
Yuni mengejar, dia baru bisa menyetir, dan jalanan terlalu ramai, membuatnya tertinggal jauh. “Astaga! Di mana Hendra tadi?” Yuni terus memacu mobil dengan hati-hati. Namun, ponselnya malah berdering, mama mertuanya menelepon, dan dia harus pulang sekarang. “Aku agak sibuk, Ma. Bagaimana jika nanti sore? Aku akan ke sana setelah semua selesai.” Yuni mencoba merayu agar bisa menyelamatkan Cahyo.
Mama Cahyo menghela napas, “Sayang, nanti sore Cahyo sudah pulang. Cepat ke sini saja, ya? Mama tunggu.” Segera memutus sambungan telepon itu.
Yuni pun tak punya pilihan lain. Segera putar balik dan pulang. Hanya bisa berdoa semoga Cahyo dan Hendra tak sampai berurusan dengan polisi.
Cahyo... menggeliat, dia meregangkan tubuhnya, “Banyak sekali yang harus diubah, semua sudah bagus, dan harus dimulai lagi dari awal. Membosankan.” Cahyo kembali menatap laptopnya.
‘Bruak!’ Hendra mendorong pintu ruang kerja Cahyo tanpa ampun hingga menimbulkan bising sampai menarik perhatian.
__ADS_1
Cahyo hanya mendongak, sepertinya dia tahu apa yang membuat Hendra seberani ini padanya, bukannya takut, Cahyo malah menyandarkan punggung sambil menunggu Hendra akan mengatakan apa.
“Kau!” Hendra menunjuk Cahyo, “Mungkin di kantor aku bawahanmu, tapi di luar, kau sangat tahu kalau aku menyukai Yuni, kan? Berani sekali tangan kotormu itu melukainya, hah?!” Matanya membelalak seolah akan ke luar dari kelopak.
Cahyo malah terkekeh, “Lalu? Aku harus bagaimana? Ah! Kau menyukai Yuni? Tapi Yuni tidak menyukaimu. Hahahaha.” Cahyo tertawa sambil bermain dengan kursinya agar berputar-putar meski hanya setengah lingkar saja.
“Kurang ajar!” Hendra merasa semua sudah di ubun-ubun. Segera berjalan cepat mendekati Cahyo dan meremas kerah baju itu.
Hendra malah terkekeh, “Menurutmu aku peduli?” Baru saja Cahyo akan membuka mulut, ‘Bug. Bug. Bug.’ Hendra memukuli wajah Cahyo dengan tenaga penuh, “Semua ini tak akan cukup untuk membalaskan dendam Yuni!” Terus memukul. Dia tak akan puas sampai Cahyo tak bedaya, padahal Cahyo sudah terjatuh ke lantai dan dia berada di atasnya.
__ADS_1
Setelah Hendra melepas cengkeraman dan menjauh darinya, Cahyo malah tertawa, pipinya memang panas, tapi dia tahu apa yang akan dia lakukan. “Bersyukurlah aku tidak akan memecatmu. Karyawan sepertimu masih dibutuhkan di perusahaan ini.” Cahyo bangun, terduduk di lantai sambil mengusap darah di bibirnya, mata kanannya menyipit, mungkin di sana juga lebam.
Hendra yang masih terengah setelah melampiaskan amarah, masih menatap Cahyo dengan murka, “Apa pukulanku masih kurang untuk membuatmu sadar?”
“Hahahaha.” Cahyo tertawa sambil menengadah, hidungnya mungkin juga berdarah, tapi dia siap mengejutkan Hendra, “Kau boleh memukulku lagi kalau mau dan Yuni akan semakin membencimu saat itu juga. Lakukan saja.” Cahyo membuka tangan, seolah mempersilakan Hendra melakukan segala hal yang diinginkan, dan dia siap menerima keuntungan yang banyak setelah ini.
“Kurang ajar!” Hendra tetap tidak peduli, pria sombong seperti Cahyo tak patut dikasih ani, ‘Bug. Bug. Bug.’
“Astaga! Cahyo! Hendra! Cukup!!” teriakan itu cukup memekakkan.
__ADS_1
Keduanya menoleh ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang melerai.