Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Naik darah


__ADS_3

Yuni ke toko bunga. Lebih baik dia menyibukkan diri dari pada terus memikirkan tadi pagi. Ikut menjual bunga seperti karyawan lain dan lambat laun dia pun jadi lupa.


“Hey, Yuni.”


Yuni segera menoleh, “Tuan Anton.” Tersenyum, dia melihat wajah semalam dengan tampilan yang berbeda.


Anton tersenyum lebar, “Akhirnya kamu mengenaliku.”


Yuni jadi tersipu dengan ucapan itu, “Maaf, Tuan—“


Anton menggeleng sambil memainkan jari telunjuknya sendiri, “Panggil saja Anton, kecuali kalau kita di acara resmi.” Mengangguk agar Yuni mempercayainya.


Yuni terkekeh, “Baiklah, An-ton.” Meringis karena merasa tidak enak hati memanggil seperti itu, tapi mau bagaimana lagi? “Tapi sungguh, aku yakin kita belum pernah bertemu, Anton. Apa aku melupakan sesuatu? Hm ...di mana?” Yuni masih saja tak ingat.


Anton malah tertawa, “Yuni, Yuni, aku pernah beli bunga di sini, bunga untuk kekasihku, bunga yang besar dengan tulisan tangan, dan yang menuliskannya kamu, ingat?”


Yuni kembali mencoba dan dia mengingat hal yang hampir dia lupakan, “Ah! Maaf apa kekasihmu yang namanya Nana?”


“Nah! Akhirnya kamu ingat juga.” Anton lega sekarang, “Padahal aku sering ke sini, tapi memang kita hanya bertemu dua kali.” Terkekeh, merasa cukup jenaka.


“Sepertinya aku harus memberimu diskon, Anton.” Yuni berhasil membuat Anton tertawa lebih lepas, “Oiya, kamu ke sini untuk membeli bunga lagi atau hanya untuk mengingatkanku?” Yuni meringis. Padahal dia tahu jawabannya, tapi Yuni lebih senang kalau Anton menjawabnya sendiri.


“Aku mau melamar kekasihku. Buatkan saja yang spesial.” Anton memang akan memberi kejutan buat Nana.


Yuni mengangguk, “Aku akan membuatnya semakin terkejut.” Dengan tangan cekatannya, Yuni memberi yang terbaik, meski di kepala terlalu banyak pertanyaan apakah Nana yang Anton maksud, Nana pacar Cahyo juga? “Hm ...apa kekasihmu semalam datang?” Yuni sesekali menoleh agar Anton tak merasa diasingkan.


Anton menggeleng, “Kami hanya bertemu di malam hari, dia sangat sibuk, Yun. Wanita karier, sangat bersemangat, semua pencapaiannya sangat luar biasa, dan dia bisa diandalkan. Saat aku menikah dengannya nanti, dia akan merawat anak-anak kita dengan kepandaiannya yang luar biasa.” Anton tertawa, “Mimpiku sangat tinggi, Yun.”

__ADS_1


“Tidak salah, Anton. Kamu kenal dia di mana?” Yuni menyelidiki secara perlahan.


“Kami rapat saat itu. Dia dengan karismanya dan itu membuatku jatuh cinta.” Anton menggeleng, “Aku gila kalau membicarakannya, Yun.”


Yuni tersenyum, “Semua orang gila saat jatuh cinta, Anton.”


“Apa kamu juga seperti itu?” Anton jadi penasaran, “Cahyo juga membuatmu gila?”


Yuni terdiam sejenak, lalu menoleh dan tersenyum, “Anggap saja seperti itu.” Segera mengangkat bunganya dan memperlihatkannya ke Anton, “Bagaimana?”


“W.O.W! Ini sangat indah, Yuni.” Anton bertepuk tangan, mengambil bunga itu sambil menggeleng, “Tangan sangat dingin setiap kali merangkai bunga ini.”


Yuni tertawa, “Jangan terlalu memujiku, Anton.” Dia malu.


“Berapa?” Anton bersiap untuk membayar.


“Gratis kali ini, tapi berjanjilah untuk mengenalkanku dengan wanita hebatmu lain kali, okey?” Yuni tak ingin berandai andai tentang Nana.


Yuni menghela napas, ada janggal di hatinya, bagaimana kalau Nana itu Nana yang sama? Yuni menghela napas lagi. Harinya jadi murung kembali setelah kedatangan Anton.


“Selamat siang, Tuan putri?” Ratih menyapa Yuni.


