
“Seru sekali. Pekerjaanmu sudah selesai?” Ratih menoleh ke Yuni, meringis, dia tahu kalau temannya itu sedang marah.
“Ya, kalian sudah makan? Aku akan mentraktir kalian hari ini.” Hendra tersenyum. Dia suka dengan sambutan hangat Ratih, tapi saat menoleh ke Yuni jadi sungkan sendiri karena wajah itu begitu murung.
Yuni mengambil ponselnya, “Aku telepon sebentar, ya?” Yuni tersenyum dan pergi, menjauh dari ke duanya, dan menelepon Cahyo. Dering itu begitu panjang, dia tak tahu apa yang Cahyo lakukan, apa ada rapat? Yuni hanya bisa menelepon lagi, lagi, dan lagi. Saat semua tetap berakhir nihil, Yuni pun membuang napas kasar, dan kembali ke mejanya lagi.
“Apa Yuni marah?” Hendra setengah berbisik saat bertanya ke Ratih.
“Tentu saja dia marah dan setelah ini Yuni akan membenciku juga. Aku sudah katakan padamu jangan ikut ke sini, tapi kamu tak mau dengar. Lihat! Semua jadi kacau.” Ratih mengaduk minumannya cepat lalu menyedotnya.
Hendra pun murung, “Kau tahu, kan? Aku sangat mencintai Yuni.”
“Masalahnya dia sudah menikah, Hen.” Ratih tak paham dengan isi kepala Hendra.
“Itu cuma formalitas, Rat. Yuni tidak bahagia dan Cahyo tidak mencintai Yuni, mau sampai kapan? Harusnya Yuni mencari bahagianya sendiri, bukan malah mau saja jadi budak seperti ini.” Hendra geram.
Tak semua didengar oleh Yuni, tapi dia cukup paham dengan kalimat terakhir Hendra, Yuni pura-pura tak dengar, hanya duduk sambil tersenyum ke semuanya, “Makan yuk! Aku banyak kerjaan. Aku mau kembali ke toko setelah ini.” Yuni menghabiskan minuman dan kentang goreng di meja.
“Nanti malam kamu sibuk, Yun? Aku sama Surya mau makan malam, kamu ikut, ya?” Ratih mencoba mencairkan suasana.
Hendra menggeleng, “Kalian mau makan malam bertiga?” Bukankah itu acara yang aneh?
Ratih mencebikkan bibirnya, “Susah ngomong sama kamu. Mending diem.”
Yuni tersenyum mendengar ledekan Ratih.
“Gitu dong, Yun. Senyum. Biar seger.” Hendra lega kalau Yuni masih mau tersenyum meski tahu itu bukan untuknya.
__ADS_1
Ratih mencebikkan bibirnya lagi, “Sakit ni anak.” Melahap kue moci di depannya agar kesalnya hilang.
Belum sempat Yuni menjawab, dia melihat sopir pribadinya sudah menjemput, dan Yuni segera melambaikan tangan agar sopirnya tidak perlu mencari.
Ratih yang sadar dengan apa yang dilakukan Yuni, segera menoleh, dia tahu apa yang dilakukan temannya itu, “Kok pulang?”
“Iya, pekerjaanku banyak. Aku telepon sopir tadi, jadi kalau kamu dijemput Surya, Hendra gak perlu repot nganterin aku. Aku pulang, ya?” Mengambil tas yang dibawanya, mencium pipi Ratih, dan pergi. Dia tak akan membiarkan Ratih terus memasangkannya dengan Hendra. Itu adalah pilihan yang salah dan Yuni tidak mau terjerumus. “Oiya,” Yuni berbalik kembali sebelum dia jauh, “nanti malam aku gak ikut. Mama ada acara aku gak bisa. Lagi pula suamiku juga pasti ingin aku dan dia makan malam berdua saja. Maaf ya, Ratih. Dadah ....” Yuni benar-benar pergi dari sana.
Ratih membuang napas kasar, “Puas?!”
Hendra menggeleng, “Gak tahu mau jawab apa.”
“Gak usah dijawab. Bayar aja tagihannya. Kamu mau nraktir kan tadi?” Ratih juga mengambil tas dan pergi. Meninggalkan Hendra sendirian di sana.
Yuni tidak ke toko bunga. Dia malah pulang, “Ma.” Tersenyum, ikut bergabung dengan mama Cahyo di teras samping rumah yang menghadap ke taman.
“Tumben? Jangan karena tadi pagi kamu jadi malas ngapa-ngapain.” Mama Cahyo mengusap rambut menantunya itu.
“Main golf. Lusa mama sama papa mau ke Yogyakarta, kamu ikut?” Itu memang liburan yang sudah direncanakan dari jauh hari.
