lebih baik jangan melakukannya lagi, aku akan menikah dan jadi istri orang sebentar lagi.” Nana menekankan ke Anton.
Segera menggeleng, “Kamu akan menikah dengan orang lain saat mengandung anakku? Apa kamu gila?” Anton meyakini dengan nyawanya kalau anak yang dikandung Nana adalah anaknya.
Nana terkekeh, “Kamu yang gila, Ton.” Segera berdiri, “Kalau sudah tidak ada yang ingin kamu bahas, aku akan pulang, dan jangan menanyakan lagi tentang anakku, itu tidak sopan, Ton.”
Anton menahan tangan Nana yang akan pergi, “Kenapa buru-buru? Pembicaraan ini tidak akan selesai sebelum kamu mengakui kalau itu anakku.”
“Hahahahaha. Ya, benar. Kenapa buru-buru? Bahkan aku masih ingin bergabung dengan kalian.” Mama Cahyo mendekat sambil bertepuk tangan. Dia berhasil menangkap satu manusia gila di dunia ini dan semua akan berakhir sangat seru sebentar lagi. Tak peduli dengan pasangan di depannya, mama Cahyo segera duduk semeja dengan Nana, menoleh dan menatap tajam perempuan itu.
__ADS_1