Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Hasrat yang menyiksa


__ADS_3

Yuni yang tersenyum ramah, jadi aneh mendengar pertanyaan pria bernama Anton itu, pasalnya dia yakin tak pernah bertemu dengan Anton sebelumnya. Yuni menoleh ke Cahyo, jangan sampai ada ke salah pahaman yang membuat hubungannya dan Cahyo kembali runyam nanti.


 


“Kalian saling kenal?” Cahyo tidak menyangka itu.


 


Anton mengangguk, “Ya, aku pernah belu bunga ke istrimu, untuk kekasihku.”


 


Yuni semakin mengerutkan kening, sungguh dia benar-benar tak ingat apa pun, otaknya buntu. Yuni memilih untuk menarik tangan, “Mungkin aku ...agak lupa.” Meringis meski sangat canggung.


 


Cahyo tertawa, “Ya, istriku memang punya toko bunga, tapi di mana kekasihmu? Aku ingin bertemu dengannya juga.”


 


Anton menggeleng, “Dia sangat sibuk dan tak suka keramaian. Dia malah menyiapkan acara di tempat lain untuk malam ini, sepertinya berdua adalah pilihan terbaik menurutnya.”


 


Cahyo mengangguk, “Kali ini aku setuju.” Ke duanya pun tertawa bersamaan.


 


“Nikmati pestanya, Cahyo, Nona Yuni. Aku akan keliling dulu.” Anton kembali menyalami temannya dan pergi.


 


Cahyo merangkul Yuni, “Wajahmu sangat tegang, Yun.”


 


Yuni kembali tersenyum, “Aku hanya tak nyaman karena melupakannya, tapi pura-pura ingat juga bukan keahlianku, Mas.”


 


“Jangan dipikir. Kita cari tempat duduk, makan, lalu pulang setelah ini, okey?” Yuni yang mengangguk, Cahyo pun segera mengajak Yuni ke tempat yang lebih nyaman. Banyak makanan dan kudapan di sini, Cahyo makan secukupnya, setelah acara demi acara berganti, sudah pas untuk pamit pergi, Cahyo pun mengajak Yuni pulang. Dia tak tega melihat Yuni terus menguap dari tadi. Untung saja dia pergi dengan diantar sopir, jadi di mobil bisa menjaga Yuni agar tak kejedot saat ketiduran.


 


Rumah ini terlalu gelap. Mama dan papanya pasti sudah tidur. Dengan dibantu pelayan yang membukakan pintu, Cahyo membopong Yuni ke kamar, dan barulah dia sadar kalau tubuh itu sangat ringan. “Apa kau tidak suka ada di dekatku? Kau sangat kurus. Apa makanan di sini tak enak?” Cahyo terkekeh untuk menertawakan dirinya sendiri. Yuni tidur dan dia malah mengoceh tak jelas.

__ADS_1


 


Cahyo merebahkan dengan perlahan di ranjang. Baru setelahnya melepas jam tangan dan ganti pakaian, lalu naik ke ranjang untuk menyusul Yuni. Cahyo tak bosan memandangi wajah itu. Wajah yang penuh dengan mek ap cukup tebal tak seperti biasanya, rambut pun juga tergerai, dan gaun yang sangat pas, “Aku lupa belum memujimu, Yun. Kamu cantik malam ini.” Cahyo merapikan anakan rambut nakal Yuni. Sesekali dia tersenyum, sesekali menyentuh rambut, hingga mata yang mulai menyayu, akhirnya ikut tidur juga.


 


***


 


Yuni terbangun dengan menjingkat. Masih pukul empat, tempat pesta yang megah semalam, berganti dengan kamar nyaman dan Cahyo yang mengenakan piama di sampingnya, “Kamu tidak membangunkanku, Mas?” Yuni tak berani menyentuh, dia saja ragu jam berapa sampai rumah.


 


Yuni membenarkan selimut di tubuh Cahyo, turun perlahan, dan segera ke kamar mandi. Tubuhnya begitu segar dan Yuni segera turun setelah menyelesaikan kegiatan bebersihnya. Dapur sangat ramai, pelayan masak menu sarapan sambil sesekali bercanda, “Mama belum bangun?”


 


“Eh! Nona Yuni? Belum, Non.” Pelayan yang paling tua menjawab.


