Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Berbeda


__ADS_3

Yuni meringis saat Cahyo menarik tangannya hingga terasa cukup nyeri.


 


“Kau tidak mendengarkanku? Apa ini?” Cahyo memperlihatkan bekas darah yang tadi diusapnya.


 


Ratih membuka mulutnya lebar, “Apa itu? Kau terluka?” Mendekat juga meski Surya melarang dengan menarik tangannya.


 


“Da—dari mana kau tahu kalau itu milikku?” Yuni menunduk, “Aku tidak sengaja saat menyiapkan makanan.”


 


“Ya, dari mana kau tahu kalau itu darah Yuni? Kau tidak bertanya dulu padaku?” Surya heran dengan insting Cahyo.


 


Cahyo melepas tangan Yuni, dia juga membuang muka, “Karena kamu tidak suka membakar ikan dan aku mencium aroma orang membakar ikan tadi, pasti itu Ratih, bukan kamu.”


 


“W.O.W! Bahkan kau tahu apa kebiasaan Yuni, lalu apa yang kalian tunggu?” Ratih semakin penasaran saja. Yuni bercerita seolah tak pernah bahagia, tapi semua perhatian Cahyo seolah penuh pada sahabatnya itu.


 


Surya dengan cepat membungkam mulut Ratih, menyeret kekasihnya agar menjauh, meninggalkan Cahyo dan Yuni yang masih saling diam. “Pertanyaanmu tidak sopan, Sayang.” Surya mengajak Ratih ke tikar saja untuk beristirahat di sana.


 


Ratih hanya tertawa meski bekapan itu belum dilepas oleh Surya.


 


Yuni masih di tempat, dia juga tak berani bergerak sedikit pun, dan tiba-tiba Cahyo sudah menarik tangannya untuk menepi. Terus berjalan hingga duduk di tikar berseberangan dengan Ratih dan Surya.


 


“Mana yang luka?” Darah itu cuku banyak, mana mungkin hanya teriris di jari saja? Cahyo bukan anak kecil yang bisa dibohongi.


 


Yuni menunjuk kakinya, “Pisaunya terbang tadi.”


 


Ratih sangat kaget, dia bersiap untuk angkat bicara kenapa Yuni tak cerita, dan Surya sudah membekapnya lagi.


 


Entah apa yang Yuni pikirkan sampai membawa kotak P3K juga, dia tak sulit menemukannya karena ada di tas besar, membuka untuk menemukan alkohol, baru setelahnya membasuh luka Yuni dengan kapas.

__ADS_1


 


“Ssssssshh! Perih ....” Yuni meringis kesakitan.


 


“Oiya? Bukankah ini lebih baik dari pada air asin yang kau buat mainan tadi?” Cahyo kembali mencari di kotak P3K, ada obat merah juga di sana, lalu menutupnya dengan kasa.


 


“Aku dan Ratih sedang bercanda, jadi perihnya tidak terasa, berbeda dengan ini.” Kaki Yuni sudah tersimpul dengan rapi. Tadi memang tak sakit sama sekali, entah kenapa sekarang jadi perih begini, “Kita makan saja.” Ajaknya sambil mengambil piring, mengisinya dengan makanan yang sudah dibuat, dan diberikan ke Cahyo.


 


Cahyo menerimanya dan segera makan, rasanya enak, tapi dia masih kesal dengan Yuni yang ceroboh.


 


“Aku akan segera mengurus semua. Setelah ini kita pulang atau ke mana?” Surya memecah keheningan. Dia juga makan seperti Cahyo, bedanya dia sepiring berdua, tak sendiri-sendiri seperti Cahyo dan Yuni.


 


“Sudah. Kita pulang saja.” Cahyo memang tak ingin berenang.


 


“Lalu? Liburannya?” Yuni masih kurang bermain di pantai.


 


 


“Maaf, Mas.” Yuni sangat menyesal. Ini hanya luka kecil. Dia tak berpikir Cahyo akan marah hanya karena ini saja.


 


“Lupakan saja, Yun.” Setelah melewati jalan besar, Cahyo semakin cepat lagi mengemudi, dia ingin segera sampai rumah.


 


“Ada apa denganmu, Mas?! Kamu diam dan marah padaku. Padahal aku tak melakukan kesalahan. Ini hanya luka kecil dan kamu membuat semua seperti permasalahan yang besar.” Yuni yang kesal, segera berteriak sesaat setelah Cahyo turun ketika sampai rumah.


