
Sepasang suami istri duduk dengan cemas di ruangan yang cukup luas dan setelah pemilik rumah datang, ke duanya berdiri bersamaan, “Di mana Yuni?”
Terkekeh, itu adalah pria yang tuanya sama dengan mereka, “Apa aku yang menyembunyikannya?"
Papa Cahyo membuang napas kasar, “Jangan main-main, kita sama-sama tahu, jangan seperti ini.”
Tertawa semakin keras, “Kau tahu, kan? Putraku sangat sibuk dan aku tidak bisa menghubunginya, tapi aku yakin kalau Yuni baik-baik saja.” Pria itu mempersilakan tamunya untuk duduk kembali.
Papa Cahyo menghela napas, “Ingat! Aku bisa saja membatalkan lapangan golf itu dengan mudah, kenalanku orang dalam, banyak. Jangan mengecewakanku.”
“Hahahaha. Nanti saat jam makan siang, aku akan meneleponnya, setelah itu aku akan segera mengabarimu. Nyonya, apa sudah tahu gedung mana yang disewa untuk pernikahan Cahyo?” Pria itu ganti bertanya ke mama Cahyo.
Mengangguk, “Ya, aku bisa mengurusnya. Hanya saja aku sangat kawatir dengan Yuni. Ada hal yang sangat penting dan aku harus mengetahuinya segera. Aku tidak akan bisa tidur nyenyak.” Kalau bisa dihitung, mungkin sudah ribuan kali mama Cahyo menelepon Yuni, tapi hasilnya tetap nihil. Pernikahan itu tinggal beberapa hari lagi dan Yuni malah pergi tanpa mengabarinya.
Papa Cahyo merangkul istrinya dan mengusap lengan, “Dia akan baik-baik saja. Menantu kita itu hebat, dia pasti bisa menjaga diri, dan tahu apa yang paling baik untuknya saat ini.”
Mama Cahyo mengangguk meski hatinya tetap sulit mempercayai ucapan suaminya.
Yuni... duduk termenung di balkon dan itu sudah sejak beberapa jam yang lalu. Di kepalanya terus menggema ucapan Cahyo yang mempertanyakan tentang anak yang dikandungnya, dan itu pula yang berhasil membuat air matanya sesekali menetes. Rasanya sangat sakit sekali.
Yuni tak sempat membawa ponselnya, dia yakin tertinggal di kantor Cahyo, tapi mana dia peduli? Mr sudah membelikannya ponsel baru, meski dia tahu apa sosial media Ratih dan menghubungi temannya itu, hatinya seolah tak rela jika harus berhubungan lagi dengan semua orang yang membuatnya ingat akan sakit hatinya.
Saat pintu terbuka, Yuni segera menyeka air mata, menoleh, tersenyum saat menemukan Mr masuk ke kamarnya. “Anda sudah pulang, Mr?” Yuni tak ingin terlihat menyedihkan.
“Apa Anda menangis, Nona Yuni?” Melihat wanita yang berwajah mirip dengan mendiang calon istrinya itu, seolah menyayat hati, kenapa dia tak lebih dulu bertemu dengan Yuni sebelum Cahyo. Jika itu terjadi tak akan dia biarkan mata indah itu menangisi hal yang tak penting.
__ADS_1
Yuni terkekeh, “Ini... di luar dugaan. Hm... apa Anda sibuk? Anda masih punya banyak pekerjaan?"
Mr pun menggeleng, “Tidak. Apa Anda ingin mengajakku ke suatu tempat? Aku akan mengantar.”
Yuni tersenyum lebar, “Aku akan ganti baju, kulihat ada taman di luar, tapi aku malah ke sana sendirian.”
Mr mengangguk, “Kutunggu di bawah. Pakailah baju hangat, Nona Yuni. Udara di sini lumayan dingin, apa lagi jika mendekati senja, ada nyawa yang harus Anda jaga, kan?”
Yuni mengangguk juga, “Aku tidak akan lama.” Setelah Mr ke luar, Yuni segera ganti baju dan mengenakan jaket, merias wajahnya agar tak terlalu pucat, dan ke luar. Melempar senyum karena ternyata baju yang dia pilih berwarna sama dengan Mr, “Ini... sangat lucu.”
Mr tertawa, “Apa aku harus ganti baju lagi? Kita seperti—“
“Tidak usah! Ah!” Yuni segera menutup mulutnya saat tak sengaja berkata terlalu keras, “Maksudku... tidak usah, Mr. Ini kebetulan yang baik. Ayo berangkat!” Dia tak ingin suasa semakin canggung jika tak segera pergi.
Yuni mengangguk, “Anda sepertinya sudah lama tinggal di sini, Mr? Banyak hal yang Anda ketahui.”
