Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Tak diinginkan


__ADS_3

Cahyo terkekeh, “Pilihan bagus, Ratih. Kau memang kekasih yang bisa diandalkan.” Segera mematikan telepon itu dan naik mobil. Cahyo ke kantor, dia melihat Hendra bekerja seperti biasa, dan itu cukup membuatnya bingung. Di mana Yuni sekarang? Kenapa tidak mengangkat teleponnya?


 


“Sebentar lagi jam pulang, tumben masih di sini?” Surya baru saja dari ruang HRD dan bertemu Cahyo mengejutkannya di jam seperti ini.


 


“Ini masih kantorku kalau kau lupa, Sur.” Cahyo berjalan ke ruangannya.


 


Surya terkekeh sambil mengekori Cahyo, “Ya, ini memang kantormu, kudengar kau akan menjualnya padaku. Hahahaha.” Surya duduk tanpa menunggu disuruh oleh Cahyo.


 


“Kita lupakan itu saja. Ada hal yang lebih penting.” Cahyo menatap Surya serius, “Aku ingin kamu memperingatkan pacarmu agar tak terus mengajak Hendra saat dia pergi dengan Yuni.”


 


“Tunggu!” Surya jadi bingung, “Kamu hanya membahas masalah ini? Kupikir proyek di Purwodadi lebih penting dan akan membuat kita kaya, dan kamu malah membahas Yuni dan Ratih? Hendra? Tidak adakah topik lain?” Surya menggeleng. Sepertinya kepala Cahyo tertukar saat di perjalanan akan ke sini tadi


 


Cahyo menggeleng, “Aku sepeti orang gila saat memikirkan Yuni dan Hendra, apa kamu tidak paham juga?”


 


“Lalu? Kenapa harus ada Nana?” Surya menggeleng lagi, “Itu namanya egois dan egois itu tidak baik. Jangan jadi rakus, Cahyo.”


 


“Aku tidak rakus.” Cahyo sangat yakin dengan jawabannya.


 


“Lalu apa?” Surya ingin Cahyo lebih tegas lagi.


 


Merasa tidak bisa memberi kepastian, Cahyo memilih untuk pergi, dia pulang, dan sepanjang perjalanan hanya bisa memikirkan tentang pertanyaan Surya. Baginya sangat sulit Cahyo harus mencari di mana jawaban yang paling tepat.


 


Mobil yang ditumpangi Cahyo baru saja masuk halaman dan dia sudah melihat Yuni sedang menyiram bunga di samping rumah, bersama dengan mamanya yang hanya duduk dengan buku di tangan. Lihat! Cahyo seperti melihat pembantu dan nyonyanya. Ketika turun, dia tak menyapa Yuni, hanya tersenyum dengan mamanya dan masuk. Kepala Cahyo sangat pusing menyadari tak ada yang bisa dia pilih dari Yuni.


 


Pintu kamar dibuka tanpa terketuk lebih dulu. Cahyo menoleh, tersenyum saat tahu mamanya yang berjalan mendekatinya, “Ma. Di kantor sangat—“ Baru saja dia berdiri, ‘Plak!’ mamanya sudah menampar pipinya tanpa tahu apa yang dia lakukan. Kesalahan yang mana hingga membuat mamanya menampar dirinya?

__ADS_1


 


“Mama kecewa sama kamu, Cahyo.” Mama Cahyo menggeleng, “Sampai kapan mama harus menunggu? Apa mama harus mati dulu?”


 


Cahyo yang tadinya menunduk, kini menatap mamanya, menggeleng karena tak tahu harus mengatakan apa.


 


“Apa hebatnya Nana dibanding dengan Yuni, huh?!” Sudah begitu lama pertanyaan ini dipendam dan sekarang sepertinya memang waktu yang tepat untuk meminta jawaban ke putranya.


 


“Ma?” Cahyo menggeleng lagi, “Kita sudah pernah membahas hal ini kan, Ma? Aku lama kenal Nana, dia baik, perhatian, berkelas, modern, Nana sempurna, Ma. Mama tahu kan bagaimana Nana? Kita pernah makan bersama loh.” Cahyo mengingatkan andai mamanya lupa.


 


“Mama juga pernah bilang kalau mama mau punya cucu. Buat apa menantu hebat kalau tidak bisa membuatkan mama cucu? Buat apa?!” Bentak mama Cahyo tak mau kalah.


