Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Mencuri satu kecupan


__ADS_3

Cahyo terkekeh, menyelipkan rambut ke telinga Yuni, dan menatap mata itu dalam. “Aku tahu... semua ini membuatmu hilang akal. Kehamilan Nana memang membuat semua orang terkejut, begitu pula denganku, tapi jangan membuat dirimu seperti orang lain, Yun. Aku ke luar sebentar.” Cahyo ingat kalau harus segera membalas email Surya.


 


“Apa maksudnya Mas gak percaya sama aku? Mas, aku benar-benar melihat Nana ke apartemen Anton tadi. Aku gak bohong, Mas!” Yuni berdiri, dia ingin Cahyo mendengar ceritanya, fakta sebesar ini, apakah harus berlalu begitu saja?


 


Cahyo terkekeh kembali, “Mandilah, Yun! Berendam air hangat akan membuat otot dan syaraf kita yang tegang jadi mengendur. Aku ke luar dulu.” Melemparkan senyumnya dan pergi. Cahyo tidak paham, kenapa Yuni seperti wanita di luaran sana? Sangat agresif memperlihatkan cinta dan itu membuat Cahyo bosan. Andai Yuni tahu, tanpa membuat kebohongan semacam itu saja Cahyo sudah suka, jadi tak usah sibuk meniru gaya orang lain.


 


Yuni menghela napas, dia membutuhkan bukti, tapi apa? “Aku akan berendam, mungkin dengan begitu ada ide yang lewat, dan aku bisa menyelamatkan pernikahan ini.” Yuni berbalik untuk mencari handuk dan masuk kamar mandi.


 


***


 


Esoknya... Yuni ikut Cahyo ke kantor, “Mas, jangan pindah dari ruangan ini, ya?” Yuni duduk di kursi yang pernah ditempatinya, membuka laci, dan menemukan tablet usang juga di sana. Entah, Yuni tak ingat sudah berapa lama meninggalkan benda itu di sini, dan nyatanya tetap berfungsi dengan baik.


 


Cahyo tersenyum, “Papa hanya menggertak, meski begitu aku sangat paham apa tujuan papa melakukan semua ini. Aku akan tetap pindah setelah ruanganku siap. Jadi jangan kawatir untuk sekarang.”


 


Yuni tersenyum, dia tak pernah bisa menyetir Cahyo, ternyata pria itu gengsinya masih tinggi, dan Yuni tak ingin lagi memperpanjang perdebatan ini.


 


Surya segera masuk setelah mengetuk pintu, “Mr tadi pagi telepon, katanya kita harus ke pantai sekarang, ada beberapa denah yang ingin dibahas, tapi kita harus ke sana, bagaimana?”


 


Cahyo menoleh ke Yuni, “Kalau misal kamu tidak ikut? Tetap di sini, bagaimana? Apakah keberatan?”


 


Yuni tersenyum sambil menggeleng, “Aku memilih tetap di sini, Mas. Apa aku harus tanda tangan nanti kalau ada sekretaris kantor yang masuk?” Yuni siap jika pekerjaan barunya hanya begitu saja.


 


Cahyo terkekeh, “Tanyakan dulu padaku, kalau teleponnya tidak kujawab, baca saja dulu, aku akan segera kembali setelah semua urusan selesai.” Cahyo mengambil kembali tas yang dibawanya dan bersiap pergi. Namun, baru saja melewati Yuni, seolah ada yang mengganggunya, dan Cahyo pun berbalik agar lebih dekat melihat wajah itu.


 

__ADS_1


‘Cup.’ Satu kecupan kucup mengejutkan. Bagaimana bisa Cahyo melakukannya? Yuni hanya bisa membatu sambil membuka mulutnya, sudah sangat lama dia tak mendapatkan momen ini, dan kini Cahyo melakukannya lagi?


 


Pintu yang tertutup, membuat ruang kerja ini semakin sepi, Yuni pun duduk dan menghidupkan tabletnya. Menggambar beberapa desain kamar adalah hal yang paling disukai Yuni. “Masuk!” Ketukan itu terlalu mengganggu hingga Yuni pun menghentikan kegiatannya.


 


Hendra mengerutkan kening, “Di mana tuan Cahyo? Aku butuh tanda tangannya segera. Lagi pula ngapain kamu di sini?” Berjalan mendekat, Hendra duduk begitu saja di depan Yuni, dan map yang dibawanya juga diletakkan di meja.


 


Yuni tertawa, “Aku ini istrinya mas Cahyo, Hen.” Menggapai map itu dan membaca isinya.


