Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Aku suamimu


__ADS_3

Pintu ruang kerja terbuka tanpa terdengar lebih dulu dan ternyata Nana tersangkanya. Cahyo mengacuhkan senyum itu, dia sedang tak ingin berurusan dengan siapa pun, dia saja tak makan siang untuk menenangkan dirinya sendiri, Nana malah mengganggunya.


 


“Sayang, kita makan, yuk! Kamu pasti belum makan.” Nana merangkul Cahyo, mengusap rambut yang tanpa disadari mulai panjang, dan mengecup pelipis juga, “Aku tahu... kehamilanku sangat mengejutkan, mama dan papa pasti sangat bahagia hingga membuat semua orang jadi sibuk, di saat seperti ini kamu harus tetap sehat, Sayang.” Kembali mencium pelipis Cahyo beberapa kali.


 


Cahyo tersenyum, “Ayo kita makan.” Berdiri, dia menggandeng Nana ke luar, dan segera menuju kantin kantor. Benar kata Nana, kalau dia sampai sakit, siapa yang masih sudi merawatnya? Yuni saja pasti sudah membencinya saat ini.


 


Nana tersenyum kecut, “Tidak biasa kamu makan di kantin, Sayang. Apa... pekerjaan yang kutinggal menyulitkan semua orang?”


 


“Ya, semua orang terlalu sibuk hari ini, Na. Makanan di sini juga enak, lagi pula aku ingin kembali bekerja setelah ini, gak apa-apa ‘kan kalau kita makan di sini saja?” Cahyo melahap makanannya sambil tersenyum ke Nana.


 


Nana mengangguk, “Makanannya memang enak, Sayang. Oiya, ada yang ingin kubicarakan padamu, ini tentang pernikahan kita.”


 


Cahyo segera minum dan menatap Nana tajam, “Tidak bisakah kamu membahas hal lain? Semua orang masih terkejut dan kamu terus mengejarku seperti ini? Berapa tahun kita kenal, Na? Apa aku seperti pecundang di depanmu?” Selera makannya sirna sudah.


 


Nana tersenyum, melahap makanannya tanpa terintimidasi, dan mendongak kembali ke Cahyo. “Aku tahu semua sangat mengejutkan dan buru-buru, karena itu kupikir dengan pernikahan sederhana saja cukup, catatan sipil memang penting, tapi aku ingin tanggal pernikahan yang bagus, jadi... kalau kita menikah siri dulu... bagaimana menurutmu?”


 


Cahyo mengerutkan kening, bicara apa Nana saat ini? Apa wanita hamil di depannya ini sedang mabuk?


 


Nana membuang napas kasar, “Ya... mungkin terdengar gila, tapi aku tidak mau membebanimu, lagi pula mama dan papamu tetap tidak menyukaiku. Aku hanya butuh anakku tidak kehilangan ayahnya, Sayang.”


 


Cahyo menggeleng, tidak percaya dengan telinganya sendiri, dan itu pula yang membuatnya berdiri dan langsung memeluk Nana, “Terima kasih, Sayang. Aku tidak pernah salah sudah memilihmu dari dulu.” Satu malah yang diatasi ini, akan membuat kepalanya agak dingin meski masalah lain menuntut untuk segera diselesaikan, tapi setidaknya dia bisa bernapas saat ini.


 


“Sama-sama, Sayang.” Nana mengusap punggung Cahyo. Apalah arti pernikahan kalau dia tetap miskin? Siri saja sudah cukup, gaji Cahyo akan dia kuasai, jadi catatan sipil itu tidaklah penting baginya.


 


Cahyo melambaikan tangan ke Nana, setelah pulang memang kekasihnya segera pulang, dan dia yang tidak punya pekerjaan, memilih pulang. Baru saja tiba, melihat mamanya duduk di taman, Cahyo pun mendekat, “Ma.”


 

__ADS_1


Mama Cahyo tersenyum, “Duduk, Sayang. Kudengar papamu ke kantor tadi.”


 


Cahyo mengangguk, “Membahas masalah saham.”


 


“Papamu tidak pernah main-main dengan ucapannya, lagi pula gajimu dan gaji Nana cukup besar, untuk membesarkan anak sepertinya cukup.” Mama Cahyo tersenyum ke putranya.


 


Cahyo menelan ludah, tak ada hal yang bisa dilakukan selain mengangguk, “Ya.”


 


“Aku tadi juga bicara dengan Yuni, dia minta tinggal di toko mulai sekarang—“


 


“Ma—“ Cahyo tak jadi bicara saat mamanya mengangkat tangan.


