Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Tersisih


__ADS_3

Setelah hatinya sedikit tenang, Yuni mengangkat wajahnya kembali dan menyeka air matanya. Duduk memunggungi mama Cahyo membuatnya aman karena mama Cahyo tidak akan melihat matanya yang masih berkaca-kaca. “Ma, aku ke luar dulu.” Yuni berdiri dan berjalan ke luar sebelum mama Cahyo menjawabnya.


 


Mama Cahyo yang merasa kecewa hanya bisa diam saat melihat Yuni yang ke luar dari ruangan itu. Entah, dia sangat kecewa dan marah meski ada sedikit rasa kasihan di hatinya.


 


~


 


Yuni menyibukkan dirinya dengan bunga-bunga di kiosnya, aster, mawar, lili, ah ... Yuni mengulik semuanya sampai terasa bosan. Tapi kembali ke dalam saat tahu mama Cahyo sedang merasa buruk bukanlah pilihan yang bagus.


 


“Mbak, Yun. Bunganya yang mawar kuning habis.” kata salah satu pekerjanya.


 


Yuni mengangguk, “ya, aku akan memesannya siang ini. Besok pagi kalau aku belum datang kamu urus, ya?”


 


“Iya, Mbak.”


 


“Yun, aku pulang dulu.”


 


Yuni langsung berbalik dan meremang saat mendengar suara itu, “mama ... mau aku hantar dulu?”


 


“Tidak usah. Mama mau mampir-mampir dulu.” Mama Cahyo langsung berjalan dan masuk ke dalam mobilnya, meninggalkan Yuni yang masih setia melihat mobil itu sampai mengecil termakan jarak.


 


Yuni memilih masuk dan duduk di kursi nyaman yang tadi di duduki mama Cahyo, melamunkan apa saja, bahkan juga orang tuanya sendiri di saat seperti ini. Tapi jika pulang tanpa Cahyo bukanlah pilihan yang baik karena orang tuanya akan kawatir nanti meski Yuni membuat alasan yang terdengar sangat tepat sekali pun.


 


Sudah sore... warna senja sudah menghias. Yuni harus pulang meski akan tidak nyaman untuk bertemu dengan mama Cahyo lagi nanti.


 


“Mbak, nanti saya ikut tidur di sini, ya? Semalam saja.” izin salah satu pekerjanya, biasanya hanya satpam saja yang akan tidur di kiosnya, dana sekarang malah pekerjanya juga yang meminta hal itu.


 


“Tapi kan kamu cewek?” Yuni tidak mau tempat itu digunakan untuk hal lainnya.


 


“Malam ini aja, Mbak. Besok saya pulang.”


 


“Ya, tapi jangan lupa kunci pintunya kalo mau tidur.” Yuni tidak enak juga kalau menolak permintaan kecil itu.


 


“Makasih, Mbak Yun.”


 


Yuni pun juga tidak lupa mengingatkan satpamnya agar menjaga dan tidak melakukan hal lain saat pekerja yang lainnya ikut tidur di sini juga. Meski umur mereka berbeda jauh, Yuni tetap mengingatkan mereka, tidak mau menimbulkan masalah lagi.


 


“Mau mampir dulu, Mbak?” tanpa pak sopir ke Yuni.


 


“Langsung pulang saja.” Yuni terus melempar pandangannya ke luar.


 


“Mbak Yuni, baik?” tanya sopir itu karena merasa Yuni cukup lama berdiam diri sejak tadi.


 


“Ya. Kenapa, Pak?” Yuni kurang mendengar pertanyaan itu tadi karena terlalu asyik sendiri.


 


Sopir itu terkekeh, “Mbak Yuni, sudah makan?”


 


Yuni tersenyum dan mengangguk, meski nyatanya tak ada secuil pun yang masuk ke dalam mulutnya sejak ke luar pagi tadi. Seleranya hilang, menguap entah ke mana.


 

__ADS_1


Sopir itu pun juga membalas dengan senyuman tak kalah ramah, dan terdiam setelahnya karena merasa Yuni sedang tidak ingin berbagi apa pun saat ini.


 


~


 


“Yun? Baru pulang?” papa Cahyo menyapanya saat melihat menantunya itu berjalan sedikit gontai.


 


“Iya, Pa.” Yuni segera menyalaminya dan mencium punggung tangan kanan papanya itu.


 


“Sudah makan?” tanya papanya yang melihat Yuni sedikit lesu.


 


Yuni mengangguk, “Yuni masuk dulu, Pa.”


 


“Mandi, istirahat, pasti melelehkan mengurus kios itu sendirian.”


 


Yuni tersenyum, “mama mana, Pa?”


 


“Di dalam, baru dapat tabloid baru, katanya mau beli kucing atau an-jing, entahlah.” papa Cahyo mengendikan bahunya bersamaan.


 


Yuni pun tersenyum dan memilih masuk meninggalkan papa Cahyo yang sedang asyik dengan tanaman bonsainya. “Ma?” Yuni mendekati mama Cahyo dan mengulurkan tangannya, berniat menyalami mama Cahyo.