 


“Ck! Mau sampai kapan, Yun? Lagi pula tuan Cahyo juga sudah punya anak dari Nana, apa yang kamu tunggu, kamu takut miskin?” Dia berkata seperti itu karena terlalu kesal. Hendra mau Yuni lebih bahagia dari pada saat ini dan bersamanyalah jalannya.


 


“Kamu itu ngomong apa, Hen?” Yuni menggeleng. Membuka laci untuk mengambil stempel dan membubuhkan tanda tangannya di sana, “Ada lagi?”


 


“Enggak. Nanti kita makan siang bareng, ya? Sudah lama kita gak ngobrol. Di kantin kantor saja, pekerjaanku juga banyak, aku gak mau kena masalah.” Hendra mengambil map yang dibawanya tadi dan pergi setelah mendapat anggukan dari wanita yang disukainya itu.


 


 


“Mari silakan. Hen, kita balik dulu, ya?” Teman-teman Hendra pun membubarkan diri.


 


“Aku tahu ini sangat sulit. Aku mau kamu bebas dari semua perasaan tak enak itu, Yun.” Ucap Hendra melihat wajah bersedih Yuni.


 


Sambil tersenyum, Yuni menyendok makanannya, “Jangan konyol! Aku tidak memikirkan apa pun. Lagi pula semua orang punya mulut, kan? Aku tidak berhak melarang mereka semua untuk bicara.” Lebih baik dia mengunyah makanannya dari pada meladeni kekawatiran Hendra.


 


Hendra malah menggeleng, “Terserah kamulah. Oiya, kita bahas hal lain saja. Kata anak-anak kamu jarang ke panti sekarang, kenapa?”


 


“Aku sudah menyuruh seseorang untuk mengirimkan uang ke sana. Itu sama saja, kan?” jawab Yuni.

__ADS_1


 


“Ya, memang sama saja. Bagi orang sibuk sepertimu ‘kan yang penting sudah beramal, beda jauh dengan orang seperti kami, kekeluargaan lebih penting, tapi terima kasih sudah memperhatikan mereka semua.” Hendra tersenyum lagi.


 


Benar kata Hendra, dia menjauh karena tak enak dengan mamanya Cahyo, meski tempat ternyaman masih panti asuhan, dan setelah makan siang serta menyelesaikan pekerjaan, di sinilah sekarang Yuni berada, di panti asuhan bersama Hendra.


 


“Kak Yuniiii! Kakak, lama sekali tidak ke sini? Kakak, sangat cantik. Aku kangen sama Kakak. Apa kita bisa bertemu lagi? Kakak, bawa hadiah?! Terima kasihhhh ....”


 


Yuni hanya tertawa mendengar celoteh dari bibir-bibir mungil itu.


 


Hendra yang berdiri di sebelah Yuni, itu tersenyum lebar, “Tempat ini masih nyaman, kan?”


 


Yuni mengangguk.


 


“Kapan pun kamu butuh tempat yang nyaman, ingatlah untuk datang ke sini, aku memang tidak bisa membaca hatimu, tapi setidaknya apa yang kuucapkan bisa sedikit membantu.” ucap Hendra.


 


Mengapa mendengar itu Yuni malah menangis? Selama ini dia selalu memendam semuanya sendiri, dia terlalu takut dengan cemooh orang, dan ucapan Hendra seolah membuka luka yang sudah ditutup rapat.


 


Hendra menarik Yuni ke pelukan, “Menangislah sampai kamu puas, tak ada yang akan melihatmu di sini, aku tahu semua ini pasti berat. Aku tahu, Yun.” Puncak kepala itu sangat dekat, Hendra mencuri satu kecupan di sana, dan sialnya wangi sampo itu tak akan pernah dia lupakan. Kenapa Yuni harus menjadi istri orang? Dia kadung cinta? Lalu bagaimana dengan perasaannya saat ini?


 


Cahyo... baru saja sampai kantor dan sudah tak ada Yuni di sana. “Apa Yuni sudah pulang?” tanyanya ke sekretaris kantor.


 


“Sudah, Tuan. Tidak ada rapat hari ini, jadi non Yuni pulang lebih awal tadi, maaf, beliau bilang kalau bosan dan agak mengantuk, jadi langsung pulang setelah menanda tangani berkas sekitar jam setengah tiga.”


 


Cahyo melihat jam tangannya, memang dia yang terlalu lama berada di pantai membahas semua pekerjaan tadi, “Terima kasih.” Cahyo pun ke ruangannya, hanya meninggalkan apa yang kiranya tak perlu dibawa, dan segera pulang juga. Dia ingin terus bersama Yuni. Dengan begitu hatinya akan baik-baik saja. Tak terlalu stres memikirkan pernikahannya dengan Nana yang tinggal hitungan hari itu.

__ADS_1



__ADS_2