Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Tempat lainnya


__ADS_3

“Hey!” Cahyo mendekati Yuni, memberi kecupan di kening, dan mengusap rambut Yuni sambil duduk di ranjang. “Sudah makan? Apa kata dokter? Banyak pekerjaan jadi aku baru bisa ke sini sekarang, Yun.” Cahyo tersenyum, Yuni pucat sekali, apa benar hanya karena Yuni kelelahan saja?


 


“Sudah, Mas. Papa dan mama baru pulang, katanya kalau infusnya habis, boleh pulang. Jangan kawatir.” Yuni suka dengan pertanyaan Cahyo kali ini.


 


“Apa kamu masih pusing?” tanya Cahyo lagi.


 


Yuni menggeleng, “Aku hanya lemas, Mas. Mandilah dulu, aku yakin kamu lelah, jangan lupa makan biar kamu tidak ikutan sakit.”


 


“Oke, aku mandi dulu.” Cahyo mengecup kening Yuni lagi, lalu ke kamar mandi, dia melakukan apa yang Yuni minta.


 


Nana... tertawa. Segera duduk di samping Anton dan mengambil minuman di meja. “Apa kesibukanmu, Ton? Selama hamil aku tidak punya banyak waktu untuk bepergian.” Nana segera meminumnya dan kembali meletakkan di meja.


 


“Dia anakku, Na.” Anton sangat yakin akan hal itu.

__ADS_1


 


“Jangan konyol. Meski ini anak siapa pun juga, aku lebih memilih menikah dengan pria kaya untuk masa depanku, lagi pula kita akan sering bertemu nanti. Tidak ada yang berubah.” Nana meneliti pekerjaan Anton, “Proyek ini sangat besar, bukankah untungnya juga banyak? Kau tidak ingin membelikanku berlian?”


 


Anton menggeleng, “Siapa pria yang kamu maksud? Sebanyak apa kekayaannya? Aku mungkin tidak bisa menyamainya, tapi melihatmu di sini, sepertinya hanya aku yang selalu memperhatikanmu.” Anton tertawa, tak ada pria seteguh dirinya saat mencintai wanita, hanya dia yang memeluk dengan sepenuh hati.


 


“Hahahaha. Jangan konyol, Ton. Aku ke sini hanya ingin memastikan kalau kamu baik-baik saja. Oiya, setelah kita makan siang waktu itu, apa ada yang mendatangimu?” Nana mengkhawatirkan satu hal saat ini.


 


 


Nana tersenyum, “Tidak, aku hanya mengkhawatirkanmu. Kalau semua baik, aku pulang saja, dadah!” Nana berdiri dan bersiap pergi.


 


Anton menoleh, menarik tangan Nana hingga membuat tubuh itu menumbangi tubuhnya, dan segera ******* bibir Nana. Dia sangat rindu dan tak akan dilepas begitu saja setelah Nana mau menemuinya.


 


Nana hanya tersenyum menikmati semua sentuhan, bahkan saat Anton mulai melucuti pakaiannya, Nana membiarkan begitu saja. Dia ingin dijamah, sedangkan Cahyo tak pernah memberinya kepuasan, Anton adalah tempat terbaik untuk melampiaskan sangenya.

__ADS_1


 


***


 


Masih terlalu pagi. Cahyo terkejut saat Yuni membangunkannya, tak ada infus atau alat lain yang menempel di tangan Yuni, “Kenapa bangun? Kamu butuh sesuatu?” Cahyo segera berdiri dan itu membuatnya pusing.


 


“Mas, dokter sudah memeriksaku, Mas. Mas?” Yuni menahan tubuh Cahyo agar tak banyak bergerak karena Cahyo terlihat seperti orang bingung.


 


“Apa? Dokter sudah dari sini? Kenapa aku tidak tahu?” Cahyo duduk sambil mengucek mata.


 


Yuni tersenyum, “Mas, tidurnya ngorok tadi, jadi dokter memeriksanya juga pelan-pelan. Aku sudah boleh pulang, ayo!”


 


Rasanya lega sekali. Cahyo pun pulang bersama Yuni, mereka sampai rumah dengan cepat, dan Cahyo langsung merengut saat melihat Hendra di halaman rumahnya. Apa yang diinginkan pria berengsek itu? Berani sekali datang ke sini. Kalau bukan masalah kantor, Cahyo bisa saja memukul Hendra begitu saja, pria itu semakin lama semakin melunjak jika dibiarkan.


__ADS_1


__ADS_2