Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Tak akan melirik


__ADS_3

Mama Cahyo mengerutkan kening, tidak biasa melihat putranya di jam segini, “Ada masalah, Sayang?”


 


Cahyo tersenyum sambil menggeleng, “Tidak, Ma. Ke mana papa? Aku mau pergi selama beberapa hari. Ada hal yang harus kuselesaikan.” Duduk di sebelah mamanya sambil menurunkan kepala ke pangkuan.


 


“Masalah kantor? Papamu sudah tahu?” Mama Cahyo jadi kawatir.


 


“Bukan, Ma. Tentang hal lain. Jangan kawatir.” Cahyo tak ingin mamanya tahu.


 


“Lalu ... apa yang bisa mama bantu?” ucap mama Cahyo.


 


“Doakan saja aku berhasil. Aku akan meneleponmu setiap hari. Aku pergi dulu, Ma.” Cahyo mencium pipi mamanya dan beranjak.


 


Mama Cahyo malah mengekor putranya, “Kenapa aku merasa akan ada yang terjadi? Katakan, mama perlu tahu semuanya.”


 


Cahyo malah terkekeh, “Aku mencarikan menantu untukmu, Ma.”


 


Barulah mama Cahyo menghentikan langkah, “Menantu mama cuma Yuni, jangan cari wanita lain atau wanita itu bisa saja mama usir dari sini.”


 


Cahyo menggeleng sambil tertawa. Tahu mamanya sedang emosi, dia pun melanjutkan langkah ke kamar, mengemas apa yang kiranya perlu, dan segera turun kembali. “Aku pergi, Ma. Tidak akan lama. Aku akan menelepon setiap sore.” Mencium pipi mamanya lagi dan pergi. Tak ada kalimat berarti, sepertinya mamanya terlalu serius menanggapi apa yang diucap tadi, tetapi sepertinya bagus. Cahyo tidak perlu menjelaskan banyak hal yang hanya akan merepotkannya.

__ADS_1


 


Cahyo segera pergi ke sebuah rumah yang ada di pinggir kota, mobil Surya bahkan sudah di sana, dan dia masuk begitu saja tanpa memedulikan tundukan hormat anak buah yang menyapa. “Di mana dia?” Tidak sabar rasanya untuk bertemu.


 


Surya menoleh, “Untuk sementara dia akan di sini, setelah semua kondusif, kita akan memikirkan rencana selanjutnya.” Mengulurkan dompet ke Cahyo.


 


Menghela napas, “Kurasa kamu tahu siapa aku, kalau ingin bermain, katakan sekarang. Aku tidak mau terlambat.” Cahyo mengambil dompet itu, memeriksanya sekilas, dan menatap siapa yang disandera.


 


“Ti-tidak, Tuan. Lepaskan keluarga saya dan saya akan melakukan semua perintah Tuan.” ucap orang itu tak berdaya. Tangan dan kakinya diikat, dia tak mau gegabah, banyak nyawa jadi taruhan saat ini.


 


“Pilihan yang bagus.” Cahyo mengantongi dompet itu dan berniat pergi saat itu juga.


 


 


“Percayalah. Tidak akan semudah itu. Jaga kantor dengan baik, papa akan sering ke sana, dan awasi Anton. Aku masih belum bisa percaya dengan pria itu.” Cahyo rasa tak akan ada yang berubah jika dia tak bertindak sendiri.


 


Surya mengangguk, tak punya wewenang untuk menahan, “Berhati-hatilah.”


 


“Pasti.” Cahyo pun benar-benar pergi. Vila itu cukup jauh, tak mau tiba terlalu malam, dan setelah memakai kumis palsu dan kacamatanya, Cahyo siap bertempur meski tak yakin akan pulang dengan membawa kemenangan atau harga diri yang terinjak.


 


Di vila ... Yuni tetap berdiam diri di kamar. Dia tak akan ke luar, ingin juga tak makan, tetapi bagaimana dengan anaknya? Tangannya mengusap perut, jika dia tahu kalau lepas dari Cahyo malah bertemu dengan pria gila, mungkin lebih baik dia menghilang saja. Saat pintu kamar terdengar dibuka oleh seseorang, Yuni tetap enggan menoleh, menyibukkan diri dengan pikirannya sendiri.

