Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Banyak yang terjadi


__ADS_3

Malam tiba. Yuni termenung di jendela, beberapa lampu taman menegaskan betapa indah taman bunga di belakang vila, tapi tetap tak menarik hati. Dia bingung, siapa yang sedang bersandi wara, Cahyo dan Mr sama-sama tak terbaca, dan kini Yuni tak mengerti harus bagaimana.


Melihat Yuni, Mr mendekat perlahan dan merangkul, itu adalah hal yang sering dilakukan saat tinggal di Singapura. “Maaf aku pulang terlambat. Kamu sudah makan?” Mr mengecup pelipis Yuni.


Menggeleng, “Aku menunggumu. Ayo makan bersama!” Yuni merangkul Mr dan mengajaknya ke meja makan. Beberapa pelayan menjamu dan Yuni segera mengajak Mr memulai makan malam ini.


“Beberapa pekerjaan datang tak terduga, sepertinya semesta berpihak padaku, apa ini berita bagus?” Mr melempar senyumnya.


Yuni mengangguk, “Ya, aku senang mendengarnya. Kita perlu merayakan ini, Mr.”


“Bagaimana kalau besok kita ke pantai? Aku belum melihat tempat itu, padahal semua desain bangunan aku yang memilihnya, apa sangat indah? Kau suka?” Mr melahap makanannya.


Yuni mengangguk lagi, “Sangat suka. Berangkat sore saja, senja di saja sangat indah, Mr... mau, kan?”


“Tentu saja. Kenapa tidak? Ah! Kapan jadwal periksamu? Aku tidak mau ketinggalan perkembangan anak kita.” Mr memang sudah menganggap anak Yuni anaknya sendiri. itu adalah janji yang sempat diberikan Mr ke Yuni.


“Masih satu minggu lagi. Jangan kawatir.” Keduanya menghabiskan makanan bersama, kemudian ke cinema untuk menonton, dan kali ini Yuni memilih film komedi. Dia ingin melepas penat seharian yang menyiksa diri.


“Bagaimana tadi di toko? Kata sopirku, kamu bertemu dengan tuan Cahyo, apa dia menyakitimu?” Mr masih membelai rambut Yuni, bahkan sesekali mencuri kecupan di puncak kepala, tanpa mengendurkan pelukan itu.


Yuni menggeleng, tak menyangka kalau ternyata sopir Mr setia seperti itu, “Kami hanya membicarakan tentang pembukuan toko, lagi pula aku buru-buru, jadi tak sempat membahas hal lain.”


Mr mengangguk, “Aku senang kalau hubunganmu dengan tuan Cahyo membaik, meski mungkin sangat sulit untuk dilupakan, tapi aku dan dia tetap akan menjadi klien, kita akan sering bertemu di mana pun dan kapan pun.”


Yuni ikut mengangguk juga, dia gugup, sepertinya Mr mulai mengawasi pergerakannya. Yuni meregangkan pelukan, dia berbalik untuk mengatakan sesuatu, tapi hal lain malah mengejutkannya, “Mr?”


Terkekeh, “Sudah lama aku menunggu, aku tidak akan mengejarmu sampai tak punya waktu, tapi setidaknya pikirkan tawaranku, Yun.” Memasukkan cincin ke kalung dan memasangkannya di leher Yuni.


Yuni tersenyum, “Terima kasih sudah memberiku waktu.” Memeluk Mr, dia tahu ini pasti akan terjadi, tinggal bersama dan melewati apa pun berdua, tak mungkin Mr akan melepaskannya begitu saja, dan hari ini semuanya nyata.

__ADS_1


Setelah kembali ke kamar, Yuni masih enggan membaringkan tubuh, dia masih setia memandangi cincin yang tadi diberikan oleh Mr, jawaban apa yang akan dia berikan? Tangannya mengusap perut, anaknya menendang terlalu kuat hingga dia harus meringis, apa ini sebuah penolakan?


