
Yuni duduk dengan Hendra di kafe, beberapa makanan ringan dan dua minuman tersaji rapi, “Kau tidak bekerja?” Tak mungkin di sini hanya diam saja. Yuni berusaha sebiasa mungkin meski dia tak terlalu nyaman harus berdua dengan Hendra. Tak peduli kafe ini ramai atau tidak, bagi Yuni semua ini tetaplah salah.
Hendra menggeleng, “Aku mau berangkat ke Purwodadi, beberapa hari di sana butuh persiapan yang matang, dan aku harus menyiapkan diri untuk keberangkatan nanti sore.” Hendra mengambil minumannya, dia membasahi tenggorokan yang mengering tiba-tiba, “Aku senang melihatmu tetap di sini, Yuni.”
Yuni tersenyum sambil mengangguk, “Aku tidak bisa lepas dari anak-anak. Apa kamu juga tidur di panti, Hen?” Yuni merasa selalu bertemu dengan Hendra saat ke panti. Padahal dia tak pernah janjian dan yakin Hendra pasti sibuk.
Hendra menggeleng, “Aku ngekos, Yun. Tapi tetap di sebelah panti. Aku tidak mau jauh dari mereka. Kau tahu?” Hendra tiba-tiba bersemangat, “Gaji bekerja di perusahaan Cahyo gajinya memang besar, uangku sebentar lagi cukup untuk uang muka mengambil perumahan, dan aku bisa punya tempat tinggal sendiri setelahnya. Aku lihat ada perumahan di jual dan itu masih dekat dengan panti.” Hendra sangat bersemangat saat menceritakan semua itu.
Yuni tersenyum, “Semoga apa yang menjadi keinginanmu cepat terwujud, Hen.” Yuni melihat jam di layar ponselnya, “Aku harus pergi. Aku memang tidak bisa lama-lama di panti dan ini sudah molor karena kamu.” Yuni tertawa, dia tak mengira kalau Hendra bisa benar-benar hanya menjadi temannya saja, biasanya Hendra akan merayu dan omong kosong, ternyata saat ini tidak.
“Mau kuantar pulang?” Hendra ikut berdiri juga.
Yuni menggeleng, “Tidak, Hen. Aku bawa barang banyak. Ada sopir. Aku pergi dulu, ya?” Yuni berbalik dan pergi.
Hendra masih di tempat, dia duduk kembali, tempat parkir ada di bawah sana, dan dia masih bisa melihat Yuni yang mulai masuk mobil. “Wanita secantik dirimu, kenapa diam saja dengan kelakuan Cahyo, Yun? Bukankah ini tidak adil?” Hendra menghela napas. Membayar semua makanan itu dan kembali ke kos untuk mempersiapkan diri sebelum Nana menjemputnya.
Hari ini Cahyo juga tidak ke kantor, dia di apartemen Nana, baru saja selesai sarapan dengan beli makanan dari luar. “Apa yang akan kita lakukan di sini?” Cahyo mengganti saluran TV hingga lelah. Tak ada satu pun yang menarik perhatiannya.
“Memangnya kenapa kalau di sini saja, Sayang? Aku akan pergi selama beberapa hari, bukankah kau akan merindukanku? Berdua tanpa melakukan sesuatu itu sangat menyenangkan.” Nana memeluk Cahyo, meletakkan diri di dada Cahyo, lalu mengambil remot TV dan menggantinya dengan acara gosip artis.
"Jangan lagi bermain dengan Hendra. Aku tahu kalau kalian di sana untuk bekerja, tapi aku tidak suka kalau tahu kau dan dia hanya menyewa satu kamar, bukankah hotel yang kau tempati selalu besar dan terbaik? Bagaimana bisa hotel seperti itu penuh?” Cahyo mengusap rambut Nana, menciumi puncak kepala, dan memainkan rambut Nana juga.
__ADS_1
Nana terkekeh, “Iya, Sayang. Aku senang kamu cemburu seperti itu. Rasanya sangat lama kamu tidak melakukannya.” Nana semakin mengeratkan pelukan.
Ganti Cahyo yang terkekeh. Ponselnya berdering dan itu dari Surya, dia pun segera mengangkatnya karena yakin pasti ada hal penting sampai Surya meneleponnya begini, “Ya? Semua email sudah kubalas, ada apa?”
