Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Ingin tenang


__ADS_3

“Sayang, kamu di mana?” Nana baru saja bangun. Tidur siangnya sangat nyenyak dan dia hanya menemukan kertas bertuliskan entah apa. Dia malas membacanya, lebih suka menelepon Cahyo, dan mendengar secara langsung alasan Cahyo pergi.


 


“Surya memanggilku. Kamu tahu, kan? Banyak pekerjaan akhir-akhir ini. Aku tidak bisa abai dengan kantor. Besok aku akan menjemputmu, jangan marah lagi, jangan membuat perusahaan kita dalam bahaya, kamu paham?” Baru kali ini Cahyo membohongi Nana dan semua karena Yuni.


 


“Baiklah. Aku mau makan di luar. Temani aku.” Nana memelas untuk mencari perhatian ke Cahyo.


 


“Maaf, Sayang. Banyak pekerjaan yang tidak bisa ditinggal. Jangan hari ini, ya? Aku akan menggantinya lain kali. Cepat mandi dan isi perutmu. Aku tidak mau kamu sakit, okey?” Cahyo juga memberi Nana cium jauh untuk menyemangati kekasihnya.


 


“Okey. Jemput saja besok pagi.” Nana segera menutup teleponnya dan dia berganti menelepon orang lain, “Aku lapar. Apa kamu mau mengajakku makan di luar?” Mendengar jawaban dari seseorang di seberang sana, senyum Nana menjadi sangat lebar, “Aku akan siap-siap. Aku menunggumu, Sayang. Muah.” Nana bersorak kegirangan. Dia segera ke kamar mandi karena malam indah sudah menantinya.


 


Cahyo turun setelah membersihkan diri. Yuni yang naik, mungkin akan ke kamar, Cahyo tak terlalu peduli, “Papa mana, Ma?” Duduk di ruang makan sambil membalik piring. Dia akan makan lebih dulu tanpa menunggu siapa pun.


 


“Tadi main golf sama temannya. Mungkin makan malam juga. Ada apa?” Mama Cahyo sedang mengupas semangka saat ini.


 


Cahyo menggeleng, “Hanya ingin bicara tentang pekerjaan. Aku butuh saran, Ma.” Yuni turun dan bergabung, baju yang sudah ganti pertanda dia tadi sedang mandi, dan Cahyo tetap mengabaikan Yuni.


 


“Masih banyak, Ma?” Yuni siap membantu jika dibutuhkan.


 


“Tinggal ini, Sayang. Kita makan saja. Papa mungkin pulang terlambat.” Mama Cahyo membalik piring lebih dulu, mengambil makan agar Yuni tak canggung, dan ke tiganya sama-sama makan sekarang. “Mama sama papa mau ke rumah nenek, Yuni tidak ikut katanya, pekerjaanmu banyak memangnya, Cahyo?” Mama Cahyo bertanya tanpa menoleh ke putranya. Yakin akan banyak alasan di sana dan dia sangat membenci hal itu.


 


“Beberapa proyek tidak bisa ditinggal, Ma. Kamu ikut saja, Yun, di sana bisa liburan.” Cahyo tak memberatkan Yuni.


 


“Kamu ngusir Yuni?” Mama Cahyo bertanya dengan berani.


 


Yuni tertawa dan mertua serta Cahyo menoleh bersamaan ke arahnya, “Mama ada-ada saja. Aku mau ke rumah ibu, Ma, Mas. Lama gak ke sana. Kangen. Tadi kan kita sudah bicara, Mas. Kok lupa ....” Yuni terkekeh lagi.

__ADS_1


 


Cahyo tersenyum sambil mengangguk. Dia melahap lagi makanannya.


 


Mama Cahyo hanya menghela napas. Tahu kalau Yuni pasti berbohong, tapi dia tak punya bukti untuk memojokkan Yuni agar mengakui semua. “Sampaikan salam mama untuk ibu dan bapak, ya? Belikan hadiah untuk adikmu juga, Sayang.” Mama Cahyo tersenyum ke Yuni.


 


Tak ada lagi yang saling bicara. Hingga saat semua kembali ke kamar untuk tidur, Cahyo melihat Yuni sedang merapikan kasur, “Kenapa kau berbohong? Menyembunyikan semua seolah baik-baik saja, padahal kita sama-sama tahu tak ada yang baik di sini.”


 


Yuni tersenyum, dia duduk di tepi ranjang, “Aku tahu, Mas. Sulit bagimu. Aku tidak ingin semua tambah sulit dan hanya ini yang bisa kulakukan untuk membantumu.”


