
Hari berganti, setelah menyelesaikan pekerjaan di pantai, sengaja dia ke kantor. Dengan membawa mapnya, datang ke ruangan Surya, “Pak, ada yang membuatku bingung, apa ini sudah benar?” Hendra segera membuka map, mencari gambar yang menunjukkan peta, dan memperlihatkannya ke Surya, “Jembatan akan memanjang dari sini ke sini, tangga turun di sisi tengah harus sejajar atau beda saja untuk menambah kesan estetik?” Hendra mendengar jawaban Surya dengan saksama.
“Ada yang membuatmu bingung?” Surya suka dengan Hendra yang lumayan cekatan dalam hal tata ruang.
Hendra menggeleng, “Tidak. Apa tuan Cahyo di ruangannya? Apa aku harus meminta tanda tangan lagi?” Hendra mengemas mapnya dan siap pergi.
“Ya, ada, tapi tidak usah minta tanda tangan, aku dan Cahyo sudah membahas perihal ini.” Surya sangat tahu apa keinginan Cahyo tentang jembatan yang dimaksud Hendra.
“Baik, kalau begitu aku kembali dulu.” Hendra pun beranjak, dia tersenyum sepanjang jalan, bukan karena desain itu dia ke sini, tapi tujuannya adalah untuk memastikan Cahyo ada di rumah, dan setelah mengetahuinya, Hendra pun segera ke rumah Yuni.
Bukan Yuni, tapi mama Cahyo yang menemui, “Sepertinya aku pernah melihatmu? Ada urusan apa dengan Yuni?”
Hendra tersenyum sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal, “Kita pernah ketemu di panti asuhan, Bu. Saya teman kuliah Yuni, tahu kalau Yuni sakit, saya membawakan ini.” Hendra mendorong keranjang buah yang dibawanya tadi.
Niatan itu baik, mama Cahyo tak enak kalau mengusir, meski nyatanya dia tak suka ada tamu yang terang-terangan ingin bertemu Yuni. “Tunggu di sini, aku akan memanggilkan Yuni, dan ingat! Yuni itu sudah menikah.” Mama Cahyo segera berdiri sebelum pria di depannya menjawab. “Jaga sikapmu, Yun. Katakan padanya kalau tak usah datang lagi ke sini.” Itu larangan atau perintah, mama Cahyo tak mengerti, dia hanya ingin Yuni tahu atas ke tidak sukaannya.
__ADS_1
“Iya, Ma.” Yuni tersenyum dan segera menemui Hendra, “Ngapain ke sini, Hen? Kamu ‘kan tahu kalau ada mertuaku di sini, aku juga sudah menikah, kamu cari gara-gara?” Duduk berseberangan dengan Hendra.
“Ini untukmu, meski buah yang dibeli Cahyo lebih mahal dari ini, setidaknya terimalah.” Hendra tersenyum.
“Ada lagi?” Yuni benar-benar tak berani menanggapi ucapan Hendra. Dia yakin mamanya mengintip di suatu tempat.
“Aku sudah pindah ke pantai kemarin, setelah dari sini, dan—“ Hendra menghela napas, “mungkin sangat sulit, tapi apa kamu tahu aku sedang melihat siapa di sana, Yun?”
“Nana dan Anton.” Hendra sengaja memotong ucapan Yuni, “Mereka berciuman, memeluk, berhubungan badan, bukankah—“
“Hen.” Yuni tersenyum saat Hendra seketika diam, “Aku sudah tahu.”
“Apa?!” Kalimat itu malah mengejutkan Hendra.
__ADS_1
Yuni mengangguk, “Ya, aku sudah tahu, tapi aku tidak punya bukti, Hen.”
“Kamu tahu ‘kan kalau aku cinta sama kamu, aku sayang sama kamu, dan aku gak rela kamu cuma disakiti sama Cahyo, Yun. Sekarang saat kamu sudah mengetahui semuanya, kamu malah diam saja hanya karena gak punya bukti? Wanita macam apa kamu ini, Yun?” Hendra ingin memukul, entah Cahyo atau Nana, yang jelas hanya Yuni saja yang tak bersalah di sini.
Yuni tersenyum lagi, “Ucapan tak akan dipercaya tanpa bukti, Hen. Kamu tahu aku gak bisa naik mobil, aku gak bisa bawa motor sendirian, aku gak bisa nyari apa pun.”
“Kalau begitu aku akan mengajarimu naik mobil, okey?” Hendra tak ingin kehidupan Yuni semakin sengsara.
Yuni malah terkekeh, “Kalau sudah selesai pulang saja, Hen. Terima kasih buahnya. Aku masuk dulu.” Yuni mengambil keranjang buah itu dan masuk.
Hendra ingin berteriak, tapi dia tak berani karena tahu ini bukan rumah Yuni, ada mertua Yuni di sana, dan itu akan membuat permasalahan semakin runyam. Hendra pun pulang dengan lesu, ternyata tak ada guna temuannya kemarin, harusnya dia tak lancang minta pekerjaannya dipindah agar tak melihat semua kejadian ini.
Yuni berhenti, mertuanya menatapnya tajam, dan dia pun jadi salah tingkah. Pasti mertuanya mendengar semua dan Yuni tak tahu harus menjelaskan dari mana mengenai hal itu.
__ADS_1
“Mulai besok belajarlah mengemudi dengan Hendra, aku yang akan mencarikanmu alasan, kamu memang menantuku, Yun. Jadi kerjakan semua ucapanku.” Mama Cahyo berjalan ke arah luar meninggalkan Yuni yang masih membatu.