***


Hari ini, Mr mengajak Yuni ke pantai, dia sengaja mengajak Yuni turun untuk menyentuh pasir dan air asin itu dengan kaki telanjang. Berjalan perlahan menyusuri tepi, hingga akhirnya duduk juga di bangku bawah pohon ketapang dengan es kelapa muda di depannya. “Aku akan menghadiahkan ini untukmu, tapi setelah anak itu lahir, terimalah!” Mr tersenyum, menggapai tangan Yuni, dan mengecup punggung tangan.


“Itu terlalu berlebihan, Mr. Semua yang kuterima darimu, aku tidak akan bisa membalasnya suatu saat nanti, harus bagaimana aku hidup?” Yuni merasa semua ini tidak perlu.


“Membalas? Untuk apa? Aku mencintaimu dan cinta tak perlu dibalas, Yun. Cukup kebersamaan kita dan aku—“ Mr menghentikan ucapannya saat ponsel berdering memekakkan telinga. Tanpa mengucapkan apa pun, dia segera berdiri dan menjauhi Yuni, menerima panggilan telepon itu.


Yuni menghela napas. Untung Mr menjauh, setidaknya dia bisa bernapas beberapa detik sebelum menjawab pertanyaan yang akan Mr ajukan. Saat Yuni sudah menyiapkan diri, dia malah heran karena wajah Mr yang berubah panik, “Ada masalah?”


Mr menggeleng sambil mengusap kening, “Bukan masalah kecil. Aku harus segera pergi, tunggu beberapa menit, sopir akan mengantarmu, maaf, ya?” Mr memeluk Yuni sejenak, memberi kecupan di kening, dan segera pergi.


Terlalu buru-buru dan Yuni yakin sedang ada yang terjadi, tapi apa? Dia melanjutkan langkah, sambil mengusap perut sesekali, Yuni menikmati sepoi angin di pantai yang dibangun atas imajinasinya meski tak semua. Mungkin hampir satu jam, mobil yang begitu dikenalnya mendekat, dan Yuni segera tersenyum lebar. “Lama tak bertemu. Bagaimana kabarmu, Anton?” Yuni memeluk Anton sejenak.


“Ya, beginilah. Mr menelepon agar aku menjemputmu, kau mau pulang sekarang? Kebetulan aku ada pekerjaan di sekitar sini, tapi maaf kalau kamu lama menunggu, jalan ke pantai sangat jauh dari kota.” Anton mengajak Yuni naik mobilnya dan segera mengantar pulang.


“Sehat, anakku perempuan, kamu? Aku tidak menyangka kamu ikut bersama Mr ke Singapura, entah seperti apa tuan Cahyo, mungkin dia kacau. Kita memang tidak dekat, tapi aku cukup mengenalnya.” Anton mengendarai mobilnya dengan nyaman. Seperti inilah keinginan semua ibu hamil.


Yuni terkekeh lagi, “Semua terjadi begitu cepat. Aku tidak bisa merencanakannya, Mr sangat baik, dan—“


“Karena itu kamu tergoda?” Anton bertanya sambil menoleh. Yuni yang diam enggan menjawab, Anton malah terkekeh, "Kau tahu? Hari itu...


Sangat terik di pantai. Sebuah mobil datang dengan kecepatan tinggi, Anton kawatir ada hal yang tak diinginkan, dan dia segera berlari untuk menghalau, tapi mobil itu berhenti tepat di depannya. “Tuan, Nyonya, apa yang Anda lakukan di sini? Banyak proyek, berbahaya, pulanglah!”


Pria turun dan disusul oleh wanita yang bisa ditebak adalah istrinya, “Kau yang namanya Anton, kan? Kita pernah bertemu, apa kau lupa? Aku bahkan tak melupakanmu sedikit pun.”


Anton menggeleng, terlalu banyak orang yang dia temui, dan tak semuanya mampu diingat.

__ADS_1


“Ini kekasihmu?” Menyodorkan sebuah undangan, “Dia akan menikah dengan putraku. Aku hanya tak ingin kalian semakin jauh. Dia hamil anakmu, kan?”


Ucapan itu selalu diingat Anton sampai sekarang...


“... hanya beberapa pukulan, meski bibir tuan Cahyo pecah, aku yakin tak akan menyakiti hatinya, tapi kau? Mr dan tuan Cahyo kenal baik, jangan menyakiti mereka, Yun.” Anton tersenyum. Dia sesekali menoleh meski tetap fokus ke jalan.