 


“Memangnya kamu gak ingin ikut ke rumah nenek?” Cahyo yakin, sebenarnya di sana sangat menyenangkan, tidak mungkin Yuni tak tertarik.


 


Yuni menggeleng, “Akan banyak pertanyaan di sana, Mas. Aku harus menjawab apa nanti. Lebih baik aku di rumah saja.”


 


 


“Bukankah rumahku dekat, Mas? Aku tidak butuh menginap. Jangan memikirkanku. Aku baik-baik saja.” Yuni tak ingin Cahyo jadi tak enak hati dan mengasihinya.


 


Cahyo menghela napas, “Terserah kamu saja, Yun.” Naik ke ranjang dan segera menarik selimut. Lebih baik dia tidur. Pekerjaannya besok sangat banyak, jangan sampai kesiangan untuk menjemput Nana, berdebat dengan Yuni memang tak pernah menyenangkan.


 


Yuni pun sama. Meski ada hari yang manis dilalui dengan Cahyo, Yuni tetap tak bisa memaksakan keadaan, entah siapa yang salah dan benar. Yuni pun juga menarik selimutnya sendiri dan pergi tidur.


 


***


 


Pagi ini semua orang sibuk. Semua bangun lebih pagi karena mama dan papa Cahyo akan pergi ke rumah nenek. Baru saja mertua Yuni berangkat, Cahyo sudah siap dengan tas kerjanya, “Mas, juga gak sarapan dulu?” Mertuanya sudah pergi tanpa membalik piring, kalau Cahyo juga begitu, siapa yang akan memakan semua masakan di meja?


 


Cahyo menggeleng, “Banyak pekerjaan, Yun. Aku gak mau buang waktu. Kamu pakai sopir saja nanti.” Cahyo berlalu ke garasi. Dia juga sedang tak ingin menunggu Yuni yang belum siap untuk diantar ke toko bunga. Baginya, Nana lebih penting dari pada Yuni.

__ADS_1


 


Mobil Cahyo sudah terlalu jauh. Yuni berbalik dengan gontai, tetap ke ruang makan untuk sarapan, dan bersiap pergi setelahnya. “Ke pusat oleh-oleh ya, Pak? Setelah ini antarkan ke rumah ibu.” Yuni tersenyum saat sopir mengangguk dari pantulan kaca atas.


 


“Non Yuni, mau menjenguk ibu? Hari ini tidak ke toko bunga?” Sopir mulai menjalankan mobilnya.


 


“Enggak, Pak. Kita ke pusat oleh-oleh, ke rumah, lalu belanja lagi, setelah itu ke panti. Di toko sudah banyak pekerja, aku mau liburan dengan suasana baru.” Yuni akan menyibukkan diri di bidang lain untuk seharian ini.


 


“Baik, Non.” Jawab sopir itu.


 


Yuni baru sampai di tujuan pertama, berbelanja apa pun kiranya ibu dan bapaknya suka, dan beberapa hadiah untuk adik perempuannya. Baru beberapa meter, ponselnya berdering, menandakan ada pesan masuk, dan itu dari Cahyo.


 


Cahyo : Aku tidak pulang malam ini. Kamu bisa menginap semalam di rumah ibumu.


 


Yuni menelan ludah, sangat miris sekali hidupnya, “Pak, kita belanja saja dulu. Aku ingin ke panti dulu.” Yuni sangat bersedih, dia tak ingin aura ini terlihat oleh orang tuanya, itulah kenapa dia memilih ke panti asuhan lebih dulu.


 


Seperti yang dia harapkan, semangatnya kembali tumbuh saat bertemu dengan anak-anak panti, kekonyolannya, kepolosannya, Yuni sangat suka. Hanya di sini Yuni bisa menenangkan diri. Setelah perasaannya cukup tenang, Yuni pun berpamit, “Aku pulang dulu ya, Bu? Aku akan ke sini lagi lain hari.”


 


Ibu panti itu tersenyum, “Terima kasih, Nak Yuni. Cuma kamu dan Hendra yang peduli dengan anak-anak. Selain itu hanya orang berusia senja saja. Padahal anak-anak butuh kakak seperti itu.”


 


Yuni lebih melebarkan senyumnya, “Jangan kawatir, Bu. Aku akan sering ke sini.”


 


“Makasih ya, Yun.”


 


Suara dari belakangnya itu membuat Yuni membatu.


__ADS_1


__ADS_2