Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Minta apa pun


__ADS_3

Surya menggeleng, “Gila. Ini benar-benar gila.” Entah siapa yang menyebarkan pada awalnya, grup WA kantor jadi gempar sejak semalam, dan kini tak mungkin dia diam saja sebagai teman Cahyo meski di sini dia hanya karyawan biasa.


“Aku tidak mengira akan seperti ini.” Cahyo memijit kepala, mau meledak karena terlalu banyak memikirkan banyak hal, Nana, kliennya, dan yang paling penting Yuni. Seperti apa dia menghadapi Yuni nanti?


“Katakan, kapan kamu mau menceraikan Yuni?” Surya melihat Cahyo menggeleng, “Itu berarti kamu sangat egois, Cahyo. Kamu membuatnya merana dan tak membiarkan dia bahagia. Mau sampai kapan?” Surya menggeleng lagi, dia sangat tahu seperti apa Cahyo menyisa Yuni selama ini, apakah dia akan tetap diam?


“Aku tidak akan pernah membiarkan perceraian itu ada, Sur. Yuni akan tetap jadi istriku.” Tegas Cahyo, meski tak tahu apakah semua keputusannya disetujui juga oleh mama dan papanya.


Surya menggeleng, “Ingat, Yuni cuma manusia biasa, dia bisa lelah dan marah, kemudian semua yang dia tahan secara berlebihan, akan meledak dan mengejutkanmu. Ingat itu.” Surya tak bisa berkomentar lebih dari itu.


Ketukan mengejutkan ke duanya, Cahyo menoleh, “Masuk!” Semua rapat sudah dibatalkan, tapi apa yang membuat sekretaris kantor ke mari?


“Maaf, Tuan Cahyo, tuan besar di ruang rapat sekarang, Anda ditunggu.” Menunduk hormat, “Kami tunggu di ruang rapat, Tuan Cahyo.” Ke luar lebih dulu.


Cahyo membuang napas kasar, “Papa selalu ada di pihak Yuni.”


Surya mengangguk, “Sudah sepantasnya seperti itu. Kalau aku yang jadi papamu, aku juga akan melakukan hal yang sama, kamu anak yang memalukan.” Berdiri dan segera ke ruang rapat.


Cahyo merasakan atmosfer canggung di sini, setelah sekian lamanya papanya tak pernah datang, hari ini malah dirinya seperti pesakitan.


Papa Cahyo mengangguk, “Karena semua sudah datang, silakan mulai rapatnya, waktuku sangat terbatas.”

__ADS_1


“Baik, Tuan.” Sekretaris itu menunduk hormat ke Cahyo dan Surya, “Maaf karena saya yang membawakan rapat kali ini, Pak Surya. Saya akan memulainya.”


Surya mempersilakan, tak keberatan sedikit pun dengan keputusan papa Cahyo, dan dia yakin badai sudah dimulai.


Cahyo sudah membuang napas sebanyak dia punya, rapat masih sekitar dua puluh menit, dan telinganya sudah sangat panas. Dia anak kandung orang tuanya, tapi pembahasan rapat kali ini seperti dirinya seorang anak tiri saja. Saham yang begitu mudah berpindah tangan, membuatnya tak berdaya, tapi Cahyo tak ingin membela haknya sendiri.


“Bagaimana, Tuan Cahyo? Apa ada yang Anda ingin tanyakan? Saya bertanya seperti ini karena Tuan besar juga ingin saya menanyakannya ke pada Anda.” Sekretaris itu tersenyum ramah. Entah apa permainan yang membuat orang kaya jadi punya banyak pekerjaan.


Cahyo menaikkan pundaknya bersamaan, “Tidak. Papa lebih tahu mengenai semua ini.” Menoleh ke papanya dan tersenyum.


“Bagus!” Papa Cahyo pun berdiri, “Jadi mulai sekarang... lakukan pekerjaanmu dengan benar, papa bangga padamu. Semua ini bukan penghinaan, agar kamu lebih berhati-hati, berjuanglah!” Papa Cahyo berdiri, menepuk pundak putranya beberapa kali, dan pergi.


Mama Cahyo... tidak menemukan Yuni di rumah, dia menjadi panik, tapi sepertinya hanya ada satu tempat yang bisa didatangi Yuni, dan di sanalah dia berada sekarang, toko bunga. Tahu menantunya di ruang istirahat, dia pun segera ke sana, dilihatnya Yuni yang melamun sambil menatap jauh ke jendela.


