
Cahyo berdiri sambil tersenyum, menautkan diri ke cermin dan menyisir rambut, “Sudahlah, Pa.”
Papa Cahyo malah tertawa, “Penyesalan memang adanya di akhir, papa pernah muda, dan papa tahu apa yang kamu rasakan, tapi satu yang ingin papa tahu, kenapa kamu tidak mencari Yuni?”
Cahyo tersenyum, mengambil kunci mobil dan berbalik menghadap papanya, “Aku pergi dulu, Pa.” Merapikan pakaiannya dan melangkah ke luar.
“Kau pergi untuk menghindariku?” Papa Cahyo sengaja mengekor putranya untuk menuntut jawaban.
Cahyo membuang napas kasar, “Pa?”
“Hahahahaha.” Menepuk punggung putranya beberapa kali, “Pergilah. Jangan pulang, biarkan aku dan mamamu punya anak lagi, dan menjadi adikmu. Hahahahaha.”
Cahyo tertawa juga sambil menggeleng, papanya memang luar biasa, sejak kepergian Yuni keluarga ini memang lebih hangat meski perasaannya tak lagi sama. Cahyo menuju ke rumah Surya, hampir tiba, dan dia melihat Mr membuka pintu mobil. Bisa dipastikan itu Yuni.
“Jam berapa nanti?” Mr merapikan rambut Yuni.
“Aku akan meneleponmu nanti setelah acaranya selesai, kalau Ratih memintaku tidur sini, aku juga mengabarimu. Hati-hati. Dadah!” Yuni memeluk Yuni dan melambaikan tangan sesaat sebelum mobil Mr pergi. Dia berbalik, ternyata Ratih sudah menyambutnya, Yuni pun memeluk sahabat yang sudah dirindukan itu.
“Bagaimana kabarnya? Dia semakin aktif?” Ratih menunduk dan mengusap perut Yuni.
Yuni tertawa, “Aku sudah tidak sabar, Tante. Kita bertemu tiga bulan lagi, ya?” Berucap seolah anaknya yang bicara ke Ratih.
“Ayo masuk!” Ratih pun merangkul Yuni dan mengajak sahabatnya masuk.
Cahyo ikut tersenyum, percakapan barusan sangat indah dan menarik, andai dia berada di samping Yuni saat ini. Angganya pun melayang...
“Tuan Cahyo, nona Yuni ke apartemen, kami juga sudah tahu di lantai dan nomor berapa, apa Anda akan datang?”
“Tidak, terus saja ikuti ke mana Yuni pergi, aku hanya ingin tahu tentang kesehatannya.”
...
“Tuan Cahyo, nona Yuni sedang di restoran, apakah Anda akan ke sini?”
“Tidak, jaga Yuni saja.”
...
“Tuan Cahyo, nona Yuni di butik...
“nona Yuni di salon...
__ADS_1
“nona Yuni di taman...
“nona Yuni sendirian di restoran, apakah Anda ingin ke sini?”
Saat itu Cahyo selalu mengatakan, “Tidak, jaga Yuni saja.” Memandangi foto yang baru saja dikirim oleh orang suruhannya dan sesekali mengusap. Tawa Yuni lebar dan terlihat bahagia. Hingga kini...
Cahyo tersenyum, “Tawamu masih sama, Yun. Seburuk itu aku menjadi suamimu.” Cahyo berniat memutar balik mobilnya, tapi ponselnya malah berbunyi, dan itu dari Surya. “Ya?’ Tak mungkin mengabaikan telepon itu.
Surya terkekeh, “Aku tahu kau sudah di depan, masuklah, mereka ada di taman belakang, aku di ruang tamu sekarang.”
“Ini pemaksaan, Sur.” Cahyo enggan datang. Dia yakin tujuan Surya hanya untuk mempertemukannya saja.
“Anggap saja begitu. Masuklah atau aku akan mengirim surat pengunduran diriku besok.” Surya memutus sambungan telepon begitu saja. Segera ke luar untuk menyambut Cahyo.