Yuni menggeleng lagi, “Nanti mas Cahyo?”
Mama Cahyo tersenyum, “Mama tahu kamu sudah mulai suka dengan Cahyo, Cahyo pun juga begitu, hanya saja kalian berdua kurang terus terang dengan perasaan kalian sendiri.” Mengambil ponsel di dekatnya dan membuka aplikasi yang sempat dia lihat tadi, “Mau makan malam?”
Yuni menerima ponsel itu, melihat dan menimang tawaran mertuanya, “Gak tahu, Ma. Coba tanya mas Cahyo.”
“Ya, nanti biar mama yang ngurus. Kamu istirahat saja. Tidur sing. Mama gak mau kamu stres.” Mengangguk untuk meyakinkan ke menantunya kalau usulannya memang yang terbaik.
__ADS_1
Yuni mengangguk juga, “Masuk dulu, Ma.” Pergi ke kamar dan Yuni segera merebahkan diri. Dia ingin penat ini segera pergi.
Cahyo... baru saja menyelesaikan pergulatannya dengan Nana. Kekasihnya itu sedang terkulai lemas di sampingnya, “Lagi?” Diciuminya pundak serta lengan Nana untuk menggoda hasrat Nana kembali.
Nana menggeleng, “Biarkan aku istirahat, Sayang. Biarkan aku tidur beberapa menit. Baru setelah itu kita bersenang-senang lagi.”
Cahyo terkekeh, mengusap rambut Nana, dan mengecup kening, “Tidurlah. Aku akan mandi dulu.” Mengecup kening Nana sekali lagi, baru setelahnya beranjak dari ranjang panas itu. Cahyo tak langsung ke kamar mandi, dia mendengar ponselnya terlalu berisik tadi di tengah permainan, tapi dia tak mungkin menjeda hanya untuk menerima telepon itu. Saat dilihatnya hampir tujuh kali Yuni yang mengirimkan panggilan tak terjawab, barulah dia langsung menelepon karena kekawatirannya.
“Kau membalasku?” Cahyo berdesis, telepon itu tak diangkat oleh Yuni, entah apa yang Yuni lakukan di seberang sana. “Kenapa dia menelepon sebanyak ini?” Cahyo segera mengenakan pakaiannya tanpa mandi, Nana terlelap, tak tega untuk membangunkan hanya sekedar pamit saja. Cahyo pergi dengan meninggalkan surat di nakas yang ditimpa dengan remot TV.
Satu tempat yang kini membuatnya penasaran adalah toko bunga dan Cahyo segera ke sana. Yakin Yuni di dalam, Cahyo segera masuk tanpa memedulikan sapaan para pekerja di toko bunga ini.
“Mbak Yuni ke luar, Tuan Cahyo. Sama mbak Ratih tadi.” Salah satu pekerja mengekor dan memberi tahukan ke Cahyo.
“Sial!” Dia lupa kalau Yuni sudah meneleponnya kalau mau nonton sama Ratih. Cahyo pun menelepon Ratih, dia sempat minta nomor telepon itu ke Surya, dan sekarang telepon itu jadi sangat berarti untuknya.
Ratih baru saja sampai rumah. Mendengar ponselnya berbunyi, segera mengambil dari tas dan mengangkatnya, “Ya? Siapa ini?”
“Cahyo. Di mana Yuni? Dia masih denganmu?” Cahyo bertanya tanpa bertele-tele.
“Yuni sudah pulang. Dia agak marah padaku karena tadi Hen—“ Ratih dengan cepat menutup mulut.
“Siapa? Hendra? Kalian pergi dengan Hendra tadi?!” Cahyo jadi membentak karena nama itu.
"Ti-tidak. Kami pergi berdua.” Ratih merutuki kebodohannya. Kenapa bisa keceplosan?
“Jangan pernah membohongiku, Ratih. Kalian pergi dengan siapa? Aku bisa saja membuat Yuni dalam bahaya. Kalau memang bagimu itu tidak penting, bagaimana dengan Surya? Kau mau Surya dalam bahaya hanya karena Hendra?” Cahyo menyeringai, Ratih belum tahu siapa dirinya, dan Ratih akan menyesal kalau menyembunyikan semua kebusukan itu.
__ADS_1
“Jangan! Aku akan bercerita. Aku dan Yuni memang hanya pergi berdua tadi dan Hendra tiba-tiba datang. Aku tidak mengundangnya, sungguh ...kumohon ampuni Yuni dan Surya. Aku sudah mengatakan yang sejujurnya padamu.” Ratih mengatakannya sambil menangis. Dia sangat ketakutan saat ini.