Nana cemberut, dia sangat tahu apa akibat kalau Surya sudah menelepon Cahyo, itu artinya Cahyo akan pergi setelah ini.
“Okey, aku ke sana sekarang.” Cahyo ingin beranjak, tapi Nana malah membelitkan tangan, dia pun menutup telepon itu, “Jangan seperti ini, Sayang.” Memeluk Nana kembali agar puas dan melepaskannya segera.
“Carilah asisten yang bisa diandalkan, Sayang. Waktu kita untuk bersama sangat kurang, Surya mengganggumu, Yuni tidak bisa kamu tinggal, dan mamamu yang tidak menyukaiku. Aku harus bagaimana?” Nana terus merengek tanpa melepas pelukannya.
Cahyo terkekeh, “Kita cari jalan keluarnya bersama, tapi kali ini aku harus ke kantor, Sayang. Ada klien dari Singapura yang datang, kamu tidak ingin ada satu proyek kita yang lepas, kan? Dia datang mendadak, apa aku harus mengusirnya dan perusahaan itu dicap buruk?”
Cahyo baru saja sampai kantor, Surya sudah menyambutnya, “Kau menggangguku, Sur.” Langkahnya lebih lebar agar cepat sampai di ruang kerjanya.
“Kalau aku bisa memilih, lebih baik orang Singapura itu tidak datang, kita rapat lewat zoom dan semua segera di tanda tangani, tapi apa aku yang mengatur keinginannya?” Surya juga malas dengan klien dari Singapura yang selalu banyak permintaan itu.
Cahyo membuang napas kasar, “Apa dia di ruanganku?”
“Tentu saja tidak, dia di ruang tamu, tapi dia baru datang. Semoga tak ada yang membuatnya ingin membatalkan proyek ini atau kita akan mati.” Surya hanya bisa berdoa.
__ADS_1
Cahyo tak jadi ke ruangannya, dia segera ke ruang tamu, tersenyum dan langsung mengulurkan tangan ke kliennya, “Selamat datang, Mr. Maaf karena kesibukan saya membuat Anda menunggu cukup lama.”
Orang Singapura itu terkekeh, “Tidak masalah. Kata Surya tadi istri Anda tak ingin ditinggal, apa dia ikut juga?”
Cahyo pun menelan ludah. Kurang ajar Surya. “Tidak, Mr. Saya merayunya, jadi saya bisa meninggalkannya di rumah, tidak enak kalau dia ikut ke rapat kali ini.”
Orang Singapura itu mencebikkan bibir sambil menggeleng, “Sayang sekali. Padahal aku ingin bertemu dengannya. Apa dia sibuk? Merajuk? Bagaimana kalau dia ke sini juga? Kita rapat di luar, mencari suasana baru, dan udara segar?”
Cahyo tak mungkin menolak permintaan itu, “Saya akan meneleponnya dulu. Dia pasti akan senang kalau Anda tidak keberatan dengan kehadirannya, Mr.” Cahyo mengangguk, “Saya permisi sebentar.” Segera ke ruangannya, langsung menelepon Yuni, jangan sampai proyek ini terlepas dari tangannya.
Yuni tertawa, adiknya sangat suka dengan semua hadiah darinya, “Bu, Ayah, malam ini Yuni tidur sini, ya? Rasanya sangat rindu dengan rumah ini.”
Ayah Yuni menggeleng, “Kalau tidak dengan suamimu, jangan tidur sini, Yun. Tidak baik. Meski Cahyo mengizinkannya, aku tidak suka, dan kamu harus mengerti.”
Yuni mengangguk. Dia tak mungkin memaksakan diri.
“Kamu sama Cahyo tidak sedang bertengkar, kan?” Kali ini ibu Yuni bertanya.
“Tidak, Bu.” Yuni menjawab sambil menggeleng, “Aku dan mas Cahyo—“ Ponselnya berdering, dia segera mengambilnya, lalu tersenyum, “Ini, mas Cahyo meneleponku, dia hanya sibuk jadi tidak bisa ikut ke sini.”
__ADS_1
“Kalau begitu biar ayah yang angkat teleponnya.” Ayah Yuni mengulurkan tangan untuk meminta telepon itu.