
Mr baru saja akan membuka jaket dan Yuni memberinya pertanyaan yang cukup sulit. “Kupikir... kamu tidak ingin tahu. Jadi... aku... tidak membicarakannya.” Mr tersenyum untuk menutup perasaan tak enak.
Yuni mengangguk, “Mama? Mr juga tidak bilang kalau mama ingin bertemu denganku, kenapa?”
“Hanya dua hari aku pergi. Ada apa, Yun?” Mr tak paham kenapa pertengkaran ini terlalu mendadak. Padahal selama ini dia baik-baik saja.
Yuni tersenyum, “Kurasa Mr salah paham. Aku minta tinggal di sini karena tempat ini paling aman menurutku, tapi bukan berarti Mr bisa menjauhkanku dari mana pun. Aku—“
“Aku mencintaimu.” Mr membuat Yuni berhenti bicara, “Apa selama ini begitu sulit untuk mengerti hal sekecil itu? Aku tidak akan mempermasalahkan anak itu, aku hanya ingin kita bersama, apa itu salah?”
Yuni menggeleng, “Aku masih menjadi istri sah mas Cahyo.”
“Istri yang seperti apa? Bahkan kamu tinggal denganku hampir delapan bulan, semua barang, makanan, dariku, tak ada harta Cahyo yang menopangmu selama ini. Perceraian itu sudah sah di mata agama, Yun.” Mr tahu aturan mainnya.
Yuni membalikkan badan, semua ucapan seolah menyadarkan kalau dia sedang dijebak, dan dia menyesalinya. “Aku lelah, Mr.” Dia merasakan pelukan dari belakang, tapi enggan untuk menepis.
“Istirahatlah dulu, Yun. Aku tidak ingin melihatmu sakit atau bahkan kelelahan.” Mr mengecup pelipis Yuni dan pergi. Dia juga lelah dan ingin beristirahat. Baru saja pulang, Yuni malah menyulut emosinya, sepertinya dia harus lebih tegas.
***
Yuni sarapan seperti biasa. Sesekali melirik Mr yang makan selahap biasanya. “Aku ingin pergi. Mobil mana yang bisa kupakai?” Melahap kembali makanannya sambil menatap Mr.
“Ada sopir, aku juga bisa mengantarmu, tapi hari ini aku harus bekerja, bagaimana jika besok saja?” Mr tahu, Yuni pasti ingin menemui Cahyo, cinta itu sudah tumbuh kembali ternyata.
“Biar diantar sopir saja, aku tidak mau merepotkanmu, ya?” Menunggu sampai Mr pergi lebih dulu, baru setelahnya Yuni ganti baju, dan pergi juga. Dia ke toko bunga, tempat ini sangat lama tidak dikunjungi, dan Yuni menghabiskan banyak waktunya di sini.
__ADS_1
Cahyo... tersenyum lebar, “Terima kasih.” Baru saja mendapat kabar kalau Yuni di toko bunga. Kemarin satpam sudah memberi tahunya, itu saja sudah menyenangkan, Yuni malah berkunjung lagi, jadi Cahyo segera menuju ke toko bunga juga. Pura-pura melakukan pengecekan rutin dan mengerutkan kening saat melihat Yuni mendekatinya, “Kamu di sini?”
Yuni mengangguk, “Sepertinya karyawanku tidak setia lagi padaku, mereka memihakmu setelah aku pergi, bukan begitu?” Tersenyum lebar ke Cahyo.
Cahyo malah tertawa. Dia enggan membalas ucapan itu, lebih memilih untuk menoleh ke karyawannya, “Cepat berikan laporan minggu ini, aku harus segera kembali ke kantor, ya?”
Yuni menelan ludah. Ternyata dia salah tafsir.
“Biasanya akan lama, ada kafe di sebelah toko ini, kita bisa membeli kopi atau teh di sana kalau kau mau.” Cahyo berharap Yuni tak menolaknya.
Anggukan kecil ke luar juga. Yuni mengekor Cahyo dan duduk di seberang. Saat pesanan yang diminta sudah datang, Yuni baru memulai percakapan ini, “Kenapa tidak mengenalkannya padaku? Di sangat cocok dan sesuai dengan seleramu.”
Cahyo mengerutkan kening, “Siapa?”
“Ooo...” Cahyo tertawa sambil menggeleng, “maksudmu Lani? Wanita yang ikut ke pengesahan pantai kemarin?”