 


Cahyo tadinya ingin segera ke kamar, tapi teriakan itu menarik perhatiannya, “Apa? Kau pikir aku peduli padamu?”


 


Yuni turun dari mobil, berjalan agak lamban agar kakinya tak sakit, dan mendekat ke Cahyo, “Lalu? Apa tadi? Kamu melakukan semuanya sempurna di depan Surya dan Ratih, kalau memang kamu tidak menyukaiku, lakukan saja apa yang membuatmu puas, Mas!”


 


Cahyo dengan cemas meremas lengan Yuni, “Jangan, pernah, membentakku. Ingat itu, Yun.”

__ADS_1


 


Yuni tersenyum, “Memangnya apa yang akan kamu lakukan kalau aku membentakmu, Mas? Mengurungku di kamar mandi? Menamparku? Memukulku? Kenapa tidak kamu lakukan sekarang saja?”


 


Cahyo terkekeh sambil menggeleng, “Tidak, itu bukan seleraku. Aku hanya tidak suka mendengar kamu bicara dengan nada tinggi. Membuat telingaku sakit.” Cahyo melepas lengan Yuni lalu berbalik pergi.


 


“Aku tidak peduli! Aku akan terus berteriak! Seperti apa kemarahanmu, Mas?! Tunjukkan padaku!!” Yuni mengatakannya dengan nada tinggi dan Cahyo tetap berjalan menjauh. Dia benci dengan Cahyo, dia benci dengan keadaan ini, dan dia juga benci dengan keadaannya sendiri.


 


Malam tiba... Yuni menyiapkan makan malam, meski tak tahu apakah Cahyo mau makan bersama dirinya, Yuni tetap menyiapkan semua tanpa memanggil Cahyo setelah semua tersaji.


 


“Tuan Cahyo, makan malam sudah siap?” Pelayan hanya bicara dari luar, tanpa ingin masuk ke ruang kerja meski sudah mengetuk lebih dulu, dia tak ingin mengganggu pekerjaan tuannya.


 


Langkah kaki mendekat, Yuni yang baru saja melahap suapan pertamanya, hanya melirik Cahyo yang semakin dekat dan duduk di sebelahnya. Salmon asap dengan kentang, ini adalah makanan aneh yang dimasukkan Yuni ke mulutnya, setelah beberapa suap, dia mengambil gelas yang berisi jus stroberi. Yuni masih memandangi, dia enggan untuk meneguk, nalurinya bimbang, tapi tak mungkin dipungkiri. Yuni meletakkan minuman itu lagi tanpa menyentuhnya lebih dulu.


 


“Kenapa tidak diminum? Kamu yang membuat semua makanan ini, apa ada racunnya?” Cahyo menusuk salmon dengan garpunya, lalu melahapnya sambil terkekeh.


 


“Tidak. Aku juga makan makanan yang sama denganmu. Kalau ada racun dan tertukar, bisa saja aku mati, dan itu sangat konyol.” Yuni melahap lagi makanannya.


 


“Lalu? Kenapa tidak jadi minum? Racunnya di sana?” Cahyo semakin terkekeh. Dia merasa Yuni aneh setelah pulang dari rumah ibu dan ayahnya.


 


Yuni menoleh sambil menatap tajam, mengambil jus stroberi miliknya, dan meneguknya hingga tandas. “Puas, Tuan Cahyo?” Yuni meletakkan kembali gelas kosong itu ke tempatnya.


 


Cahyo malah mengerutkan kening, “Apa ada denganmu? Apa ada hantu yang ikut pulang dari pantai tadi? Kau aneh sekali.” Cahyo meneruskan makannya, Yuni sudah berubah, hanya ada dua kemungkinan, Yuni hanya mempermainkannya atau Yuni memang sedang marah oleh tingkahnya tadi siang.


 


Yuni tak menjawab, dia segera menghabiskan makannya, dan ke kamar. Merasa tak ada tempat lain yang mungkin bisa dia kunjungi karena tidur adalah pilihan yang terbaik.


 


Cahyo kembali ke ruang kerja, baru saja duduk, dan dia malah mengingat sesuatu, “Ah! Sial sekali. Bukankah aku harus mengambil denah yang kusimpan di ponselku?” Cahyo pun berdiri, ponselnya sedang diisi daya di kamar, jadi mau tak mau harus ke kamar bertemu dengan Yuni lagi. “Yuni?” Cahyo yang masih diambang pintu, terkejut dengan apa yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri.


__ADS_1


__ADS_2