 


“Ma,“ Cahyo memegangi tangan mamanya, “apa hanya cucu saja yang Mama mau? Kalau Yuni sudah hamil apa Mama akan mengusirnya dan membiarkanku menikah dengan Nana?” Cahyo menggeleng, “Cahyo tahu, Ma. Papa dan ayah Yuni memang berhutang budi, tapi apa seperti ini? Perasaan itu gak bisa dipaksa, Ma”


 


“Mama memaksa kali ini, Cahyo. Mama memaksa!” Tegas mama Cahyo pada putranya. Tak menunggu sanggahan Cahyo, mamanya segera ke luar agar tak semakin membenci putranya itu.


 


 


Mama Cahyo tersenyum juga, “Mama siapkan makan malam dulu.” Menepuk lengan menantunya dan pergi.


 


Setelah menenangkan diri dengan helaan napas panjangnya, Yuni membuka pintu itu, tersenyum ke Cahyo, “Mas, mau kopi? Teh?”


 


Cahyo membuang napas kasar, Yuni memang pantas jadi pembantu di rumah ini, “Terserah, Yun. Buatkan apa saja yang kamu bisa.” Cahyo segera duduk dan memijit pelipisnya. Kepalanya mau pecah dan Yuni malah menambahkan beban berat itu di pundaknya juga.


 


Yuni ke dapur, mertuanya di sana sedang bicara dengan kepala pelayan, dan Yuni mulai merebus air.


 


“Mau buat apa, Yun?” Mama Cahyo heran karena Yuni cepat ke luar.

__ADS_1


 


“Susu jahe, Ma. Buat mas Cahyo.” Yuni mulai meracik minuman. Mertuanya tak lagi bertanya, tetap sibuk dengan kepala pelayan, dan dia kembali ke kamar. Cahyo masih di tempat yang sama, “Kutaruh sini, Mas.” Dilihatnya Cahyo mengangguk, “Mas, mau dipijit?”


 


Cahyo mengangguk, tapi dia tak beranjak, malah menyandarkan tubuhnya agar Yuni lebih mudah memijit kepalanya.


 


“Bagaimana tadi di kantor, Mas? Apa rapatnya lancar?” Yuni sebisa mungkin tak menyinggung hal lain agar Cahyo tak tahu kalau sebenarnya dia pun juga mendengar semua pembicaraan tadi.


 


“Rapat apa, Yun?” Cahyo menjawabnya sambil memejamkan mata.


 


“Hm ...tadi aku telepon Mas, tapi tidak diangkat, bukannya ada rapat? Biasanya Mas selalu mengangkat telepon meski sibuk, kecuali saat rapat, kan?” Yuni tersenyum lagi saat Cahyo membuka mata. Dia tak mengendurkan tenaga untuk memijit Cahyo. Yuni mau Cahyo tak pusing dengan semua pertikaian dengan mamanya tadi.


 


Cahyo menelan ludah, dia baru ingat kalau Yuni menelepon saat dirinya bersama Nana, “Ya, semua lancar. Kau pergi dengan Hendra?”


 


Yuni menggeleng, “Dengan Ratih, Mas. Hendra datang setelah film selesai dan aku langsung pamit pulang.”


 


“Diantar Hendra?” Cahyo tiba-tiba tak suka dengan cerita Yuni.


 


Yuni terkekeh, “Enggak, Mas. Aku telepon sopir. Mas tidak mengangkat teleponnya, jadi aku telepon sopir tadi.”


 


“Kenapa gak bareng Ratih saja? Hendra juga di sana, kenapa gak minta diantar Hendra?” Cahyo hanya penasaran.


 


Yuni yang masih tersenyum, menggeleng dengan pasti, “Enggak, Mas. Mas sendiri kan yang bilang kalau tidak suka dengan Hendra, aku menjaga perasaan Mas, apa pun yang Mas tidak suka maka aku akan menghindarinya. Lagi pula aku sudah menikah, tidak baik kalau diantar Hendra, Mas.”


 


Jawaban itu malah membuat Cahyo tertawa. Ada perasan senang dan puas dengan jawaban Yuni, seharusnya Cahyo tak merasakan itu, tapi nuraninya berkata lain. Dia memang gila, entah mana yang benar atau salah, Cahyo tak bisa memilih yang tepat saat ini. Ponselnya tiba-tiba berdering, Cahyo mengambilnya, dan ada nama Nana di sana. Tangannya masih ragu untuk mengangkat, tapi tak mungkin juga dia mengabaikan telepon itu, apa lagi dirinya dan Nana baru saja baikkan.


 

__ADS_1


Yuni tersenyum, menyudahi pijatannya, “Angkat saja, Mas. Aku mandi dulu.” Memilih untuk menjauh karena sadar dia tak diinginkan oleh Cahyo.



__ADS_2