Yuni mengangkat bahu, “Jadi namanya Lani? Cantik seperti orangnya. Kalian terlihat bahagia, apa dia suka dengan tamparanmu?” Terkekeh saat melihat wajah Cahyo yang langsung diam.
Mencebikkan bibir dan mengangguk cepat, “Sepertinya begitu.” Menyesap ekspresonya, Cahyo tak menyangka kalau Yuni akan menembaknya seperti ini.
“Hahahahaha. Aku tidak menyangka kalau ada juga wanita yang suka dengan hal seperti itu.” Yuni menenangkan diri agar tawanya berhenti. Baru setelahnya membasahi tenggorokan.
“Lalu? Mr suka membelaimu dengan mesra?” Cahyo juga ingin bertanya.
Yuni segera merapikan rambut dan berdiri, “Perutku mual, sepertinya ini tidak baik untuk bayiku, aku pergi dulu.”
__ADS_1
Cahyo dengan cepat menahan tangan Yuni, tanpa menekannya karena dia tak ingin menyakiti Yuni, “Apa pertanyaanku menyakitimu? Lalu bagaimana dengan hatiku, Yun? Kenapa dari sekian banyak pria kamu memilih Mr? Tidak adakah pria yang lebih baik dariku selain Mr? Apa karena dia lebih kaya? Dia bisa memberimu apa pun yang kamu inginkan?!”
‘Plak!’ Yuni menampar Cahyo dengan tangan lain yang bebas, “Jaga sikapmu, Mas. Aku tidak ingin dipermalukan di tempat umum.”
Cahyo mengedarkan pandangan, memang kafe itu ramai, dan hampir semua orang menoleh padanya. Saat dia ingin menjelaskan sesuatu ke Yuni, nyatanya Yuni sudah beberapa langkah di depan sana. Cahyo segera mengambil jas dan berniat mengejar Yuni, tapi malah dihadang oleh karyawan kafe.
“Maaf, Tuan. Anda harus membayarnya dulu.”
Cahyo segera mengambil dompet dan mengeluarkan uang beberapa lembar ratusan ribu dan langsung ke luar mengejar Yuni. Sayang, wanita yang tak pernah pergi dari pikirannya itu sudah naik mobil. Cahyo tak akan bisa mengejar, “Sial!” Memukul udara karena benci dengan keadaan ini.
“Tuan Cahyo, ini laporan keuangan minggu ini.” Karyawan toko bunga menyodorkan buku ke Cahyo.
Segera menepis buku itu, “Simpan saja. Aku tidak membutuhkannya lagi.” Cahyo masuk mobil dan mengajak sopir kembali ke kantor. Tak ada ruangan yang lebih bisa menolong selain ruang kerja Surya dan di sanalah Cahyo sekarang. “Rasanya aku ingin membunuhnya. Bagaimana bisa? Kalau papaku tidak mengambil saham terlalu banyak untuk Yuni, aku bisa mengirimnya kembali ke negaranya dengan cepat.” Mengendurkan dasi yang dikenakan. Udara di sekitar Cahyo seolah memanas.
Surya terkekeh, “Selalu ada jalan, asal kamu mau berusaha, tapi apa kamu masih mencintai Yuni? Pasti sulit untuk membuat Yuni percaya dan mau kembali padamu.”
Cahyo menatap Surya tajam, “Yuni hamil anakku, Sur.”
“Dari mana kamu tahu itu anakmu? Anak Nana saja kamu gak tahu itu anak siapa?” Surya terkekeh.
“Aku memang gak yakin, tapi Yuni gak mungkin selingkuh, kan? Hendra juga gak bakal seberani itu, mereka hanya berteman, Ratih ‘kan tang bilang gitu?” Kenapa Cahyo merasa Surya malah memojokkannya seperti ini? Teman macam apa Surya ini?
Bukannya takut, Surya malah tertawa, aura kepanikan terpancar nyata, dan Surya senang menikmati hal itu dari Cahyo. Dia pun mengeluarkan map dari laci, memberikannya ke Cahyo, membiarkan temannya membuka map itu terlebih dahulu. “Aku yakin kamu tahu apa yang harus kamu lakukan. Kalau memang kamu mencintai Yuni, buktikan, jangan janji sama ucapan doang. Waktu gak bakal bisa diputar lagi. Jangan buang waktu.” Surya akan selalu ada di pihak Cahyo.
Terkekeh, Cahyo berdiri sambil memegang map itu, “Thank’s, ya? Gak tahu lagi kalau gak ada kamu.”
__ADS_1