 


Yuni mengangguk, menggunakan kompor kosong untuk membuat minuman sambil menemani pelayan, sesekali menimpali pembicaraan meski lebih banyak diam, dan Yuni segera kembali ke kamar membawa minumannya. Yuni duduk di ranjang, di luar masih terlalu dingin, tapi Yuni sudah tak mengantuk, dia jadi ingat dengan pertemuan semalam, “Anton. Kalau dia pernah ke toko bunga, apa hanya sekali atau dua kali? Aku tidak mengingatnya.” Yuni punya akses untuk melihat rekaman CCTV, dia memutuskan untuk mengecek di sana dari pada penasaran.


 


 


Cahyo mendengar cukup berisik di sebelahnya. Dia pun membuka mata, Yuni malah bermain dengan laptop, “Apa yang kau lakukan, Yun? Berisik sekali.” Cahyo terlentang, lebih baik dia menatap langit kamar dari pada bias membuat matanya silau.


 


“Mas, terbangun? Maaf ....” Yuni menutup laptopnya kembali, berbaring di sebelah Cahyo, “Semalam kita sampai rumah jam berapa, Mas?”


 


“Aku tidak ingat, Yun. Aku masih ngantuk. Tidur saja lagi.” Cahyo membuka tangan, menepuk sisi diri agar Yuni merebah di sana.


 


Yuni menurut, tapi dia tetap tak bisa tidur kembali meski dengkur halus menghias telinganya.


 


Pagi ini cukup menyiksa. Hasrat Cahyo naik tiba-tiba, apa lagi Yuni yang terus bergerak di pelukan, Cahyo jadi tak bisa tidur. Dia pun membuka mata lagi, “Apa itu?” Melihat gelas yang mengepul di nakas, Cahyo jadi penasaran.

__ADS_1


 


“Susu jahe, Mas. Aku baru mandi tadi, jadi kedinginan.” Yuni bangun lagi, mengambilkannya untuk Cahyo, “Mas, mau?”


 


Cahyo bangun, susu jahe itu benar-benar menghangatkan, dan Cahyo ke kamar mandi setelahnya. Membuang semua seni yang tertahan selama semalam, berharap setelah ini miliknya akan tidur, “Kau bangun terlalu pagi dan aku tidak tahu harus menyalurkan bakat ini ke siapa.” Monolog Cahyo di depan cermin. Tak mungkin terus di kamar mandi, Cahyo pun kembali ke ranjang, dan segera masuk selimut.


 


“Ada apa, Mas?” Yuni merasa Cahyo cukup gelisah.


 


Cahyo menggeleng, “Kepalaku pusing, Yun. Pijit sebentar. Tolong.”


 


Yuni tersenyum, dia yang sudah merebah, segera bangun, memangku kepala Cahyo, dan mulai memijit, “Jangan banyak pikiran, Mas. Semua pasti ada jalan ke luarnya.”


 


Cahyo membuang napas kasar, ‘Jalan ke luar apa, Yun. Rasanya saja sudah di ujung begini.’ Batin Cahyo di hati.


 


“Apa lebih baik?” Cahyo mengangguk dan Yuni membalasnya dengan senyum, “Kalau Mas butuh sesuatu, katakan saja padaku, mungkin aku bisa membantu. Aku suka kalau Mas mau cerita, apa pun, aku juga akan membantu kalau aku bisa.”


 


“Benarkan?” Cahyo tak yakin dengan ucapan Yuni.


 


“Benar, Mas. Kalau aku bisa membantu, aku akan membantumu sebisaku, sungguh.” Yuni menghentikan pijatannya. Menatap Cahyo agar mempercayainya lebih penting saat ini.


 


Cahyo tersenyum, mata itu sangat meneduhkan, dan Cahyo semakin ingin melihat Yuni pagi ini. Bibir merah tanpa tambahan lipstik, bahkan agak kering di pinggirnya, Cahyo malah merasa ini lebih menggoda. Dia pun bangun, tetap mengunci semua pergerakan Yuni, dan memagut bibir itu. Sebuah tuntutan tak terlalu tinggi Cahyo gaungkan, Yuni juga semakin pandai bermain lidah atas tuntunannya, jadi apa salah kalau Cahyo ingin hubungan ini sedikit ada kemajuan?


 


Yuni juga lebih mudah Cahyo rebahkan, menaikkan kaos kebesaran itu untuk melihat bra warna apa yang Yuni kenakan, dan lebih menaikkan lagi bra Yuni. Sekedar ingin tahu, apa isinya besar juga? Katakan saja Cahyo memang brengsek karena dia tak peduli dengan perasaan Yuni saat ini.


__ADS_1


__ADS_2