
Cahyo membuka pintu kamar mandi dengan kasar, “Tidak bisakah kau tidak menggangguku, Yun?!”
Cahyo telanjang, tapi tak ada waktu untuk memuji tubuh itu andai saja bagus atau apa pun, Yuni memilih untuk menunduk dari pada melihat hal yang kurang pantas. “Wajahmu pucat, Mas. Apa Mas butuh sesuatu?” Yuni masih menunduk karena Cahyo.
“Aku mau mandi dan tidur, jadi jangan ganggu aku, aku baru makan tadi dengan Surya, paham?!” Yuni mengangguk, Cahyo segera menutup kembali pintu kamar mandi, dan baru saja berbalik, dia baru ingat kalau dia sedang mandi saat ini. “Apa dia melihat ini tadi?” Cahyo bermonolog sendiri, dan itu membuatnya tertawa karena melihat wajah Yuni yang memerah. “Begitu saja minum obat perangsang, lihat ini saja gak berani menatapku, dasar!” Cahyo kembali mandi dengan cepat karena tubuhnya semakin menggigil padahal dia mandi dengan air hangat.
Cahyo mencari baju ganti dengan cepat, segera mengurung diri di bawah selimut karena tubuhnya sangat luar biasa, “Sepertinya aku akan demam.” Cahyo bersin beberapa kali, dia ingat kalau tadi pagi tidak mandi dulu karena tidak punya waktu, dan sekarang demam itu melanda.
Yuni masuk dengan minuman jahe di nampan, selimut yang terus bergerak, sepertinya Cahyo demam. “Mas, minum dulu. Kuambilkan vitamin, ya?” Yuni mengusap selimut itu setelah menaruh minuman di nampan.
“Vitamin? Vitamin yang mana, Yun?” Cahyo kembali bersin, hidungnya lumayan pengar sekarang.
“Yaaa, dari dokter tadi. Kan Mas menggendongku, siapa tahu Mas demam karena itu?” Yuni hanya menduga, entah salah atau benar, tapi vitamin tadi lumayan manjur untuknya.
__ADS_1
Cahyo yang masih sibuk bersin, mengangguk, “Cepat mana? Aku mau tidur setelah ini.” Dia pun duduk untuk menunggu Yuni.
Beberapa vitamin masih di nakas, Yuni segera membukakannya untuk Cahyo, dan memberikannya ke suaminya, “Ini.” Membantu mengambil jahe hangat dan tersenyum saat Cahyo mengembalikan jahe hangat itu setelah menelan vitamin pemberiannya.
“Kenapa kamu senyam senyum? Senang kalau aku sakit?” Cahyo kembali merapikan selimutnya. Dia ingin tubuhnya segera menghangat karena besok akan lebih banyak lagi pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan.
Yuni menggeleng cepat, “Enggak, Mas. Aku hanya suka Mas nurut minum vitamin itu, dengan begitu Mas cepat sembuhnya.”
Yuni hanya menghela napas, dia memilih untuk ke luar karena tak ingin mengganggu Cahyo tidur, dia akan mencari camilan saja karena setelah menggigil tubuhnya mudah lapar sekarang. Udara di lantai satu lumayan bersahabat, Yuni menemukan banyak camilan yang terlihat enak, dan Yuni membawanya ke depan TV. Sudah begitu lama dia tak menikmati harinya seperti ini, Cahyo juga tak mau diganggu, Yuni akan menyibukkan dirinya sendiri.
Semakin lama semakin mengantuk saja Yuni. Dia juga bosan dengan makanan di depannya. Yuni pun menyerah, dia memejamkan mata setelah melipat kakinya, mungkin tidur beberapa menit tak jadi masalah.
__ADS_1
Cahyo heran, dia sudah minum vitamin tak merasakan perubahan apa pun, jangan sampai karena tubuhnya tak enak badan, Yuni jadi merawatnya. Pantang baginya untuk berhutang budi. Dia yakin ada obat di kotak obat dekat dapur. Dengan tubuh lumayan lemas, Cahyo bersusah payah ke dapur, mencari obat yang cocok untuk dirinya, dan segera meminumnya. Saat Cahyo akan kembali ke kamar, baru dia tahu kalau Yuni malah asyik tidur dengan TV yang menyala, itu menambah lagi daftar hal yang tak dia sukai dari Yuni.
Rasanya sudah tak kuat. Cahyo kembali bersembunyi di balik selimut dan mulai memejamkan mata. Lambat laun sayup juga, mungkin karena obat yang mulai bekerja, dan Cahyo berharap akan membaik setelah ini. Serasa baru beberapa detik, tubuhnya terguncang lumayan kencang, Cahyo pun membuka mata. “Ck! Kenapa sih, Yun? Kamu bobok aku diem aja, kenapa aku bobok kamu resek? Kayak gak ada kerjaan.” Cahyo membalik tubuhnya agar tak menghadap ke Yuni. Berani sekali Yuni membangunkannya yang masih ngantuk berat.
“Sudah waktunya makan malam, Mas. Jangan karena sakit Mas telat makan. Malah parah nanti sakitnya.” Yuni sudah bangun dari tadi, dibangunkan juga oleh pelayan. Meski dia tidak mandi, dia sudah cuci muka untuk membangunkan Cahyo.
“Kamu makan sendiri. Bawakan saja makananku. Badanku sakit semua, Yun. Jangan maksa.” Cahyo mengatakannya tanpa menghadap ke Yuni.
Yuni menghela napas panjang, “Aku akan bawakan untuk Mas, tunggu, ya?” Yuni segera berbalik. Dia selalu tak tega melihat Cahyo sakit seperti itu.
Pintu yang kedengarannya ditutup rapat, Cahyo pun mencari ponselnya, dia menelepon Nana untuk memberi tahu kalau dirinya sedang sakit saat ini. Entah apa yang dilakukan Nana, panggilan telepon itu hanya berdering cukup lama dan membuat Cahyo heran. Dia yakin tak ada pekerjaan di jam seperti ini, lalu ke mana Nana?
__ADS_1
Cahyo hampir putus asa. Dia akan menutup telepon, tapi Nana malah mengangkatnya, “Dari mana saja kau, Na? Aku meneleponmu dari tadi dan kamu seperti tidak ingin menerimanya.”