Menarik napas panjang dan dalam, Cahyo mengantongi ponselnya, dan turun juga. Enggan melangkah, tapi Surya melambaikan tangan, dan itu membuatnya terkekeh. “Aku baru sadar kalau sebenarnya kita sudah gila sejak dulu.” Ikut masuk ke rumah Surya.
“Lupakan saja. Kau mau minum?” Ini adalah rumah impian Surya, ada bar kecil, dan dia mengajak Cahyo duduk di sana.
“Kopi saja.” Cahyo menunjuk alat pembuat kopi di ruangan itu.
“Itu rusak, minum ini saja.” Surya menuang anggur di gelas berukuran lumayan besar dan memberikannya ke Cahyo. “Kau datang ke acara besok lusa? Kau pimpinan kami, kan?” Surya menikmati anggurnya lebih dulu.
Cahyo meneguk sekali dan meletakkannya kembali, “Sepertinya papa yang datang. Sahamku di bawah papa, kalau memang ada undangan pengesahan, papa yang wajib datang, aku akan di kantor, ada rapat, kan?”
Ratih... duduk bersama teman-temannya sambil menikmati bbq dan jagung bakar, “Iya, jadi mulai sekarang, kita bisa mulai arisan lagi.” Tertawa bersama teman-temannya juga.
“Lalu aku?” Yuni menunjuk dirinya sendiri.
“Kamu bisa menyewa tempat yang bagus, Yun. Jangan konyol.” Ucapan Ratih membuat semua orang tertawa.
“Dasar! Aku masuk sebentar, ya? Di mana lecinya?” Yuni hanya minta buah itu ke Ratih karena Ratih bilang kalau di belakang rumah baru ini ada kebun leci.
“Masuklah. Surya akan mengambilkannya untukmu.” Ratih kembali mengobrol dengan teman-temannya.
Yuni berdiri, berjalan perlahan, dan segera masuk. Tubuhnya menghangat setelah kedinginan dari belakang, “Surya? Surya?!” Terus masuk untuk menemukan suami Ratih.
Mendengar teriakan itu Surya dan Cahyo menoleh, “Ya?!” Berdiri saat melihat Yuni.
Sedangkan Cahyo melempar senyumnya ke Yuni. Segera mengambil gelas anggurnya dan membasahi tenggorokannya.
“Hm...” Yuni merapikan rambutnya, tak dia sangka akan bertemu dengan Cahyo di sini, dia lupa kalau Surya dan Cahyo itu bukan cuma rekan kerja, tapi juga sahabat, “lecinya mana?”
__ADS_1
“Oiya... aku lupa. Sebentar aku ambil dulu. Tunggulah di sini.” Surya memundurkan kursinya agar Yuni lebih mudah duduk di tempat itu. Sengaja agar Yuni berdekatan dengan Cahyo.
Cahyo menggeser kursinya menjauh, “Duduklah. Wanita hamil tidak boleh terlalu lama berdiri.” Meminum anggurnya lagi.
Yuni mengangguk, dia duduk di tempat itu, membiarkan hanya detik jam yang mengisi ruang, tanpa ingin membicarakan banyak hal. Bolehkah Yuni menyombongkan diri? Tak ingin bertanya lebih dulu. Dia wanita, kan?
Cahyo meletakkan gelasnya agak kasar, membuat Yuni menolehnya, dan dia pun menoleh juga sambil tersenyum. “Kau... sehat?” Cahyo membuang muka meski sesekali tetap menoleh ke Yuni.
Yuni mengangguk, “Kamu, Mas?”
Hati Cahyo menghangat, kenapa panggilan itu masih terdengar merdu? “Ya, seperti yang kamu lihat, Yun.” Sengaja ikut memanggil juga. Andai Yuni tahu kalau dia begitu ingin memeluk, tapi tak punya cukup nyali untuk melakukannya.
Jantung Yuni berdegup kencang, bagaimana bisa panggilan itu masih bernada sama, Cahyo memang pandai mempermainkan hati, dan itu membuat Yuni semakin membenci. “Bagaimana keadaan Nana, Mas? Bukankah anakmu lahir bulan ini?” Yuni akan mengungkit apa yang membuatnya semarah ini ke Cahyo.
