Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Pindah ke pantai


__ADS_3

Yuni menggeleng, “Jangan keterlaluan, Mas.” Hendra sudah pergi dan dia pun berdiri, ingin ke kamar untuk beristirahat, tubuhnya masih sedikit lemas.


 


Cahyo berdecap, “Ck! Salah sendiri kenapa ganjen sama kamu. Sudah tahu ada suaminya, masih saja sok sok an perhatian, gak malu apa?” Cahyo mengekori Yuni.


 


Menggeleng kembali, “Kamu gak ke kantor, Mas? Aku kan sudah di rumah? Papa dan mama ke mana?” Yuni baru sadar kalau rumah ini sepi, seolah tak ada siapa pun, harusnya kepulangannya disambut, kan?


 


“Papa kan buat lapangan golf, mungkin mama ikut, sejak dulu mama sering ikut papa kalau survei lokasi. Aku tidak ke kantor hari ini, aku mau nemani kamu saja, apa tidak boleh?” Tiba-tiba Cahyo mengatakannya dengan lesu. Baru kali ini dia meminta sesuatu, baginya memang tak berat, tapi bagaimana jika Yuni tak memberinya izin?


 


Yuni menoleh, lalu terkekeh melihat wajah memelas Cahyo, “Mas, aku istrimu, kan? Jangan merasa asing. Kita bisa nonton TV bareng.” Yuni melebarkan senyumnya ke Cahyo.

__ADS_1


 


Jawaban itu membelenggu Cahyo, segera memeluk Yuni, dia terpukau, kenapa tak dari dulu? Sekarang semua semakin rumit dan Cahyo tak tahu bagaimana melepas simpul permasalahan ini.


 


“Mas, mungkin setelah ini waktu Mas akan terbagi juga dengan Nana, aku senang kalau Mas juga senang, mama dan papa memang tak membiarkanku pergi, tapi Mas masih bisa ‘kan pulang ke sini? Kita masih bisa bertemu.” Yuni mengusap punggung Cahyo.


 


“Jangan membahas itu lagi, Yun. Aku tidak mau dengar.” Cahyo memeluk Yuni semakin erat. Rasanya takut kehilangan momen ini. Benar kata orang kalau penyesalan itu selalu datang saat semua sudah terlambat.


 


 


Cahyo mengangguk, mengecup bibir Yuni singkat, dan segera masuk ke kamarnya lebih dulu. Dia akan mandi, sama dengan perintah Yuni, jangan sampai dia mengecewakan Yuni lagi setelah ini.

__ADS_1


 


Hendra... segera ke pantai, dia baru saja mengemas semua pakaian di kosan dan membawanya ke tempat singgah di pantai. Jabatannya sudah lebih baik, Hendra dapat mobil dari kantor, lumayan berguna meski tetap lebih menyenangkan mengendarai motor sportnya.


 


“Rumah ini sangat besar, andai Yuni belum punya suami dan mau menikah denganku, tinggal di sini akan menyenangkan.” Hendra terkekeh. Dia merapikan pakaian sambil membayangkan hal yang tidak mungkin. “Ranjangnya juga lebar. Ah! Kenapa aku terlambat mengenalmu, Yun.” Hendra tertawa kembali, berbaring di ranjang, dan mengusap ruang kosong di sebelahnya. Hidupnya sangat berwarna setelah mengenal Yuni, tapi semuanya lenyap dengan mudah saat Cahyo datang, apa lagi dia bekerja ikut Cahyo, buntu sudah jalan untuk mendapatkan Yuni.


 


Hendra memang cinta, tapi kalau harus kehilangan pekerjaan, mana berani? Anak panti lebih membutuhkannya dari pada Yuni yang harus dikejar cintanya meski sama-sama berat.


 


“Akh! Jangan nakal!”


 

__ADS_1


Hendra mendongak, suara apa itu? Di penginapan ini hanya ada dirinya dan Anton, penginapan induk yang dibangun juga belum dibuka, apa ada penyusup? Hendra pun berdiri, meninggalkan beberapa baju yang masih perlu ditata, ke luar untuk melihat teriakan dari siapa tadi. Baru saja ke luar kamar, Hendra membelalakkan mata, terlebih saat berhadapan begini, apa ada hal yang dia lupakan selama ini?



__ADS_2