
Budi segera menuju ke kamar dengan diantar pelayan. Vila ini besar dan bagus, dia harus mengakuinya, meski begitu yakin kalau tak akan pernah tersesat.
“Ini kamarmu dan ini kamar nyonya Dania. Kalau bisa jangan kunci pintunya, ya? Mr sering marah kalau tahu kita tidak dalam keadaan waspada. Kalau butuh apa pun panggil saja aku, itu kamarku.” Menunjuk pintu lain tak jauh dari kamar Budi.
“Kamu kan pelayan, kenapa tidak tidur di bawah?” Budi tidak suka karena pelayan itu cukup mengganggu.
“Aku pelayan khusus nyonya Dania, Mr tidak mau kebutuhan nyonya Dania teledor, jadi beliau menyuruhku tidur di sini. Namaku Sri.” Mengulurkan tangannya ke Budi.
Tak menanggapi, Budi hanya melihat tangan begitu saja, “Kembali saja ke kamarmu, aku sibuk, terima kasih sudah mengantarku ke kamar.” Mendorong perempuan bernama Sri perlahan hingga ke luar kamar dan menutup pintunya. Ada hal yang harus segera dikerjakan, setelah membersihkan diri dengan cepat dan memakai parfumnya, Budi pun ke luar kamar, mengetuk sekali, dan masuk begitu saja tanpa dipersilakan oleh empu di dalam sana.
Yuni segera menyeka air matanya dan menoleh untuk melihat siapa yang datang. “Siapa kamu?” Wajah itu cukup asing, Yuni tak pernah melihatnya sebelumnya, dan ... bukankah penjagaan di luar sangat ketat?
Budi tersenyum, “Namaku Budi, pengawal yang khusus didatangkan untuk menjaga Anda.”
Yuni berbalik kembali, “Suaramu mengingatkanku dengan seseorang.” Apa mungkin dia sedang salah dengar?
Budi tersenyum kembali, “Aku sudah menjaga banyak orang dan mereka sering mengatakan itu, jadi aku tidak terkejut lagi.”
Entah, jawaban itu membuat Yuni tersenyum, “Maaf, disamakan dengan seseorang membuat kita tidak nyaman dan aku melakukannya barusan.”
“Tidak masalah, Nyonya Yuni. Jangan terlalu dipikirkan.” Budi menggaruk rambut. Mungkin ada kutu yang tiba-tiba hinggap.
Yuni menoleh kembali, “Kamu ... memanggilku Yuni? Kamu tidak takut dipecat Mr? Semua orang mulai mengubahku sekarang, kenapa kamu tidak melakukannya juga? Jangan memikirkan perasaanku.”
__ADS_1
Budi terkekeh, tingkah itu membuat giginya semakin bersinar saja, “Aku selalu mendapat nama dari siapa yang harus kujaga, mengubah namamu begitu saja adalah sebuah kejahatan bagi perusahaan yang kunaungi, dan aku tidak mau melakukannya. Anda ... hamil berapa bulan?”
Yuni mengusap perutnya, “Tujuh, aku akan bertemu dengannya sebentar lagi.”
Budi mengangguk, “Mr pasti sangat senang sampai dia mau membayar mahal untuk merekrutku di sini.”
“Ini bukan anaknya.” Yuni tersenyum, itu memang kenyataannya, kan? Untuk apa ditutupi?
“Ah! Maaf, aku tidak bermaksud begitu tadi.” Budi pun menunduk sungkan sudah mempertanyakan kelancangan.
Yuni menghela napas, berbalik melihat jendela, dan meneliti angin yang berputar di malam hari. Kalau dipikir sudah lama dia tak bicara dengan orang asing, tetapi kenapa yang ini berbeda? Yuni merasa nyaman, punya teman ternyata seenak ini, dan kalau pengawal itu berbeda dengan pelayan lain di vila ini, mungkin mentalnya akan membaik. “Oiya, Budi. Apa kamu juga tidur di sini? Seperti Sri?” Yuni mendengar gumaman dan dia melanjutkan ucapannya lagi, “Sri juga orang yang baik, hanya saja dia tak seberani kamu, dia memanggilku Dania, nama yang bahkan aku tak tahu punya siapa.”
Yuni menoleh, “Hanya sedikit yang kamu tahu lebih baik, Budi. Sudah malam istirahatlah. Aku juga mau tidur.”