__ADS_1


 


Mr tersenyum, berjalan semakin dekat, dan berniat memeluk Yuni. Namun, penolakan itu didapat setelah beberapa bulan tinggal bersama. Diakui Yuni begitu sulit ditaklukkan, dia ingin mengubah wanita keras kepala itu menjadi Dania, tapi kenapa begitu sulit? Mr menghela napas, “Semua kulakukan hanya untukmu, Dania. Berapa lama lagi aku harus menunggu?”


 


Yuni menatap Mr tajam, “Aku Yuni, bukan Dania. Wanita yang kau panggil Dania itu sudah mati karena kecelakaan saat kamu akan menikahinya-“


 


“Diam!” Bentakan Mr sukses membuat Yuni menutup mulutnya, “Aku membiarkan anak itu hidup bukan karena rasa kasihanku padamu, tapi karena bagian dari caraku menunggumu mengerti. Jadi ... jangan terus menguji kesabaranku. Dania. Hanya Dania wanita yang tinggal di rumah ini. Kalau kau masih ingin menjadi Yuni ... biarkan aku mengeluarkan anak itu sekarang juga dan menyadarkanmu kalau tak ada yang kau miliki. Anak itu hanya beban dari pria berengsek di luar sana, kenapa kau tidak juga paham, huh?! Bahkan ayahnya sendiri tak mau mengakui dan kamu masih terus bersikeras? Hahahahaha.” Mr berbalik. Memang ada teras kecil yang indah di kamar ini. Meski terletak di lantai dasar, struktur tanah yang sengaja ditinggikan, seolah kamar ini ada di atas jika dilihat dari luar, dan karena itu pula siapa pun yang ada di kamar ini bisa melihat taman bunga yang lapang membentang dari dalam. Mr tahu taman di sana sangat indah, tetapi tak cukup untuk menenangkan hatinya yang mulai tak sabar dengan tingkah Yuni.


 


Sebuah mobil masuk halaman, beberapa penjaga membukakan pintu mobil sekedar ingin tahu siapa yang datang, dan seberapa bahaya tamu tuannya. Namun, senyum ramah dan anggukan hormat menyadarkan semua yang berkerumun di mobil itu. Seorang berlari ke dalam, sepertinya apa yang ditunggu sudah datang, dan dia segera menemui Mr, “Mr, pengawal khusus untuk nyonya Dania sudah datang.”


 


Mengangguk, “Aku akan ke sana sebentar lagi.” Setelah pengawal itu pergi, Mr menoleh ke Yuni, “Bersikap baiklah, lusa kita menikah, semakin baik tingkahmu, semakin sehat pula anak yang ada di perutmu.” Tanpa menunggu jawaban Yuni, Mr pun beranjak, dia harus menemui pengawal baru yang dipesannya dari agen pengawal ternama di negara ini.


 


Seolah tak ada yang spesial, meski bisa dibilang tubuh itu lebih tegap dari pengawal biasanya, pakaiannya juga rapi, dan memakai parfum yang menenangkan. Mr tersenyum, sepertinya dia tak salah sudah memilih agensi yang paling mahal. “Kupikir kamu akan datang besok, ternyata lebih cepat, apa kau membawa tanda pengenalmu?” Duduk dengan menyilang kaki untuk menunjukkan kekuasaannya.


 


Segera mengeluarkan tas kecil berisi semua kartu identitas yang dimiliki, “Ini, Tuan-“


 


Mr dengan cepat mengangkat tangan seraya menunjuk pengawal baru itu, “Aku tidak suka dengan panggilan tuan, panggil saja aku Mr seperti semua pekerja yang ada di vila ini.” Mengambil tas itu dan memeriksa semua dokumen, “Budi. Apa namamu hanya satu kata saja?” Merapikan kembali ke tempatnya dan melempar tas kecil begitu saja ke meja kembali.


 


“Iya, Mr. Apa Anda keberatan? Saya pengawal dengan sertifikat terbaik, Anda bisa menguji saya, mungkin beberapa pengawal di sini ingin berolah raga? Saya tidak akan keberatan dengan itu.” jawab Budi.


 

__ADS_1


Mr mencebikkan bibirnya dan mengusap dagu. Wajah itu terlihat tak baik, meski pakaian rapi dan wangi, kulit yang hitam dengan gigi tonggosnya, Mr cukup terganggu. Namun, lama kelamaan dia tersenyum, bukankah itu lebih baik karena Yuni tak mungkin melirik pria seperti Budi?


__ADS_2