Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Dia di sana


__ADS_3

Cahyo melamun, semua seolah berputar di kepala, dan dia tak tahu harus melakukan apa. Pertemuan semalam sangat mendadak dan dia belum siap. Saat ada yang menyenggol lengannya, barulah Cahyo tahu kalau ada Surya di ruang kerjanya, “Kapan kamu masuk?”


 


Surya tak menjawab, dia langsung duduk di seberang Cahyo dan meneliti wajah temannya, “Kau... bertemu dengannya semalam?”


 


Cahyo mengerutkan kening, “Kau tahu Yuni akan ke sana? Karena itu memberiku alamar restoran itu? Jika aku tahu akan bertemu dengan Yuni, aku tak akan ke sana, kupikir ada klien penting, tapi—“


 


“Tapi kau suka, kan?” Potong Surya sukses membuat Cahyo seketika berhenti bicara, “Yuni dan Ratih masih berhubungan baik, mereka sering telepon, dan kau?! Wajahmu kusut dan tak terawat, kau terlalu memikirkan Yuni selama ini.”


 


Cahyo terkekeh, “Omong kosong apa ini? Aku membiarkan rambutku panjang karena ini gaya kekinian, kamu saja yang kurang bergaul, ini keren!”


 


“Oiya? Kau seperti orang patah hati dan tidak bisa move on. Ayolah! Bukan sehari atau sebulan aku mengenalmu, kita bahkan sekampus bersama, apa yang tidak bisa kubaca dari semua gerak gerikmu, huh?!” Surya menggeleng, “Datanglah ke rumah, hanya acara kecil,  dan kau akan menyesal kalau tak hadir di sana.”


 


Cahyo menggeleng, “Yuni dengan Mr, aku tidak bisa, lagi pula kalau Ratih dan Yuni masih berteman, aku tidak mungkin ke sana, Sur. Jangan memaksaku.” Cahyo tak ingin terlihat mengenaskan oleh Yuni.


 


Surya menggeleng, “Itu hanya acara khusus untuk wanita, Yuni datang sendiri, kalau ada Mr, mungkin hanya mengantarnya saja. Aku tidak bisa membantumu lebih, setidaknya lakukan yang terbaik untuk anakmu.”


 


Cahyo menggeleng kembali, “Yuni tak akan melupakan pertanyaanku waktu itu. Aku menyerah.”


 


Barulah Surya menghela napas panjang dan dalam, “Terserah kau saja. Tanda tangan di sini dan aku akan cepat pergi. Ruanganmu sangat panas.”


 


Cahyo terkekek, membubuhkan tanda tangan dan stempel, lalu melihat Surya ke luar dari ruangannya. Dia berpikir untuk datang, tapi akan mengatakan apa jika bertemu dengan Yuni lagi, jujur saja, Cahyo tak punya nyali. Hingga saat tak lagi ada yang mencarinya, Cahyo pulang lebih dulu, tak lupa mampir ke mall, itu menjadi tempat baru baginya untuk berkunjung. Rasanya dia bisa mengenang apa yang sempat dilalui bersama Yuni.


 


Melihat sosok yang begitu dia kenal, segera berjalan cepat, langsung mengulurkan tangan untuk menyentuh lengan. Hal pertama yang dilakukannya adalah tersenyum.

__ADS_1


 


Cahyo terkekeh, “Kau di sini?” Wanita di depannya mengangguk dan Cahyo pun bertanya kembali, “Sekian banyak mall, kenapa mall ini juga yang kamu kunjungi?”


 


Nana, wanita yang mengapa Cahyo lebih dulu itu, berdecap, “Ck! Apa mall ini milikmu? Aku akan membuatkan lis ke daftar hitam setelah ini.”


 


Cahyo terkekeh kembali, “Jangan menggangguku, kalau kau butuh teman bicara, suruh Anton pulang, aku tak ingin lagi ada yang salah paham, Na.” Berbalik dan akan melanjutkan langkahnya.