“Ratih? Tumben datang? Gak sibuk?” Yuni memeluk temannya.


“Enggak. Nonton yuk!” Ratih mengeluarkan ponselnya, memberi poster film terbaru ke Yuni, dia tak sabar untuk menghabiskan waktu dengan Yuni.


“Enggak ah! Entar kamu ninggalin aku lagi.” Yuni merengut, dia berbalik untuk ke ruang belakang.

__ADS_1


“Cieeee ...kali ini enggak. Hendra lagi kerja, kita berdua aja, masak aku ninggalin kamu? Mana tega? Kalau kemarin kan ada Hendra.” Ratih meringis lebih lebar.


“Tapi aku gak suka kamu tinggal sama Hendra, Rat.” Yuni menaikkan satu oktaf nada bicaranya.


Ratih terbengong, “Kamu lagi serius? Maaf deh ...maaf, ya?” Ratih mencakupkan ke dua tangan di dada.


Yuni tersenyum, dia memeluk Ratih kembali, “Aku ambil tas dulu.” Yuni ke dalam, mengambil ponsel dan menelepon Cahyo. Tak perlu waktu lama, Cahyo langsung mengangkat teleponnya di dering ke dua, “Mas, aku diajak Ratih nonton, boleh?”


Cahyo membuang napas kasar, yakin kalau Hendra pasti ada di sana juga, harusnya dia jadi memperingatkan Hendra tadi. Karena Surya dia membiarkan Hendra sekali lagi bertemu dengan Yuni. “Sama siapa saja, Yun?” Cahyo berdiri, dia akan memastikan dengan mata kepalanya sendiri, apa Hendra masih di ruang kerja atau tidak.


“Berdua, Mas. Sama Ratih. Boleh, ya?” Yuni menggigit bibir bawahnya sendiri, cemas akan jawaban yang diberikan Cahyo, apa lagi dia di posisi tidak pas dari tadi pagi.


“Terserah, Yun. Aku sibuk hari ini. Lakukan semua sesukamu.” Cahyo mematikan ponselnya. Dia sudah ada di depan ruang kerja Hendra.


Yuni menatap layar ponsel yang menggelap, menghela napas panjang dan dalam, selalu seperti ini, dan Yuni merasa sangat lelah menghadapinya. Dia tak mungkin membiarkan Ratih lama menunggu. Diam meratapi semua yang tak menghargainya, Yuni memilih untuk tetap pergi dengan Ratih saja, itu akan mengembalikan kewarasan otaknya.


Cahyo menempelkan telinga ke pintu ruang kerja Hendra, di dalam sana seperti ada suara dan beberapa kali ketikan di komputer, sepertinya Hendra memang tak ikut. Cahyo berbalik dan ingin pergi, tapi dia tetap penasaran juga, akhirnya dia mengetuk dan membuka pintu ruang kerja itu, “Hendra, kamu sedang apa?” Terus mendekat dan duduk di depan meja kerja Hendra.


Hendra mengerutkan kening, “Tentu saja bekerja. Memangnya apa lagi? Apa aku boleh main game di sini, Tuan Cahyo?” Terkekeh. Cahyo memang atasannya, tapi Hendra tak akan tunduk dengan pria berengsek di depannya.


“Tentu saja boleh dan aku akan langsung memecatmu, apa kamu masih ingin main game di jam kerja?” Cahyo terkekeh juga, dia merasa menang, di atas awang kalau lawannya hanya seorang Hendra.


“Aku kerja, Tuan Cahyo. Kehadiran Anda membuat saya tidak bisa fokus. Lebih baik Anda ke luar jika tidak ada pekerjaan.” Hendra kembali ke komputernya.


“Ya.” Cahyo beranjak pergi, “Jadilah produktif untuk perusahaan yang memberimu upah, Hendra.”


Hendra mengabaikan ucapan tak penting Cahyo. Dia butuh uang, jangan sampai kebenciannya dengan Cahyo, membuatnya tidak punya uang untuk diberikan ke anak panti. “Oiya, aku izin kembali agak terlambat, Tuan Cahyo.” Dilihatnya Cahyo berbalik untuk menatapnya dan Hendra malah tersenyum lebar, “Jangan kawatir, aku akan lembur untuk kantormu, aku hanya bersenang-senang sebentar, dan malam nanti kuberikan semua waktuku untuk kantormu sampai jam sepuluh.”

__ADS_1


“Mau ke mana?” Cahyo menemukan jawaban di akhir cerita. Sepertinya Hendra memang suka membuatnya naik darah.



__ADS_2