Yuni menarik napas panjang dan dalam, “Ada kesalah pahaman yang sangat sulit untuk diceritakan. Tak semua orang mau mendengarnya juga dan Mr datang dengan semua hal yang kuinginkan, Anton. Aku tidak akan bisa menolak itu.”


Lampu merah di perempatan. Anton segera mengambil ponsel dan menunjukkannya ke Yuni, “Aku tidak tahu apa kamu pernah membaca ini atau tidak.” Setelah hijau, Anton melajukan mobilnya lagi, dia akan memberi waktu ke Yuni untuk membacanya.


‘Istri Dari Pengusaha Kaya Kabur Dengan Klien Kaya Dari Singapura’ Yuni segera menutup mulut, bahkan dia tak pernah membayangkan ada berita semacam ini selama ini, dan Mr terus menyembunyikannya. “Kenapa kamu memberi tahuku? Apa untungnya buatmu, Anton? Ingat! Kamu ini karyawan Mr, Mr yang membayarmu, kalau tidak ada Mr, tidak akan kamu juga!” Yuni meletakkan ponsel itu sembarang. Dia tak ingin melihat.


Anton terkekeh, “Aku kenal tuan Cahyo lebih lama dari Mr, bisnis berbeda dengan masalah pribadi, Yun. Nana sudah berubah, kami hidup bahagia, tapi tuan Cahyo dan kamu? Sepertinya Tuhan terlalu marah sampai menghukummu seperti ini.”


Yuni tak bisa berkata-kata, dia marah karena Cahyo tak mengakui anak ini, tapi kenapa sekarang semua menjadi kacau? Mr juga menyembunyikan banyak hal, kenapa? Yuni menelan ludah, “Antar aku pulang.”


Anton terkekeh, dia juga tak mengatakan apa pun, segera melajukan mobil dan berusaha sampai vila secepat mungkin. Tanpa menunggu Yuni menawarinya kopi atau teh, Anton segera pergi, dia tak akan memihak siapa pun mulai sekarang.


Yuni segera ke kamar, hanya di tempat itu dia merasa tenang, ditambah dengan kebun bunga yang bisa dilihat dari jendela kamarnya, Yuni yakin dirinya bisa melupakan semua dengan cepat. Namun, rasa penasarannya tak juga hilang, dia mengambil ponsel dan mencari juga berita yang tadi, semua semakin banyak, serangan itu hanya untuk Cahyo saja. Yuni merasa begitu buruk, dia ke kamar Mr, mungkin ada sesuatu yang dia temukan di sana nanti.


“Nona Yuni, Anda tidak boleh ke sana.” Pelayan yang baru saja membersihkan guci segera menahan Yuni agar tak masuk kamar Mr.


“Kenapa? Aku sangat rindu dengan Mr, aku ingin mencium parfumnya, aku akan menemukan parfum itu di sana.” Yuni berdusta. Dia semakin heran, apa yang tersembunyi sampai pelayan melarangnya masuk, pasti ada sesuatu.


“Saya akan mengambilkannya untuk Anda. Tunggulah sebentar.” Pelayan itu segera masuk dan menutup kamar Mr rapat.


Yuni masuk ke kamar di sebelah kamar Mr, kosong di sana, dia diam sambil terus memperhatikan pelayan dari celak pintu yang sengaja dibuat sendiri.


Pelayan pun ke luar, dia mengerutkan kening karena tak menemukan Yuni, “Apa nona Yuni kembali ke kamar?” Setelah berpikir sebentar, dia pun membawa parfum Mr turun, akan mengantarkannya ke Yuni secara langsung.

__ADS_1


Setelah pelayan itu turun, dia segera ke kamar Mr, pintunya memang tak terkunci, dan itu memudahkan Yuni. Selama ini dia tidur terpisah dan selalu memilih lantai satu, dia malas naik tangga di kehamilannya, takut terjadi sesuatu, tapi saat ini seolah Yuni memang perlu ke kamar Mr. “Astaga!” Yuni segera menutup mulut dengan ke dua tangannya sendiri.


__ADS_2