
“Hahahahaha.” Hendra tertawa keras. Dia sedang mendengarkan Yuni yang sibuk menceritakan keresekannya dulu di bangku kuliah.
Yuni ikut tertawa, “Iya, kan? Kamu yang membuatnya menangis dan aku malu karena membela orang yang salah sepertimu, Hen.” Tertawa lagi. Setiap ingat Hendra dan semua tingkah reseknya, Yuni selalu tertawa, dan karena itu juga Yuni sulit melepas Hendra.
Hendra malah menggeleng, “Aku hanya—“ Langsung menutup mulut. Bencana datang tanpa diduga.
Cahyo meletakkan kedua tangan di meja, “Bukankah katamu kau rapat dengan Anton?” Sebelum Hendra menjawab, dia menoleh ke Yuni, “Keluar dengan Ratih?” Terkekeh, pengkhianatan ini sangat luar biasa.
Yuni langsung berdiri, “Mas, ini—“
Cahyo segera menatap Yuni tajam, “Pulang sekarang.” Nadanya tak kasar memang, tapi cukup mematikan.
__ADS_1
Hendra yang salah. Dia mengulurkan tangan untuk meminta maaf, “Tuan Cahyo, saya—“
Cahyo mengacungkan jari telunjuknya, “Aku tidak punya urusan denganmu di luar kantor.” Menoleh ke Yuni lagi, “Pulang sekarang.” Segera berbalik dan berjalan mendahului Yuni.
Yuni tak mengatakan apa pun ke Hendra, tak pamit juga, dia hanya mengambil tasnya dan menyusul Cahyo. Berjalan dengan begitu cepat karena tak ingin ketinggalan Cahyo dan segera masuk mobil setelahnya. Yuni sangat cemas, tak ada yang Cahyo katakan dari tadi, berdehem pun tidak, dan Yun8 sangat sadar kalau keadaan tak memungkinkan untuk membela diri. Kenapa Ratih punya acara mendadak seperti tadi? Karena itu juga Cahyo salah paham dan sekarang bukan waktu yang tepat untuk membela diri.
Sesampainya di rumah, Cahyo segera turun, tak menjawab sapaan mamanya dan duduk santai dengan papanya juga, yang Cahyo tahu dia harus segera sampai di kamar.
Cahyo menghela napas, “Begitu sulit rasanya mempercayaimu, Yun. Kamu sangat tahu kalau aku sangat membenci Hendra. Mau sampai kapan aku menjelaskan hal itu terus menerus, Yun? Sampai kapan?”
Yuni menggeleng, “Aku sama Ratih tadi nonton, Mas. Dia ditelepon kalau gaun pernikahannya sudah jadi dan Ratih pulang duluan.”
__ADS_1
“Kenapa harus pulang duluan? Kamu tidak ikut pulang agar bisa mengobrol dengan Hendra? Kamu tahu kalau aku tidak suka itu, huh?!” Cahyo merasa kepalanya akan meledak sebentar lagi.
“Aku tadi mau pulang, Mas. Aku cuma sebentar ngobrolnya dan Hendra—“
“Hendra, Hendra, Hendra, dan Hendra!” Cahyo menggebrak meja kecil di sebelahnya, dia berdiri, membuang jas yang dia kenakan, dasi, dan melepas juga kancing kemeja sisi atas, “Tidak bisakah kau menghargaiku, Yun? Apa sangat sulit bagimu? Sangat sulit menghargaiku, huh?!” Cahyo sangat marah, dia berdiri di depan Yuni, wanita itu menangis di depannya, dan air mata itu seolah memperjelas kalau memang ada sesuatu selama ini.”
Dengan bibir bergetar, Yuni yang ketakutan saat melihat Cahyo melepas sabuk, menjelaskan sekali lagi, “Ma—Mas, ak—aku dan Hendr—akh! Akh! Ampun, Mas! Ampun, Mas! Akh!!” Berteriak sekeras yang dia bisa.
“Aku sudah bilang, Yun! Jangan menyebut namanya lagi! Jangan berani menyebut namanya lagi, Yun! Apa kamu tidak mengerti juga? Kamu tidak mendengarnya, huh?!” Cahyo terus bicara sambil sibuk memecuti Yuni dengan sabuk yang dikenakan tadi. Dia marah dan benci, dia cinta dan emosi, setelah sekian lama mencintai Yuni dengan sangat sulit, dia malah dicampakkan seperti ini. Wanita macam apa Yuni itu?
“Ampun, Mas! Akh! Akh! Ampun, Mas! Ahhkk!!” Yuni bahkan sudah terkelepai di lantai, tak mampu menghalau lagi pecut yang terus bertubi menyapa kulit, bahkan air mata itu juga bercampur dengan keringat. Raganya menahan kesakitan yang teramat.
__ADS_1
Mendengar teriakan dari atas, mama Cahyo naik dengan setengah berlari, mendorong pintu kamar agar terbuka lebar, dan begitu terkejut mendapati pemandangan di depannya, “Cahyo!!”