“Kamu sudah makan?” Mama Cahyo mengusap rambut Yuni, sayangnya lebih besar dari pada ke Cahyo, dia merasa Yuni lebih tulus dari putra kandungnya sendiri.


Yuni menggeleng, “Aku... belum lapar, Ma. Hm... Mama mau teh? Kopi? Aku akan membuatkannya dulu.” Yuni berdiri dan bersiap ke dapur.


“Jangan!” Mama Cahyo ikut berdiri, “Temani saja mama makan, aku sangat lapar karena ke luar terlalu pagi, kamu mau, kan?”


Yuni yakin itu hanya alasan saja, tapi dia tetap mengangguk untuk menghormati mertuanya, “Makan di mana, Ma?” Yuni sedang tak berselera ke mana pun, jadi biar mamanya saja yang mencari tempat.

__ADS_1


“Katanya di dekat sini ada restoran baru, ada menu bebek betutu juga di sana, sepertinya enak. Ah! Itu!” Mama Cahyo menunjuk agar sopirnya menepikan mobil. Segera memesan cukup banyak karena dia masih hafal porsi makan menantunya, dan setelah semua menu dihidangkan, “Makanlah, Sayang. Kita tidak akan pulang sebelum semua makanan ini habis.”


Yuni malah menangis, kenapa mertuanya sebaik ini? Andai Cahyo pun juga sama. Namun, sebanyak apa dia menangis, tak akan pernah berguna, semua petaka itu sudah terjadi.


Mama Cahyo berdiri, memeluk Yuni, “Maafkan putra mama, Sayang. Bukankah kita akan memukulnya bersamaan, apa kita melakukannya sekarang? Kita ke kantornya dan memukulinya atau menunggu Cahyo pulang ke rumah saja?” Mama Cahyo sempat menunggu kekehan Yuni dan dia memilih untuk mengurai pelukan itu, “Meski selucu apa mama bicara, tak akan bisa menghilangkan bekas lukamu yang dalam itu, mama hanya bisa memohon ampun atas kebodohan Cahyo, Sayang.” Mengusap pipi Yuni agar tak terlihat menyedihkan.


Yuni menarik napas beberapa kali dan setelah dirinya tenang, sepertinya semua harus diluruskan. “Ma, kapan sidang perceraiannya?” Yuni ingin segera bebas.


Mama Cahyo menggeleng, “Tidak, Sayang. Cahyo yang salah. Kamu tidak akan pergi ke mana pun.”


“Tapi Nana hamil anak mas Cahyo, Ma. Aku gak mau bayi yang tidak berdosa itu semakin menyedihkan melebihi aku. Jangan sampai dia disumpahi anak haram karena lahir sebelum ibunya punya suami.” Yuni masih punya hati.


“Biar saja Cahyo dan Nana menikah,” Mama Cahyo duduk di tempatnya yang tadi, “tapi tetap tak ada perceraian antara kamu dan Cahyo. Minta apa saja, Sayang. Asalkan jangan perceraian.”


“Aku harus minta apa, Ma? Aku sudah tak punya apa-apa, tak ada yang kuinginkan, harapan juga sudah tidak ada. Apa yang harus kuminta, Ma?” Yuni terus menggeleng, bibirnya terlalu bertolak belakang dengan hatinya, dan Yuni tidak tahu harus melakukan apa.


“Apa pun, Sayang. Apa pun. Mama akan memberikannya sebagai tanda permintaan maaf mama atas kesalahan Cahyo.” Mama Cahyo menggapai telapak tangan Yuni di meja, meremasnya, sekedar menguatkan semampu diri.


Yuni menghela napas panjang dan dalam, semua ini tak akan berakhir mudah, Yuni harus menawarkan pilihan. “Aku... tidak tahu harus melakukan apa, Ma. Tapi kalau Mama mau aku meminta sesuatu, apa Mama akan memberikannya meski sangat mahal?” Biar saja dia dicap tak tahu diri. Yuni sudah tak peduli.


Mama Cahyo mengangguk, “Ya, tentu saja. Katakan, apa yang kamu minta, Sayang? Mama pasti akan memberikannya asal kamu memaafkan Cahyo. Ampuni semua kesalahannya.”

__ADS_1


Yuni tersenyum, “Biarkan aku tinggal di toko bunga, Ma. Kurasa itu lebih baik dari pada harus tinggal serumah dengan Cahyo dan Nana nanti.”



__ADS_2