Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Cinta dan tidak


__ADS_3

Cahyo menoleh saat pintu kamar terbuka, dia yang duduk di lantai, lelah setelah memukuli pintu agar dibuka dari tadi, kini diam menunggu kalimat apa yang akan dikatakan papanya.


 


Terkekeh, papa Cahyo masuk dan duduk, bersandar seolah tak ada hal apa pun yang terjadi. “Aku tidak akan bicara banyak. Yuni di toko, kunjungi kalau kamu mau perceraian itu cepat diurus pengacara, tapi kalau kamu masih menyayanginya, jauhi dia. Apa yang kamu lakukan membuatku malu, jadi jangan mencoreng mukaku lagi, Cahyo. Tentang pernikahanmu dengan Nana, lakukan saja! Anggap papa dan Yuni tidak pernah ada. Pilihan di tanganmu. Jadilah bijak dan jangan gegabah.” Papa Cahyo pun beranjak dari kamar itu tanpa menunggu jawaban dari Cahyo.


 


Mengepalkan tangan, dia tahu ancaman papanya tak pernah main-main, dan sekarang tak ada lagi cara untuk bertemu Yuni. Cahyo masih memikirkan banyak hal, pelayan masuk setelah mengetuk pintu, dan Cahyo tetap tak ingin tahu apa kepentingan pelayan itu.


 


“Tuan, nyonya besar ingin saya mengemas perlengkapan non Yuni dari kamar ini.” Izin pelayan itu dengan tangan gemetar.


 


Cahyo melepas kemejanya yang sudah compang camping, “Ambil saja ponsel dan dompet Yuni, kalau aku tahu kamu mengambil pakaian Yuni meski hanya satu, aku akan memecatmu.” Cahyo pergi setelah berganti kemeja. Dia melewati ruang keluarga tanpa menyapa papa dan mamanya, ada yang harus diurus, dan dia sedang tak ingin merayu agar semua masalah yang ditimbulkannya sendiri, jadi urung.


 


“Pa!” Mama Cahyo gelisah melihat putranya ke luar, nanti menyusul Yuni, dan menghajar menantunya lagi.


 


Papa Cahyo malah menggeleng, “Putramu itu pintar, dia tidak akan berani melakukan hal yang mengancam dirinya sendiri, kecuali dia memang tak ada rasa dengan Yuni.”


 


Pelayan turun, mendekat ke bosnya dan mengulurkan ponsel Yuni, “Tuan Cahyo melarang saya mengemas baju non Yuni, Tuan, Nyonya.”


 

__ADS_1


Mama Cahyo menghela napas, “Temani saja aku, aku yang akan mengurusnya, cepat!” Segera mengambil ponsel Yuni dan ke kamar Cahyo.


 


Sedangkan Cahyo... baru saja tiba di kantor. Dia segera ke ruang kerja Surya dan sebelum temannya itu bertanya, Cahyo pun menjelaskan, “Pecat Hendra. Dia telah membohongi kita, dia tidak rapat dengan Anton, tapi dia berkencan dengan Yuni di mall, aku bahkan tidak percaya dengan mataku sendiri.” Cahyo membuang napas kasar. Kalau diingat dia masih ingin menghajar Yuni agar wanita itu tahu diuntung.


 


Surya mengerutkan kening, “Kita tidak bisa melakukannya. Selain Nana, hanya Hendra yang bisa diandalkan, jangan pecat dia sekarang atau akan banyak pekerjaan tertunda, apa lagi Hendra memegang proyek dari Mr.” Surya mengingat sesuatu, “Dari mana kau tahu kalau Yuni kencan dengan Hendra? Yuni pergi sama Ratih tadi?”


 


Cahyo terkekeh, “Ratih? Ayolah... omong kosong apa ini?” Cahyo menertawakan lelucon aneh dari Surya.


 


“Tidak, tidak, Ratih memang ke luar dengan Yuni, dia ke bioskop, tapi kalau memang mereka pergi dengan Hendra juga, aku tidak tahu.” Surya membuka ponselnya, dia menunjukkan pesan dari Ratih yang pamit menjemput Yuni.


 


 


“Ratih pamit mau jemput Yuni, entah bagaimana ada Hendra di sana, dan orang butik telepon kalau gaun kami sudah jadi. Mungkin kalau mereka pergi bertiga, karena itu kau hanya bertemu dengan Hendra, katakan kalau tebakanku salah.” Surya bukan mau membela Yuni, tapi dia masih tak percaya kalau Yuni berkencan dengan Hendra, bisa saja ada ke salah pahaman di sini.


 


Cahyo menggeleng, dia berdiri dan ke luar dari ruang kerja Surya, “Ah!” Berbalik kembali dan menoleh ke Surya, “Telepon saja Ratih, mungkin dia ingin bertemu dengan Yuni sekarang.” Beranjak juga dan Cahyo tak tahu harus melakukan apa setelah berada di ruang kerjanya sendiri.


 


Ratih... “Astaga! Apa ini?!” Surya meneleponnya agar menemui Yuni, pacarnya cerita tentang ke salah pahaman yang terjadi di antara Cahyo dan Yuni, tapi melihat keadaan Yuni?

__ADS_1


 


Malah tersenyum, “Ini hanya luka kecil.” Yuni berusaha menutupi lengannya, meski tak berhasil karena dia mengenakan lengan pendek, pakaiannya masih sama dengan yang tadi.


 


“Bagaimana bisa Cahyo melakukan semua ini? Rasanya pasti sakit, kan? Apa kita akan melaporkannya ke polisi? Aku yang akan mengantarmu.” Ratih sangat kawatir sekali,


 


Yuni menggeleng cepat sambil menahan tangan Ratih yang akan berdiri, “Jangan melakukannya, Rat.”


 


“Kenapa? Kamu masih mencintai monster itu? Monster gila yang bisa saja membunuhmu, Yun! Jangan gila!!” Ratih tahu betapa cintanya Yuni dengan Cahyo, tapi bukan seperti ini konsepnya.


 


Yuni malah menangis sambil menggeleng, “Aku yakin mas Cahyo akan berubah, Rat. Aku yakin.”


 


“Kapan? Kapan dia berubah, Yun? Setelah kamu mati di tangannya?!” Ratih menggeleng, tak mau membayangkan hal buruk seperti itu.


 


“Hanya dia pria yang membuatku sekuat ini, Rat. Aku menunggu begitu lama, kita baru saja baikan, aku gak may kehilangan mas Cahyo, Rat. Enggak.” Yuni menurut saat Ratih memeluknya. Memang itu yang dia rasakan saat ini, cinta ini tak akan meredup walau dengan ujian apa pun, pukulan itu akan sembuh, tapi cintanya tak akan sirna. Tolong jangan memaksa Yuni untuk menjauhi Cahyo.


 


Ratih mengurai pelukan Yuni, mendongakkan dagu Yuni agar menatap matanya, “Jika cinta itu hanya kamu saja dan Cahyo tidak, apa kamu tetap akan bertahan di tempat ini, Yun?”

__ADS_1


__ADS_2