Mr tersenyum, “Aku suka dengan hal yang seperti ini. Tenang dan nyaman. Di kota sangat bising, jadi aku tahu tempat yang bagus dan menyenangkan, semua hanya kebetulan saja.”
“Apa itu tempatnya?” Yuni mendongak, dia melihat biru yang lapang dari kejauhan.
Mr mengangguk, “Kita tiba sebentar lagi.” Tinggal belok kiri dan parkir. Mr sengaja memilih tempat yang paling ujung agar tak perlu berjalan jauh.
Yuni tersenyum lebar, dia berjalan dengan antusias, dan segera menghirup wangi bunga itu, “Aku akan senang jika punya taman seperti ini juga di rumahku.”
“Aku bisa memindah taman ini ke belakang vila.” Celetuk Mr.
__ADS_1
“Itu tidak perlu. Dari vila ke sini sangat dekat, ajak saja aku ke sini setiap hari, aku tidak akan menolak.” Yuni kembali berjalan menuju ke bunga lainnya. Matanya sangat dimanjakan dan Yuni menyukainya.
Mr membiarkan Yuni berjalan lebih dulu, dia mengambil jarak, merogoh ponselnya dan mencuri beberapa potret Yuni. Kenapa dia begitu mengagumi? Padahal sangat tahu wajah bisa sama meski sikap pun berbeda. Ya, Mr menyukai Yuni sejak awal karena sangat mirip dengan kekasihnya yang meninggal dan kini jika harus memiliki, Mr akan sangat bersyukur. Dia tahu kalau tak mengenal Yuni dengan baik, tapi dengan segala kekurangan itu, dia akan menerimanya.
Yuni menoleh, tak sengaja saat Mr memotretnya, dan dia pun segera mengerucutkan bibirnya, “Kenapa Anda melakukan itu, Mr? Aku tidak pernah... hm ....” Yuni membuang muka, tak jadi melanjutkan ucapannya karena sadar itu bukan hal yang terlalu besar untuk diperdebatkan.
Mr tersenyum, dia baru tahu kalau Yuni bisa manis juga saat merajuk, “Apa Anda ingin sel fi saja?” Mengulurkan ponsel ke Yuni.
Yuni malah merapikan rambutnya, dia menarik napas panjang, dan mendekat ke Mr, “Mari berfoto bersama.”
Mr pun mengangguk, dia menunduk agar sejajar dengan Yuni, dan langsung mengambil beberapa foto bersama. Sepertinya kurang dan terlihat kaku, Mr pun lebih mendekat lagi, dan merangkul Yuni. Tersenyum ke kamera dan mengambil gambarnya.
Sedangkan Yuni menoleh ke Mr, canggung dan deg-degan, sepertinya ada yang salah, dia tak pernah seperti ini sebelumnya, dan ternyata posisinya terlalu dekat. Saat Mr melepas rangkulan itu untuk mengecek hasil foto, Yuni pun segera merapikan rambutnya lagi, dan menjauh.
Mr tersenyum lebar, menyimpan ponselnya dan berjalan di belakang Yuni yang sudah jauh di depan. Dia menemani Yuni dengan sabar, melihat senyum yang begitu manis, dan jadi panik saat Yuni tiba-tiba pucat dan hampir limbung ke tanah. Untung saja dia menangkapnya tepat waktu. “Tolong!” Dengan dibantu orang di tempat itu, Mr membopongnya ke mobil, dan segera ke rumah sakit.
Yuni hamil dan tekanan beberapa hari ini sangat berat. Mr kawatir akan terjadi sesuatu, menunggu Yuni sadar sendiri terlalu lama, untung saja ada klinik di dekat sini. Setidaknya Yuni ditangani oleh tangan yang tepat. “Apa dia belum makan? Harusnya aku bertanya tadi.”
Dokter yang menangani Yuni tersenyum, “Hanya kelelahan saja, Tuan. Kehamilannya bagus dan kuat, bayinya baik-baik saja, tapi lebih baik jika Nyonya Yuni makan secara teratur dan banyak istirahat. Apa Nyonya Yuni sering begadang? Tolong dikurangi dulu.”
Mr mengangguk, “Aku akan memberitahunya nanti, Dok. Dia memang sulit dikasih tahu.”
Dokter tersenyum lagi, “Saya senang ada suami siaga seperti Anda. Jangan kawatir, saya memberinya vitamin tadi, setelah siuman, bisa langsung pulang.”
Ucapan itu sangat menggembirakan. Mr mendekat ke ranjang Yuni, mengusap kening Yuni, dan menunduk untuk mencuri satu kecupan. Dia yakin saat Yuni bangun belum tentu punya kesempatan yang bagus dan satu kecupan saja sudah cukup untuk membuatnya tenang. “Aku akan membahagiakan kamu.” Kembali Mr mencuri kecupan itu. Biar saja, toh! Tak ada yang melihatnya saat ini.
__ADS_1