“Nana?” Cahyo tertawa, tangannya juga menutupi bibir agar tawa itu tak terlalu keras, “Dia di rumah.”
Yuni mengangguk, “Jaga dia, Mas. Jangan membuat banyak hati kecewa.”
“Hm.” Cahyo meminum anggurnya lagi. Malas menanggapi ucapan Yuni, sepertinya Yuni tidak tahu kalau pernikahan itu batal, tapi tak mungkin karena Mr tahu tentang pernikahan Anton. Sepertinya memang semua ini disembunyikan oleh Mr.
Surya kembali dengan membawa keranjang buah, tak mungkin juga meninggalkan Cahyo dan Yuni terlalu lama. “Ini, kalau kurang, lusa kubawakan lagi saat pengesahan pantai. Kamu datang, kan?” Surya mau jawaban Yuni didengar oleh Cahyo.
Yuni mengangguk sambil tersenyum, “Ya, aku akan datang. Terima kasih, kubawa ke luar, ya?” Yuni berdiri dan membawa leci itu kembali ke Ratih. Serindu apa dia dengan Cahyo, nyatanya tetap sakit hati juga jika mengingat semua perbuatan Cahyo padanya, terlalu dalam jika dilupakan begitu saja.
Surya menyenggol lengan Cahyo. Bukan terpana, Cahyo malah meneguk anggur tanpa beban, “Jangan masuk di sini.”
“Hanya anggur tak akan membuatku mabuk.” Cahyo pun berdiri, “Aku pulang, ya? Aku sudah bertemu Yuni, itu yang kamu mau, kan? Kita juga sudah bicara tadi. Aku pulang dulu.” Cahyo pun melangkah pergi.
Surya tak bisa menahan Cahyo, aura jadi dingin, sepertinya ada yang baru saja terjadi. Setelah mengantar Cahyo ke luar, Surya memilih bergabung dengan para wanita di belakang, hingga satu per satu pamit pulang, tinggal Yuni dan seorang lagi teman Ratih. “Tidur sini saja, kamar di sini banyak, besok pagi kita bisa sarapan bubur bersama. Di depan saja ada bubur yang sangat enak, kalian pasti suka.”
“Pacarku sudah jalan, aku pulang, Sur. Maaf, ya? Lain kali saja. Rat, aku pulang.” Seorang teman lain memeluk Ratih dan Yuni bergantian, lalu pulang, malah sudah semakin larut.
“Ayo masuk, Yun!” Surya mengajak Yuni masuk, “Tidurlah di sini, Ratih pasti senang, kalian sudah lama tidak bertemu, kan?” Duduk di ruang tengah yang menghadap ke bar. Tempat yang tadi ditempati olehnya dan Cahyo.
Yuni mengangguk, “Ya, kita tidur bersama, ya? Aku tidak tahu kapan lagi bisa bertemu.” Ajaknya ke Ratih.
Ratih mengangguk senang, “Tentu saja. Ayo ke kamar saja!” Memberi ciuman ke Surya sekilas dan mengajak Yuni ke kamar tamu.
Yuni duduk di ranjang, membiarkan Ratih ganti baju, dan dia melayangkan pikiran, “Cahyo di sini tadi dan kami bertemu.” Dia tersenyum saat Ratih menoleh.
“Tidak mungkin, acara ini hanya untuk teman-temanku karena aku tidak terlalu suka dengan Mr. Kalau memang ada Cahyo berarti Surya yang mengundangnya. Maaf, ya? Kamu jadi ketemu dengan pria itu.” Ratih sangat menyesal. Kenapa Surya tak bertanya padanya dulu.
__ADS_1
Yuni tersenyum sambil mengangguk, “Kami hanya tegur sapa, Rat. Jangan kawatir begitu. Aku tidak apa-apa. Dia tidak menyakitiku dan aku bilang padanya kalau dia harus menjaga Nana mulai sekarang.”
“Apa? Nana?!” Ratih segera duduk di sebelah Yuni karena baru saja selesai ganti baju, “Cahyo dan Nana tidak jadi menikah, Yun. Nana hamil anak Anton. Kamu tidak tahu? Mr saja tahu. Apa kalian tidak pernah membahasnya?”