Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Di apartemen


__ADS_3

‘Semua sudah beres, Sayang. Pembayaran juga sudah lunas, nanti sore kita harus ke sana untuk mencicipi makanan untuk pesta, jangan terlambat atau aku akan marah.’


“Tuan Cahyo? Tuan Cahyo?!” Surya menyenggol lengan sahabatnya.


“Ya?” Pikirannya yang berkecamuk, membuat Cahyo tak konsentrasi dalam rapat, suara Nana tadi pagi seolah menggaung di rongga telinga, dan tak mau pergi. Pernikahan semakin dekat dan rasa itu sudah menghilang, bagaimana bisa Cahyo bersikap baik-baik saja? Semua semakin kacau dan dia tak bisa memperbaiki.


Surya menghela napas, “Anton bilang kalau Mr ingin kita ke pantai besok, mungkin nona Yuni juga harus hadir, jadwal rapat kita sibuk, jam berapa Anda bisa ke sana untuk menemui Mr?” Mengulang perkataan Anton tadi. Dia yakin Cahyo kehilangan fokus karena perkara ini.

__ADS_1


Cahyo menoleh ke Anton, melihat pria itu mengangguk, Cahyo pun ikut mengangguk, “Atur saja. Aku... bisa datang kapan pun.” Tersenyum ke Anton.


“Baiklah, kalau begitu kami akan menunggumu di pantai, jangan terlalu siang, kita makan bersama setelah itu. Aku permisi dulu.” Anton segera berdiri, bersalaman untuk pamit, dan dia ke luar dari ruang rapat.


Cahyo menghela napas, “Aku akan bertemu Yuni besok dan di pantai ada Hendra.”


Cahyo mengangguk, “Aku akan ke luar sebentar, kalau ada yang mencariku, telepon saja.” Dia pun berdiri dan pergi. Kali ini sengaja menyetir sendiri, dia tak ingin sopirnya atau bahkan seorang pun tahu kalau dia sangat ingin bertemu dengan Yuni. Baru saja sampai toko bunga, dia melihat Yuni yang ke luar dan masuk ke sebuah mobil yang begitu dia tahu itu milik keluarganya, “Sejak kapan Yuni bisa menyetir?” Cahyo memasukkan gigi dan membuntuti Yuni. Melihat mobil itu berbelok ke apartemen, Cahyo pun terkekeh, “Mama sangat menyayangimu, Yun.” Gumamnya sambil terus mengekor.

__ADS_1


Cahyo sangat tahu aset mana saja milik keluarganya dan semua menjurus ke nomor yang sama. Saat Yuni masuk lift, Cahyo pun masuk juga meski di lift lainnya, dan segera menekan bel di mana dia yakin Yuni ada di dalam sana.


Yuni mengerutkan kening, “Kenapa ada tamu?” Heran karena bel apartemennya berbunyi. Padahal dia baru masuk, sepertinya ada petugas atau apa pun, dan Yuni segera membukakannya. “Mas Cahyo?!” Dengan panik Yuni mendorong pintu apartemennya lagi. Dari mana Cahyo tahu keberadaannya di sini? Sepertinya banyak mata-mata yang mengawasinya.


Baru saja Cahyo memasang senyum termanisnya, tapi refleks Yuni yang mau menutup kembali pintu itu, Cahyo pun tak kalah gesit. Dia ikut mendorong juga agar pintu terbuka, dan di saat dirinya yang menang, Cahyo terkekeh. Dilihatnya Yuni menutup mulut sambil terus mundur, sedangkan Cahyo menendang pintu perlahan agar menutup, otomatis terkunci dari dalam, dan kini dia pun melepas jas yang dia kenakan.


“Ma—mas Cahyo, kenapa ke sini?” Yuni terus mundur, apa ini akhir dari kehidupannya? Ajalnya sudah dekat? Masih terasa pecutan dari sabuk yang dikenakan Cahyo, apa suaminya itu masih mau mengulangi?

__ADS_1


Cahyo terkekeh, “Kenapa kamu sangat ketakutan, Yun? Kata Ratih dan Surya kamu tidak bersalah, tapi aku yang salah, kenapa kamu ketakutan? Kamu tidak berselingkuh dengan Hendra, kan? Ah!” Cahyo mengerutkan kening saat mengingat sesuatu, “Sejak kapan kamu bisa menyetir? Apa Hendra juga yang mengajarimu?”


__ADS_2