 


“Aku belum memberinya jawaban, meski apa yang dia inginkan bukan sebuah kesalahan, Yuni juga butuh waktu untuk dirinya sendiri, Cahyo. Jangan egois.” Mama Cahyo tersenyum, dia memang ada di kubu Yuni, dan Cahyo harus berhati-hati pula padanya mulai saat ini.


 


 


Mama Cahyo mengerutkan kening, “Kenapa? Bukankah kalian akan segera punya anak? Pilih satu hati, Cahyo. Kamu tidak ingin dua wanita itu hancur, kan?”


 


Cahyo menggeleng, “Aku tidak bisa, Ma. Aku tidak mau Yuni pergi.”


 


“Lalu?” Mama Cahyo tak tahu harus mengambil keputusan yang mana, “Apa Nana mau menggugurkan kandungannya?”


 


Cahyo menggeleng.


 


“Semua karena kamu menunggu anak itu, kan? Lalu bagaimana dengan Yuni? Cari pengacara dan tanda tangani surat cerainya.” Sebenarnya semua hanya gertakan, mama Cahyo tak tahu lagi harus bagaimana memecah permasalahan ini.


 


Cahyo masih menggeleng.

__ADS_1


 


“Okey, kamu tidak mau Yuni pergi dan tetap ingin punya anak, menurutmu mama harus bagaimana?” Kali ini mama Cahyo membiarkan putranya yang mengambil keputusan.


 


Cahyo tetap menggeleng. Jangan hukum dia seperti ini. Cahyo juga punya hati.


 


Mama Cahyo pun menghela napas panjang dan dalam, “Pikirkan semua dengan baik, Cahyo. Tetap ada nama yang harus kamu pilih.” Berdiri, pergi lebih dulu meninggalkan putranya yang tak bedaya, tahu kalau bukan hanya dirinya yang bingung.


 


Setelah lelah berpikir dan tak menemukan apa pun, Cahyo berdiri, berjalan dengan gontai ke kamar, menyadari semua sangat sepi, Cahyo duduk di ranjang dengan pikiran kosong. Tak lama pintu terbuka, Cahyo tersenyum saat melihat Yuni, dia pikir tak akan lagi menemukan wajah itu di sini.


 


Yuni tersenyum, “Mas, sudah pulang?”


 


Cahyo mengangguk, terbuat dari apa hati Yuni, bukankah semalam tangis itu sangat parah, dan sekarang Yuni sudah menyapanya semanis ini lagi.


 


Yuni tersenyum lebih lebar, “Kupikir Mas masih di kantor tadi, jadi aku pulang, tapi malah bertemu Mas sekarang.


 


Cahyo mengerutkan kening, tak paham dengan ucapan Yuni, “Apa maksudmu? Kamu menghindariku? Ini rumahku, aku berhak pulang kapan pun, Yun.”


 


Yuni mengangguk, “Ya, Mas benar. Aku bilang ke mama kalau akan tinggal di toko untuk sementara, kata mama harus menunggu jawaban dari Mas, tapi rasanya sangat berat, jadi aku berencana pindah sekarang. Aku ingin ketenangan, Mas.” Tersenyum kembali, tatapan apa yang dia punya sekarang, seolah tak berarti apa pun lagi.


 


Cahyo menggeleng tegas, “Tidak. Aku masih suamimu, jangankan tinggal di tempat lain, memintamu sekarang saja tak ada yang melarang, Yun.”


 


Yuni mengangguk, “Ya, Mas benar. Kita memang masih suami istri, tapi aku juga ingin ketenangan, Mas. Sehari, dua hari, apa itu pun sulit?”


 


Cahyo mulai kesal dengan pembasahan ini, “Sudah kukatakan, Yun. Aku suamimu! Bahkan jika aku meminta hakku, kamu harus melayaninya, dan itu kewajibanmu!!” Cahyo berdiri, menunjuk Yuni dengan tatapan tajamnya, “Itu... kewajibanmu, Yun.” Ucapnya sambil terus mengacungkan jari telunjuknya ke Yuni.


 


Yuni tersenyum, tangannya membuka kancing blusnya, membiarkan semua terbuka agar Cahyo mudah jika ingin menjamah, “Ya, aku akan melayanimu, Mas. Lakukan sesukamu.” Ucapnya setelah semua kain itu terlepas, hanya mengenakan bra dan ****** ***** saja, biar jika Cahyo meminta jatahnya sekarang.

__ADS_1


__ADS_2