 


Mama Cahyo pun juga tidak mengatakan apa pun, hanya menerima uluran tangan itu dan kembali fokus ke tabloid yang dibacanya lagi.


 


Mendapat sikap cuek, Yuni juga lebih memilih ke kamarnya saja sekarang. Tidur lebih awal juga tidak masalah kalau itu bisa membuatnya lebih baik saat bangun besok pagi.


 


Yuni mengecek ponselnya, cukup heran karena Cahyo tidak mengirim satu pesan pun hari ini, ‘Mas, jangan lupa makan.’ setidaknya Yuni tidak akan menyueki Cahyo juga untuk hari ini.


 


 


“Bagai mana, Pak Cahyo? Anda tidak keberatan?”


 


...


 


“Pak Cahyo?”


 


“Ya? Apa?” Cahyo menatap Surya sedikit kebingungan.


 


Surya yang merasa fokus Cahyo di lain tempat hanya bisa mencebik dan menggeleng, “tentang ini, Pak Cahyo?”


 


“Ya, ya, tentu saja, aku sudah membaca kontrak itu berulang-ulang sejak semalam, aku tidak keberatan, tapi bagai mana dengan Anda?” Cahyo menoleh dan bertanya ke rekan bisnisnya yang duduk di seberangnya saat ini.


 


“Ya. Kami pun menerimanya jika isi kontrak itu tidak berubah lagi.”


 


“Ya. Kami akan melakukan itu.”


 


Saat Surya sudah memegang kendali lagi, Cahyo meraih ponselnya lagi dan membuka pesan dari Yuni lagi, ‘aku sedang rapat, kau tau? Sangat bosan sekali rasanya.’


 


[Ini sudah malam, Mas? Rapatnya belum selesai?] balas Yuni.


 


‘Aku rasa sebentar lagi, memang ada masalah sedikit serius di sini, Yun.’

__ADS_1


 


[Kalau misal aku tidur dulu?]


 


‘Tidurlah, aku akan meneleponmu kalau sudah selesai.’


 


[Selamat malam.]


 


‘Jangan menggodaku, Yun.’ Cahyo menambahkan emot sebuah tonjokkan juga ke isi pesan yang dikirimnya.


 


[Tidak, Mas. Aku off dulu.]


 


‘Kirim foto dulu.’ Cahyo menggeletakkan ponselnya dan mengeceknya berkali-kali karena Yuni dirasa terlalu lama hanya untuk mengirim sebuah foto saja. Bahkan rapat ini pun terasa menjadi membosankan sekarang.


 


Sekitar lima belas menit, ponsel itu bergetar kembali dan Cahyo menyambarnya dengan cukup cepat, seperti burung elang yang mencengkeram kelinci dan membawanya ke udara lagi.


 


“Pak Cahyo?” Surya memanggil Cahyo agar teman dan juga bosnya itu tidak menggila saat rapat begini, atau proyek ini akan benar-benar terlepas dari tangan mereka.


 


“Ya. Ya. Aku mendengarnya, Sur.” Cahyo segera mematikan ponselnya kembali dan mencoba lebih fokus ke meeting lagi.


 


Surya sedikit memicingkan matanya saat Cahyo tersenyum memperlihatkan barisan giginya dan mengangkat jempolnya padanya tadi.


 


“Baiklah, mari kita mulai lagi.” Cahyo mengambil air mineral di depannya, meminumnya, dan benar-benar menyimak jalannya meeting, membiarkan ponsel yang sebenarnya menari-nari menggoda sejak tadi itu.


 


~


 


“Aku bisa membu-nuhmu kalau aku bosnya.” Surya sangat jengkel dengan Cahyo. Saat in mereka berdua sedang berjalan menuju ke kamarnya.


 


“Jangan begitu. Rapat berjalan lancar dan kita mendapatkan proyek itu kembali, kan?” Cahyo meninju pelan punggung Surya.


 


“Kau menjengkelkan, sudah tua, tapi sangat menjengkelkan.”


 


“Tua-tua gini aku bisa membuat Nana ampun-ampun.”


 


“Apa tidak ada nama lain? Apa ponselmu berbunyi hanya karena seorang Nana? Kita hampir kehilangan proyek besar karena wanita gi-la itu.”


 


“Yuni, tadi aku sedang menggoda Yuni.”


 


“Lalu? Kenapa Nana yang ampun-am. Aaaa!!! Aku tau.” Surya terbahak sendiri setelah membaca pikiran yang melayang di otaknya.


 


“Gak usah sok tau!” Cahyo memasukkan tangannya ke saku celananya.


 


“Apa kalian belum??” Surya menemukan jari telunjuk kanan dan jari telunjuk kiri miliknya sendiri.


 


“Apa kau tidak bisa diam! Minta aku pecat?!” Cahyo menjadi jengkel sekarang.


 


“Hahahahahaha.” Surya terbahak, “kasihan sekali ... .” imbuhnya lagi.


 


Cahyo hanya mencebik, mempercepat langkahnya agar segera sampai di kamar hotelnya.

__ADS_1


__ADS_2