
Bel berbunyi, dengan cepat segera membuka pintu, dan Ratih cukup terkejut saat tamu yang datang adalah Cahyo. Dia menelan ludah, meski tak ingin tetap menyuruh Cahyo masuk, dan mempersilakannya duduk dengan hanya tersaji air putih di meja. “Ada apa?” Lumayan dingin nada bicara yang dia pilih, tapi Ratih yakin kalau Cahyo tak akan merasakannya, bukankah pria itu berhati dingin?
“Di mana Yuni?” Tanpa ba bi bu, Cahyo segera menghunus pertanyaan pamungkas karena dia sangat yakin Ratih dan Yuni sedang bersekongkol saat ini.
Menggeleng, “Aku tidak tahu, bukankah kamu suaminya? Ah! Kapan sidang perceraian kalian akan digelar?” Ratih tersenyum mengejek sambil menatap Cahyo.
Terkekeh, Cahyo menyisir rambutnya dan menyandar, “Perceraian? Sejak kapan ada kata itu dalam dunia ini? Yuni selamanya tetap akan jadi istriku.”
“Untuk?” tanya Ratih.
“Untuk? Apa kau gila?” Cahyo terkekeh kembali.
Tak terintimidasi, Ratih malah tertawa, “Aku heran, melihat Yuni yang bodoh karena masih mau mempertahankanmu,”
Cahyo menggerutukan giginya saat mendengar sarkas itu.
“...tapi ternyata kamu lebih bodoh lagi, ya? Hahahaha.” Ratih memegangi perutnya sendiri, sangat lucu Cahyo di matanya, “Kau menikahinya hanya untuk membunuhnya, kenapa—“
“Aku tidak membunuhnya.” Cahyo tak pernah berpikir seperti itu dan dia berhak menyangkalnya.
Ratih membuka mulut, bersikap seolah terkejut mendengar pembelaan Cahyo atas diri sendiri, “Lalu? Selama ini yang kau lakukan apa? Kau pikir Yuni punya seribu nyawa sampai kau menyiksanya seperti itu, huh?!”
__ADS_1
Cahyo sangat marah, dia mengepalkan tangan, ingin melampiaskan, tapi tak tahu harus ke mana dan bagaimana.
Ratih bersedekap dada, “Tuan Cahyo yang terhormat. Aku bukan Yuni dan aku akan segera membuatmu menyesal di penjara kalau kau... berani menyentuhku. Apa tanganmu sangat gatal sekarang?”
“Diamlah, Ratih. Jangan memancing amarahku.” Cahyo mengatakannya dangan nada yang rendah meski tetap tersirat amarah di dalamnya.
Ratih tertawa, tepuk tangan beberapa kali, dan bersedekap dada lagi, “Yuni hamil. Aku yakin dia sudah memberitahumu.”
“Itu anak Hendra.” Cahyo tak mau lagi dibohongi.
“Hendra? Kau pikir Yuni orang yang gila atau sinting? Buat apa dia membuat anak dengan Hendra? Setiap hari dia memikirkan bagaimana cara merebutmu dari Nana, menggagalkan pernikahanmu, dan kau menuduhnya membuat anak dengan Hendra?” Ratih menggeleng, kenapa ada pria bodoh semacam ini, “Aku yakin, kau kuliah di luar negeri, kan? Apa kuliah di sana membuat logikamu hilang, huh?!” Ratih mengetuk pelipisnya sendiri dengan jari telunjuk, “Apa cinta Yuni selama ini tidak terasa? Semua biasa saja?”
Cahyo menarik napas panjang dan dalam, “Cinta? Dengan pergi dengan Hendra berdua tanpa pamit padaku? Mereka makan bersama dan berpelukan? Itu yang namanya cinta? Aku ini pria dewasa dan aku tahu seperti apa yang namanya cinta, Ratih!”
“Aku tidak selingkuh, aku mengenal Nana lebih lama dari Yuni, dan pernikahan itu tak pernah aku inginkan—“
“Ceraikan Yuni.” Ratih tersenyum, “Kau tidak menginginkan pernikahan itu, kan? Simpel. Ceraikan Yuni.” Sangat yakin kalau semua permasalahan tanpa ujung ini, hanya ada satu jangan keluarnya.
Cahyo menelan ludah, dia membuang muka sejenak sebelum menoleh ke Ratih lagi, “Katakan di mana Yuni, aku akan menemuinya, dan menyelesaikan semua masalah ini.”
“Aku tidak tahu dan aku yakin, saat dia sudah pergi seperti ini... artinya kau sudah menyadarkannya, dan aku harus bersyukur karena itu.” Ratih tersenyum. Meski dia kawatir karena Yuni juga tak datang menemuinya. Itu berarti di luar sana bersama dengan bahaya dan Ratih harus mencari Yuni juga setelah ini.
