Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Muak


__ADS_3

Cahyo diam menatap jalanan yang ramai. Sopir mengantarnya dengan kecepatan apa pun, tak ingin protes, yang Cahyo pikir hanya harus ke mana dia mencari Yuni.


“Tuan Cahyo, kita sudah sampai.” Sopir sengaja berucap karena bosnya tetap diam. Bahkan mobil sudah berhenti sejak beberapa menit lalu.


Cahyo menoleh dan memperhatikan ke luar mobil, memang ini pelataran parkir kantor, dan dia pun segera turun tanpa mengatakan apa pun. Cahyo ingin berkemas dan pulang, tapi sekretaris kantor malah ikut masuk, “Apa ada hal penting?”


Sekretaris kantor itu tersenyum, “Nona Nana datang ke mari tadi dan beliau ingin Anda segera pulang, nona Nana menelepon Anda, tapi Anda tidak mengangkatnya, dan pak Surya juga sedang di pantai sekarang, karena itu saya yang ke mari, Tuan Cahyo.”


Mendengar kata pantai, Cahyo pun mengerutkan kening, dia segera melihat ponselnya, ada beberapa telepon dari Surya, dan dia segera menelepon saat itu juga, “Di mana?” tanyanya sambil mengibaskan tangan agar sekretaris kantor ke luar dari ruangannya.


“Aku di lobi, apa aku harus ke ruanganmu sekarang atau kamu ada di luar?” Surya baru saja pulang dari pantai.


“Masuk saja, aku di kantor, kututup dulu.” Cahyo meletakkan ponselnya di meja, banyak pesan dan panggilan tak terjawab juga dari Nana, tapi dia tak berniat menelepon Nana balik. Dia sedang bingung dan semua masalah seolah mengimpit begitu saja. Setelah menunggu dengan cemas, melihat Surya masuk, Cahyo pun menghirup napas panjang dan dalam, “Aku tidak dengar teleponmu tadi.”


Surya mencebikkan bibir sambil menggeleng, “Tidak masalah. Ada dua hal yang Mr bahas tadi, pertama aku akan menyampaikannya sebagai karyawanmu, pembangunan harus selesai dua atau paling tidak tiga bulan lagi dan Mr menanyakan tentang pernikahanmu dengan Nana, aku tidak tahu dia dengar dari siapa, tapi sebaiknya kamu mengundangnya. Ke dua aku akan bicara sebagai temanmu, aku tahu ini tidak pantas, tapi Mr bilang kalau dia akan menikah dengan Yuni—“

__ADS_1


“Apa?!” Cahyo sangat tak percaya dengan apa yang didengarnya ini.


Surya menarik napas panjang, “Aku mengirimkan email saat menemukanmu waktu itu, kau bilang ke salah pahamanmu dan Yuni di sini tak sengaja terdengar oleh Mr, kan? Aku tidak tahu, tapi sepertinya Mr bersama Yuni sekarang, dan... mendatanginya bukan pilihan yang tepat.” Surya tak ingin proyek yang setengah jadi itu terlepas oleh masalah pribadi begini.


Cahyo menelan ludah, “Kirim undangan makan malam, biar aku bicara dengan Mr, sejak lama aku tak terlalu suka dengannya, kalau bukan kenalan papa dan klien dari dulu, aku tak mau bekerja sama dengan Mr.”


Surya mengangguk, dia segera mengetik dengan ponsel pintarnya sebuah email yang berisi undangan makan malam, dan dikirimkan saat itu juga ke Mr. “Jangan terlalu gegabah, uang perusahaan yang masuk sudah sangat banyak, kalau terlepas kita akan rugi.” Surya sangat tahu risiko apa yang perusahaan akan tanggung nanti.


Cahyo mengangguk, “Aku—“


Cahyo mengangguk, “Kurasa dia hanya menggertakku saja.” Menyandarkan punggung, “Buat saja undangan khusus untuk Mr. Aku ingin tahu seberani apa dia menantangku.” Terkekeh, Cahyo sangat paham mempermainkan orang seperti Mr ini.


Surya hanya bisa mengangguk, dia bukan di posisi bisa berpendapat karena dia tahu wajah serius yang Mr pamerkan tadi.


Yuni... dia segera menoleh ke Mr saat sadar, “Apa aku pingsan tadi?”

__ADS_1


Mr tersenyum, “Aku yang salah, Anda hamil, dan aku mengajakmu berjalan terlalu jauh. Bagaimana rasanya? Apa masih pusing?” Meraih tombol merah agar suster segera datang.


Yuni tersenyum. Andai Cahyo sebaik Mr, mungkin hidupnya akan bahagia, tapi kenyataannya sangat berbeda. “Aku yang mau, Mr.” Yuni bangun perlahan, membiarkan Mr membantunya, dan bersamaan dengan suster yang masuk, “Kalau aku tidak mengajak ke sana, semua pasti tidak terjadi, kan?”


Mendengar pembicaraan itu, suster pun tersenyum, “Suami Anda sangat baik, Nyonya. Anda beruntung punya suami siaga.” Memeriksa tensi, setelah hasil menunjukkan stabil, dia tersenyum lagi ke pasiennya, “Anda sudah bisa pulang sekarang, Nyonya, Tuan.”


Yuni mengangguk. Tak butuh waktu lama untuk Mr menyelesaikan administrasi, dan ke duanya segera pulang. “Hm... gara-gara aku Anda... hm... maaf atas sebutan tadi. Suster jadi salah paham.” Yuni tak enak karena Mr sudah dianggap suaminya. Dia berharap persahabatan ini tak pernah ternoda.


“Hahahahaha. Jangan terlalu dipikirkan, Nona Yuni. Kita makan siang dulu, ya? Anda pasti lapar karena aku juga lapar saat ini.” Mr menepikan mobilnya saat melihat warung sate, sengaja memesankan Yuni sate ayam karena itu lebih ramah untuk wanita hamil.


Di tengah makan, Mr menatap Yuni, wajah itu masih menyimpan muram, tapi dia tak ingin menyembunyikan apa pun. “Hm!” Saat Yuni mendongak, Mr tersenyum, minum beberapa teguk agar tenggorokannya lebih lega, dan bersiap membahas hal yang lebih dalam. “Aku ke pantai tadi, proyek sebentar lagi selesai, aku tidak pertemu tuan Cahyo, hanya ada Hendra dan Surya.” Setelah Yuni mengangguk, Mr tersenyum dulu sebelum melanjutkan ucapannya, “Surya mengundangku ke pernikahan ke dua tuan Cahyo yang diadakan tiga hari lagi. Apa Anda—“


Yuni menggeleng cepat, “Berjalan beberapa langkah saja aku pingsan, kalau datang orang akan salah paham, lebih baik aku tetap di vila. Maaf tidak bisa menemani Anda, Mr.” Yuni muak. Dia tak ingin bertemu dengan Cahyo lagi.


Mr mengangguk sambil tersenyum. Dia mendapatkan jawaban yang paling ditunggu dari tadi.

__ADS_1


__ADS_2