
‘Blep!’ Yuni menutup pintu mobil dengan kasar, langkahnya tergesa menuju penginapan, dan dia segera membuka pintunya begitu saja.
Hendra menoleh, “Yuni? Kamu—“
‘Plak!’ Mungkin tamparan itu tak sepadan, tapi setidaknya cukup untuk menyadarkan Hendra bahkan baginya bukan siapa pun, Yuni tak suka dengan Hendra yang terlalu ikut campur.
Hendra malah terkekeh, “Ternyata cintamu sangat besar untuk Cahyo.”
“Harusnya sudah dari dulu kamu tahu, Hen. Kenapa kamu tidak juga percaya?” Yuni menatap Hendra tajam.
“Aku melakukan semua ini untuk membelamu, Yun. Biar dia tahu kalau kamu berharga, aku tahu, di matamu aku bukan siapa pun, bukan apa pun, tapi kumohon... buka matamu, Yun. Buka matamu.” Hendra tak bisa mengatakan hal lainnya. Sampai kapan Yuni menyadari kalau Cahyo benar-benar tak pantas?
“Terima kasih, Hen. Tapi cukup sampai sini saja, oke? Jangan ikut campur lagi.” Yuni menggeleng sambil mengacungkan jari telunjuknya ke Hendra. Tak menunggu jawaban, Yuni langsung berbalik dan pergi, dia tak ingin kedekatan selama belajar nyetir mobil malah membuat Hendra salah paham. Baru beberapa meter, Yuni menepi dan menelepon Ratih, dia mengajak sahabatnya itu ketemuan. Di saat seperti ini sepertinya bercerita adalah pilihan terbaik. Ratih mengajaknya ke kafe, Yuni datang dan memesan lebih dulu, menikmati suasana kafe akan membuat pikirannya lebih tenang.
Tertawa, “Aku mencintamu, Anton.”
Yuni segera menoleh mendengar suara yang begitu dikenalnya. Sudah tak terkejut seperti dulu dan Yuni merasa lebih seru kalau mendekat, jadi setelah makanan yang dipesannya datang, Yuni berdiri, “Selamat siang, apa aku boleh bergabung?”
Anton menoleh, “Yuni?! W.O.W! Kejutan yang luar biasa.” Mengulurkan tangan dan bersalaman dengan Yuni, “Aku tidak ikut rapat tadi, apa Mr sudah pulang? Ah! Ini kekasihku, beruntung kamu bisa bertemu dengannya, kamu tahu, kan? Dia wanita yang sangat sibuk. Nana, ini Yuni rekan kerjaku yang baru.”
__ADS_1
Yuni tersenyum lebar, “Yuni, aku tidak menyangka kalau kekasih Anton ternyata secantik ini. Senang bertemu denganmu di sini, Nana.” Meremas genggaman tangan Nana di tangannya.
Terkekeh, “Senang bertemu denganmu juga, Yuni. Kamu juga cantik dan baju itu... sangat cocok denganmu.” Nana menertawakan setelan yang dipilih Yuni, celana panjang dan blus panjang, serta memakai jaket, sangat buruk sekali.
“Ya, aku suka lengan yang panjang, aku menghormati suamiku, jadi biar hanya suamiku saja yang melihat pakaian seksi yang kukenakan.” Yuni sudah menyiapkan kalimat lebih kejam jika Nana tak mundur juga.
“Ah! Aku suka melihat Nana seperti ini,” Anton menengahi, Nana selalu seksi memang, tapi tak apa. Dia pun mendekat ke telinga Yuni, “dia sedang hamil, jadi aku senang jika dia berdandan cantik.” Kembali ke posisi semula. Bahkan Anton merangkul Nana.
Yuni membuka mulutnya lebar, bersikap seolah terkejut, “Hamil? Anakmu? Berapa bulan? Aku akan memberi kado termahal setelah pulang dari sini. Kita berteman cukup lama, Anton.”
Sedangkan Nana mengepalkan tangan, “Dia masih kecil, dalam tradisi kami, tidak akan menerima hadiah apa pun kalau bayi kami belum lahir, jadi tidak perlu repot-repot.” Nana merangkul Anton lebih erat, “Sayang, aku sangat lelah, kita pulang sekarang, ya?”
“Makanannya?” Anton merasa baru saja tiba dan Nana mengajaknya pulang begitu saja. Padahal makanan masih dicicipi beberapa suap.
Nana meringis, dia bersikap selelah mungkin agar Anton mau diajak pulang, Yuni cukup mengancam kali ini.
Anton pun menggeleng, “Aku pulang dulu, Yun. Lain kali kita makan bersama, ya? Jangan lupa ajak Cahyo juga. Dah!” Anton pun hanya menurut saat Nana terus menarik tangannya. “Kenapa sih? Yuni itu orangnya baik. Kamu belum mengenalnya saja.” Sangat paham kalau Nana tidak suka dengan orang asing yang baru kenal.
__ADS_1
Nana tersenyum, “Aku tidak suka dengan cara bicara temanmu, Anton. Dia seperti mengejek kita yang hamil di luar nikah dan itu sangat mengganggu.”
Anton terkekeh, “Seringlah bertemu dengan Yuni dan kamu akan tahu kalau dia sangat baik.”
“Ck! Jangan membicarakan dia lagi. Aku lelah.” Nana merasa hari ini dirinya sangat sial.
Anton terkekeh, memeluk Nana di depan umum, dan mengecup bibir itu singkat, “Kita pulang sekarang.” Keduanya pun naik mobil dan pergi.
Sedangkan Yuni masih menatap nyalang, bagaimana bisa senyum itu tetap manis dan penuh bisa? Rasanya ingin segera memberi umpan balik, tapi sadar kalau Cahyo sangat sulit untuk ditaklukkan.
Ratih yang baru datang dan tahu kalau Yuni memperhatikan pasangan di luar kafe, mengerutkan kening, “Siapa? Apa wanita itu ada hubungannya dengan Cahyo?”
Yuni mengangguk.
“Lalu? Kamu tidak kenal dengan prianya?” tanya Ratih.
Yuni menghela napas, “Kamu tidak akan percaya, pria itu yang sering beli bunga di tempatku, dan aku tidak tahu bagaimana mencari bukti agar ke duanya tertangkap basah.”
__ADS_1
Ratih tersenyum lebar, “Aku punya ide.”