“Kalau Anda membutuhkan bantuan, panggil saja aku, Nyonya.” Budi menunduk hormat dan langsung ke luar. Di depan pintu ada Mr dan dia menunduk hormat lagu sebelum ke kamarnya.
Mr menoleh ke Yuni, “Apa yang dia lakukan di kamarmu? Ini sudah malam dan kalian di kamar hanya berdua, Dania?”
Yuni menghela napas, “Apa ayahmu sudah pulang? Kalian sangat sibuk tadi, kenapa tidak mengajaknya bicara?”
Mr malah terkekeh, “Aku tidak mengira kalau kamu sangat perhatian dengan mertuamu. Aku dan papa hanya membicarakan masalah kecil, dia kecewa kamu langsung pergi tadi, padahal dia sudah lama ingin bertemu denganmu secara langsung. Apa kamu mau menemuinya besok?”
__ADS_1
Yuni menghela napas, seolah menghadapi Mr begitu berat setelah banyak hal yang terungkap, “Kenapa kau mencarikan pengawal lagi untukku? Aku tidak bisa ke luar dari ini dan kau masih memberiku pengawal? Untuk apa?”
“Keselamatanmu.” Mr berjalan mendekat lalu duduk di ranjang, “Dania, rasa sakit itu tak pernah sembuh, banyak orang jahat di luar sana, dan aku tidak mau kehilanganmu lagi. Aku ingin kita hidup bahagia untuk selamanya.”
Yuni menggeleng, “Anak ini masih tujuh bulan dan selama itu pula aku tidak menginginkan pernikahan, jangan memaksaku, Mr. Kau bilang bisa membuatnya lahir lebih cepat dan aku juga bisa menghilangkan nyawaku sendiri kalah kamu tidak mah mengabulkan keinginanku. Itu hanya permintaan kecil. Jangan egois.” Entah dapat keberanian dari mana, Yuni seolah baru saja dibisiki oleh sosok yang ada di kepalanya saat ini.
“W.O.W! Sepertinya kau semakin pintar setelah tinggal denganku, kita harus merayakannya, Dania.” Mr berdiri dan mendekati Yuni, “Mau berdansa denganku?” Tersenyum manis ke Yuni.
Yuni pun menerima tangan itu, membiarkan Mr bergumam berirama sumbang, dan mulai melangkah perlahan untuk berdansa. Dulu saat di Singapura Yuni memang sering melakukan ini dengan Mr, hampir saja dia terbuai, tetapi kenyataan yang didapat menyadarkannya. Semua ada pamrih dan Yuni tak pernah mengira akan begini sejak dulu.
Ada yang mengepalkan tangan di luar sana, salah sendiri mengintip, siapa yang menyuruh? Dia menusuk duri ke diri sendiri dan akan menyalahkan orang lain, mana mau?
“Kamu melihat apa?”
Budi menjingkat, tepukan itu memang pelan, tapi cukup ampuh mengejutkan. “Astaga! Sri?!” Budi sibuk mengelus dada, Sri malah tertawa, pasti menertawakan kebodohan Budi.
“Kamu ke sini niat kerja, kan? Nyonya Dania memang cantik dan baik, tapi jangan pernah salah mengartikan sebuah tindakan, aku pun juga mau dimaju oleh Mr, itu pun kalau Mr mau.” Sri menertawakan ucapannya sendiri.
Budi pun menggeleng, “Kamu sudah lama kerja di sini, Sri? Bagaimana kalau aku minta tolong bikinin kopi? Aku akan menemanimu di dapur.” Mempersilakan Sri berjalan lebih dulu karena tak tahu di mana letak dapur vila ini.
“Yaaa, lama. Sebelum nyonya Dania ke sini, aku sudah di sini untuk membersihkan vila. Jadi sekarang hanya aku yang dipercaya merawat nyonya Dania yang sedang hamil. Kopi apa?” Ini adalah dapur khusus untuk Sri. Didesain sebelum Mr kembali ke Indonesia dan di sini pula Sri memasak untuk Yuni. Memang lebih kecil, tetapi cukup lengkap semua alat dan bahan makanannya.
__ADS_1
“Kopi jahe, gulanya sedikit saja, aku tidak suka manis.” Budi memperhatikan Sri, wanita itu sepertinya memang baik, kalau terlalu setia bagaimana? Budi malah terkekeh, “Sri, kenapa nyonya Yuni kamu panggil nyonya Dania?”