
Mama Cahyo mendorong putranya kasar, membantu Yuni yang terkelepai di lantai, dan memeluk. “Sayang, maafin mama, ya? Karena mama kamu harus kenal dengan pria berengsek seperti Cahyo, maafin mama, Sayang.” Menciumi Yuni dan terus mengusap lengan Yuni.
Papa Cahyo yang mengikuti istrinya, menatap geram Cahyo, meski baju itu sangat berantakan, seolah mencerminkan isi hati, papa Cahyo tetap enggan mengatakan sesuatu untuk membela seorang pun.
Cahyo terkekeh, “Menantu yang Mama banggakan itu sudah menyelingkuhi anakmu, Ma. Buat apa Mama bela dia? Buat apa?!”
“Cukup!” Mama Cahyo menoleh sambil mengacungkan jari telunjuk, “Apa kau sadar dengan yang kamu katakan, huh?! Memangnya kenapa kalo Yuni selingkuh? Kau dan Nana melakukan hal yang sama!” Teriaknya tak kalah keras dari guntur.
Cahyo mendekat, dia ingin bicara di depan Yuni agar wanita tak tahu diuntung itu bisa dengar, tapi papanya malah menarik lengan dan mendorongnya menjauh. “Hahahahaha.” Cahyo tertawa saat dirinya jatuh ke lantai, “Hebat kamu, Yun. Hebat!” Bertepuk tangan. Bahkan semua orang jadi buta hanya untuk membela menantu kesayangannya.
__ADS_1
“Cahyo!” Papa Cahyo tak sabar lagi jika terus diam dan baru saja putranya mau bicara, papa Cahyo membuka tangan agar putranya diam, “Mulai malam ini, Yuni tidur di toko bunga, dan aku sendiri yang akan mengurus perceraianmu dengan Yuni.”
Mendengar itu, Yuni menangis semakin deras, dua mertuanya begitu membela, tapi kenapa dengan suaminya? Baru kemarin semua hal yang menyenangkan dilewati bersama dan kini harus sirna hanya karena ke salah pahaman saja? Bolehkah Yuni tak rela? Dia sudah jatuh cinta, kenapa harus seperti ini? Dia yakin cintanya tak salah, tapi kenapa harus begini?
Mama Cahyo memeluk menantunya semakin erat. Tak rela atas ucapan suaminya, tapi jika hanya jalan ini yang terbaik?
Cahyo terkekeh sambil menggeleng, “Tidak akan ada yang bisa memisahkanku dari Yuni, termasuk dengan Papa juga, dia istriku dan itu berarti dia adalah hakku, Pa.” Cahyo berdiri, dia ingin menarik Yuni dan menguncinya ke kamar mandi, tapi lagi-lagi papanya menghalangi, “Papa!”
Cahyo terkekeh lagi, mendorong pipi dengan lidah di sisi yang ditampar papanya, dan tak mengalihkan tatapannya dari Yuni.
__ADS_1
“Bawa Yuni ke luar.” Papa Cahyo mengatakannya tanpa menoleh ke istrinya.
Mama Cahyo segera membantu Yuni bangun dan ke luar dari kamar itu. Banyak pelayan di luar, “Ambilkan kotak obat dan air hangat, handuk jangan lupa, cepat!” Terus berjalan meski memerintah dengan lantang. Setelah tiba di ruang keluarga, mama Cahyo pun segera mengusap air mata Yuni, “Maafkan mama, Sayang. Maafkan mama sudah memaksamu menikah dengan putra mama.” Tak disangka air matanya ikut menetes, kenyataan ini sangat pahit melihat banyak garis menghias kulit putih Yuni, tak ada yang samar, semua sangat jelas, dan dari sana dia yakin kalau ini bukan yang pertama kalinya dilakukan Cahyo.
Yuni mengangguk, “Mama, jangan nangis. Aku gak apa-apa kok, luka ini dua hari lagi pasti sembuh, aku bisa pakai baju lengan panjang dulu.”
Pelayan datang, mama Cahyo segera menyahut baskom berisi air hangat dan handuk, lalu segera menyeka semua memar itu sebelum dioles salep nanti. “Diam! Mama gak suka kamu terus membela Cahyo, mama sangat tahu kalau putraku sangat berengsek, jadi jangan membelanya lagi, Yun.”
Bruakkk!
__ADS_1
“Apa itu?!” Mama Cahyo ter jingkat mendengar benda jatuh di atas sana.