 


“Tunggu!” Menahan tangan Cahyo agar tak menjauh dulu, “Aku hamil dan wanita hamil tak boleh ditolak keinginannya, meski ini bukan anakmu, kamu tahu, kan? Harus melakukan apa?”


 


Cahyo pun menghela napas, “Tiga puluh menit, tidak lebih, aku punya banyak urusan.”


 


Nana mengangguk, “Kita makan es krim di sana, ya?”


 


 


“Bagaimana kabarmu? Kudengar Yuni ikut dengan Mr ke Singapura? Apa mereka sudah bahagia dengan anak dari hubungan Yuni dan Hendra?” Nana sengaja ingin menyulut. Setidaknya, kalau dia tak jadi dengan Cahyo, jangan Yuni juga, biar pria kaya di depannya ini tetap hidup sendiri.


 


“Aku tidak tahu. Terlalu banyak pekerjaan hingga membuatku sibuk, jangankan kabar Yuni, bahkan kabarmu yang sekarang ada di depanku saja, aku tak tertarik.” Cahyo sengaja menyendok porsi besar es krimnya agar segera habis.


 


Nana terkekeh, itu bukan sarkas, tapi menunjukkan betapa Cahyo sakit hati. Dengan begitu akan semakin mudah menyulut amarah Cahyo, “Ya, Hendra memang pria yang perkasa, aku pernah mengajaknya bermain sekali, jadi... tak heran kalau Yuni pun suka.”


 


Cahyo mencebikkan bibirnya sambil mengangguk, “Tinggal sepuluh menit. Ada lagi yang ingin kau katakan?”


 


Nana tersenyum lebar, “Menurut dokter seminggu lagi anak kita—“

__ADS_1


 


“Anakmu. Bukan anak kita.” Tegas Cahyo semakin kesal dengan Nana.


 


Nana tertawa, “Oke, anakku. Anakku akan lahir minggu depan, datanglah untuk menjenguknya.”


 


Cahyo menghela napas panjang dan dalam, “Sudah tiga puluh menit, terima kasih es krimnya, aku pergi dulu.” Segera berdiri dan berbalik untuk pergi.


 


“Anakku?!” Nana ikut berdiri juga.


 


“Jangan terlalu dipikirkan. Aku akan mengirimkan kado untuknya nanti.” Cahyo mempercepat langkah, dia malas terlalu menanggapi, dan segera pulang sepertinya lebih aman. “Ke mana papa dan mama?” tanyanya ke pelayan yang menyambutnya.


 


“Tuan dan nyonya besar ke luar dari tadi. Anda ingin disiapkan makanan?” tanya pelayan balik.


 


Cahyo menggeleng, “Aku mau makan di luar nanti. Kalau papa pulang cepat kabari aku. Aku mandi dulu.” Membersihkan diri dengan cepat, beberapa kali ganti baju, tapi tak juga ada yang pas untuknya. Cahyo melempar lagi pakaian yang diambilnya tadi.


 


Papa Cahyo mengerutkan kening, “Apa ini?” Kamar yang biasa rapi malah berantakan seperti kandang.


 


Cahyo menoleh, melihat papanya, dia pun terkekeh. “Papa, dari mana?” Mengambil pakaian sekenanya dan segera memakai sebelum duduk bersebelahan dengan papanya.


 


“Aku mengantar mamamu arisan, ada apa? Kata bibi kamu mencariku?” Mengumpulkan pakaian dan menyisikannya.


 


Cahyo mengangguk, “Ada undangan untuk pengesahan jembatan di pantai, harinya terlalu mendadak, dan aku harus rapat hari itu. Papa, bisa datang ke sana? Saham terbanyak masih milikmu, kan?”


 

__ADS_1


Papa Cahyo terkekeh sambil mengangguk, “Harusnya Yuni yang ke sana.”


__ADS_2