
Cahyo baru saja menyelesaikan semua pekerjaannya. Dia pun merapikan meja dan segera menemui Surya, “Aku akan pergi. Apa Mr menghubungimu lagu?” Duduk dengan percaya diri di seberang Surya.
Menggeleng, “Belom, mangkanya cepat beli ponsel, aku kawatir kita kecolongan lagi. Nana memang menyebalkan, tapi dia tak terkalahkan tentang kerja lapangan, Hendra juga bagus, tapi anak muda itu kurang sigap kerjanya.” Surya hanya mengeluhkan dari sudut pandangnya saja.
Cahyo terkekeh, “Masih beberapa tahun, berbeda dengan Nana yang sudah hampir setengah abad di sini.” Tertawa, hanya sebentar, dan Cahyo kembali menampakkan wajah seriusnya, “Bagaimana dengan pernikahanmu? Jangan ambil cuti mendadak, kamu tahu kan kalau tak ada yang bisa diandalkan di sini?” Kalau harus kehilangan Surya dan Nana, perusahaan ini akan cacat, Cahyo tidak bisa melepas keduanya bersamaan.
“Desainer tadi baru saja telepon, katanya baju Ratih sudah siap, kuharap tidak ada perubahan lagi atau pernikahan itu akan diundur.” Surya tertawa bersamaan dengan Cahyo, “Bulan depan, tapi aku sudah mengurus semuanya, ada sekretaris kantor yang akan menggantikanku selama dia minggu, jangan kawatir. Aku mencari hari di mana tidak banyak jadwal rapat, jadi kamu bisa ikut bulan madu bersamaku.” Surya tertawa lagi setelah mendapat lemparan buku dari Cahyo.
“Lebih baik aku bulan madu sendiri, Sialan!” Cahyo terbahak-bahak. “Kamu tidak mengantar Ratih?” tanyanya lagi.
Surya menggeleng, “Tidak, tapi kami akan makan siang bersama nanti. Bagaimana dengan pernikahanmu? Ada jalan ke luar yang kamu suka?”
__ADS_1
“Kami bercumbu lagi semalam.” Jawaban itu sangat enteng ke luar dari mulut Cahyo.
“Bercumbu? Kau dan Nana? Gila!” Surya tak paham dengan sikap Cahyo yang tak pernah bisa tegas ke Nana.
“Kau mengenalku dengan baik, sangat sulit menjauhi Nana, dia tahu bagaimana cara memperlakukanku dengan baik. Sentuhannya, belaiannya, aku tidak pernah bisa melupakan setiap sentuhan Nana, dan karena itu juga aku selalu gila jika dekat dengannya.” Cahyo benar-benar jujur saat ini.
Cahyo terkekeh, “Jangan kawatir. Aku pergi dulu.” Dia sudah tersudut, Cahyo pun pergi untuk berangkat membeli ponsel, entah apa yang mendorongnya untuk berbelok, dan mendatangi mall yang kemarin lagi.
Setelah memarkir mobil, Cahyo masuk begitu saja, dia ingin membiasakan diri dengan keramaian. Masih bisa diingat, tawa Yuni kemarin saat bersama Ratih, sangat lepas sekali, dan Cahyo bisa menyimpulkan kalau mall adalah tempat yang disukai oleh Yuni. Dia ingin mempelajari tentang tempat satu ini, berharap suatu saat bisa membe4i sebuah kejutan ke Yuni, dan di tempat seramai ini pula.
__ADS_1
“Aku suka yang ini.” Cahyo menunjuk ponsel keluaran terbaru, “Pasangkan kartu dan emailku juga.” Cahyo menyerahkan ponselnya yang sudah hancur itu ke pegawai konter.
“Tunggu sebentar, Tuan.” Pegawai itu segera mengotak-atik ke dua ponsel tersebut bersamaan.
Cahyo mengangguk, dia berasa bosan hanya duduk diam, memutuskan untuk memutar kursi dan melihat seramai apa tempat ini. Baru beberapa detik mungkin dan dia melihat senyuman yang amat dikenalnya. Amarahnya memuncak, Cahyo segera berdiri, siap untuk membongkar kebusukan yang sangat dia benci.
“Maaf, Tuan!” Pegawai itu setengah berteriak dan berlari mendekat, “Sudah selesai ini yang harus dibayar.”
Cahyo segera menggesekkan kartu ke alat yang dibawa pegawai itu, mengambil ponselnya dengan kasar, dan kembali mendekati target yang masih saja ketawa ketiwi di depan sana.
__ADS_1