__ADS_1
“Kau temannya, kan? Tidak mungkin tidak tahu ke mana Yuni.” Cahyo yakin Ratih menyembunyikan istrinya.
“Aku, tidak, tahu.” Ratih menekankan sekali lagi, “Dia hamil dan senang saat mendengar berita itu. Aku yakin dia memberi tahumu dan kau tidak mempercayainya, kan? Jadi biarkan saja dia pergi mencari kebahagiaannya sendiri.”
“Di mana Yuni?” Cahyo terus menekan amarahnya agar tak lepas kendali. Ratih sangat menyebalkan menurutnya.
Tersenyum dan membuang muka, “Satu hal yang sangat menyakitkan ketika kau hamil dan tidak ada yang percaya kalau itu anakmu.” Ratih menoleh ke Cahyo lagi, “Saat anak itu lahir nanti, dia tak mengakuimu kalau kau adalah ayahnya, baru rasanya akan sama, Tuan Cahyo. Biarkan Yuni bahagia. Jangan menyiksanya lagi. Semua sudah cukup.” Ratih berdiri, dia berjalan ke arah pintu, dan membukanya.
Tak menunggu kalimat lain, Cahyo pun ke luar dari apartemen Ratih, dan kini kepalanya jadi pening. “Ke mana dia? Berani sekali meninggalkanku.” Cahyo terus menggerutu hingga tak peduli dengan sekitar. Hanya ingin segera sampai di tempat parkir dan mengajak sopirnya menuju ke tempat selanjutnya.
Surya... menelan ludah. Baru saja mendengar ucapan Mr yang membuatnya terkejut, “Kenapa Anda mengatakan itu kepada saya, Mr?” Posisinya jadi serba salah sekarang. Tadi di kantor Cahyo mencari Yuni dan sekarang Mr malah bilang mau menikah, sedangkan Ratih di rumah sibuk menceritakan tubuh Yuni yang penuh dengan luka lebam di beberapa bagian yang terlihat saat telanjang, siapa yang harus dia dengar curahan hatinya?
Mr tersenyum, “Karena Anda karyawan tuan Cahyo dan nona Yuni secara bersamaan.”
“Apa nona Yuni bersama Anda sekarang?” Surya rasa ada yang tidak beres setelah kejadian kemarin di ruang kerja Cahyo.
“Tidak, tapi aku tahu di mana nona Yuni sekarang. Apa tuan Cahyo mencarinya?” Mr malah terkekeh, “Sepertinya tidak.” Dia membuang muka untuk melihat ombak, “Seseorang yang mencintai dengan tulus tak akan pernah mencekik orang yang kita cintai, Pak Surya. Sepertinya tuan Cahyo dan nona Yuni menyeberang terlalu jauh,” Kembali menoleh ke Surya sambil tersenyum, “dan aku akan membawanya kembali. Melihatnya tersenyum tanpa beban saat kita minum bersama, awal pertemuanku dengan nona Yuni, aku tidak bisa melupakan itu."
Surya tersenyum. Kalau dicocokkan memang sama cerita Ratih dengan Mr, Cahyo terlalu sering menyiksa Yuni, dan sekarang semua orang seolah mengetahuinya. Surya merasa tak akan ada yang bisa menyelamatkan Cahyo. “Mr, apa ini tidak terlalu cepat? Sebagai karyawan tuan Cahyo, saya memang baru mendengarnya sekarang, tapi sebagai karyawan nona Yuni, bahkan perceraian saja belum diurus, kenapa Anda membahas pernikahan?” Akan jadi apa kantor nanti kalau Cahyo tahu rencana Mr?
“Hahahaha. Tidak ada yang sulit di dunia ini, Pak Surya. Aku akan mengurus semua dengan capat, demi kebahagiaan nona Yuni, aku akan melakukan apa pun.” Mr tersenyum lebar. Begitu percaya diri.
__ADS_1
Sedangkan Hendra yang baru saja datang dengan Anton, sempat mendengar ucapan Mr meski tak terlalu jelas, dan itu membuatnya dilema. Setelah Cahyo yang kaya dan memiliki perusahaan, sekarang Mr yang lebih besar lagi, dan dia hanya anak panti asuhan yang bekerja dengan gaji terbatas. Meski mungkin cintanya suci dan rela menyerahkan nyawa, tidak mungkin dia mampu bersaing perkara harta. Uang pun juga penting di dunia ini.
“Anton, Hendra,” Surya menoleh ke Mr, “mari kita mulai saja dulu rapatnya, Mr.” Tak terlalu berani membahas hal yang di luar jangkauannya. Surya sangat tahu seperti apa Cahyo dan Yuni saat ini.