Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Pria pengecut


__ADS_3

Cahy9 melambaikan tangan, sebuah mobil membawa Mr pergi dan itu berarti petakanya menghilang, dia pun menoleh ke Yuni, “Kamu sangat tahu seperti apa keinginanku memukul wajahnya, Yun.”


 


Yuni malah tertawa. Dia ke pantai memang berniat ingin ikut rapat dengan Mr, tapi klien Cahyo itu malah pergi setelah berbasa-basi dengan Cahyo, bicara seolah sudah menyelesaikan apa pun dengannya, padahal Yuni tak terlalu paham dengan pekerjaan ini. “Ingat, Mas. Mr minta ada pertunjukan secara langsung setiap hari, Surya harus mengubah jembatan di tengah.” Yuni mengingatkan Cahyo sekali lagi.


 


“Ya, Nyonya Yuni. Saya akan membenahi semua proposal agar tak terjadi kesalahan.” Cahyo menunduk di depan Yuni dan itu sukses membuat istrinya tertawa. “Aku harus kembali ke kantor, Yun. Apa tidak masalah jika kita tidak jadi makan siang?” Cahyo pikir rapat ini akan berakhir di restoran bersama Mr.


 


Yuni menggeleng, “Jangan terlalu dipikirkan, Mas. Aku juga mau ke toko.”


 


Cahyo tersenyum dan mengusap lengan Yuni, “Aku akan bicara dengan papa nanti malam. Doakan papa mau memaafkanku.” Setelah Yuni mengangguk, Cahyo pun mengecup kening Yuni, dan pergi dengan mobilnya ke kantor.


 


Hendra yang melihat adegan tadi, menunggu sampai Cahyo pergi, dan saat Yuni akan masuk mobil, dia segera berlari mendekat, “Yun!” Menahan tangan Yuni agar mau bicara dengannya sebentar.


 


“Akh! Sakit, Hen!” Yuni meringis.


 

__ADS_1


Hendra secara refleks melepas lengan Yuni, “Apa aku menyakitimu? Aku tidak terlalu keras tadi, maafkan aku, aku—“


 


“Tidak!” Ganti dengan Yuni yang menahan tangan Hendra, “Aku... aku hanya terkejut tadi. Ada apa? Kenapa tidak ikut bicara dengan Mr?” Yuni segera mengganti topik agar Hendra tak curiga padanya.


 


“Aku sudah bicara dengan Anton dan Mr semalam, Mr memintaku agar menyembunyikan bahwa beliau ada di sini sejak semalam, jadi kami membahas semua hal lebih dulu.” Hendra melihat Yuni dari ujung kaki sampai kepala, “Masuklah sebentar. Ada yang ingin kuberikan padamu.” Hendra mempersilakan Yuni agar berjalan lebih dulu.


 


“Hanya sebentar, ya? Aku agak sibuk.” Setelah Hendra mengangguk, barulah Yuni berjalan ke penginapan, “Bagaimana di sini? Udaranya agak panas, ya?” Yuni duduk di ruang tamu, membiarkan Hendra mendekat ke lemari es, dan tersenyum sambil menerima soda dingin dari temannya itu.


 


 


Yuni meneliti dan mengangguk setelahnya, “Bagus, aku suka, tapi kenapa harus disembunyikan?” Dia tidak paham tentang itu.


 


“Mr ingin seutuhnya semua atas persetujuanmu, aku tidak tahu, semua hanya perintah, dan asal tak merugikan perusahaan, aku pun menurut saja. Kudengar... kamu dan Cahyo ....” Hendra ragu harus meneruskan ucapannya atau tidak.


 


“Aahh... “Yuni tersenyum, “jangan dipikirkan. Kami baik-baik saja. Apa sudah selesai? Hanya ini?” Yuni menunjuk denah di depannya, “Aku setuju. Hm... aku pulang dulu, ya? Beberapa hari ini toko sangat ramai, Hen.” Yuni segera menghabiskan sodanya, tapi malah menetes ke jaket yang dia kenakan, “Aduh!” Dia pun secara refleks membuka jaketnya yang basah.

__ADS_1


 


“Pelan-pelan minumnya.” Hendra terkekeh sambil meraih tisu di meja, tapi ada hal yang begitu mengejutkan, lengan Yuni yang penuh dengan ruam. “Apa ini, Yun?!” Rasanya sangat sulit untuk dipercaya.


 


Yuni yang ingat dengan kesalahannya, segera mengenakan jaketnya kembali, “Ak—aku habis terjatuh, bukan masalah besar, aku pulang dulu, ya?” Yuni berjalan dengan cepat ke arah luar.


 


Hendra menarik tangan Yuni, dia butuh penjelasan agar rasa penasarannya hilang, “Tunggu, Yun!”


 


“Aaaa... aaakkhh! Sakit, Hen!” Yuni meringis kesakitan.


 


Kali ini berbeda, Hendra tak melepas Yuni, dia malah menarik jaket itu dan meloloskannya dari tubuh Yuni. Saat melihat semua ruam yang memenuhi lengan hingga masuk ke baju yang berlengan pendek itu, Hendra semakin yakin kalau lebih parah di dalam sana, “Apa ini, Yun? Ini bukan terjatuh! Pasti Cahyo kan yang melakukannya? Cahyo kan orangnya? Berengsek!” Sangat kesal sekali rasanya, bagaimana bisa ada pria pengecut seperti itu di dunia ini? Hanya pria tak bermoral yang berani memukul wanita. Tak ada wanita yang sepadan jika diadu dengan pria dan karena itulah haram sebuah tangan menyakiti wanita.


 


“Bukan, Hen. Itu gak seperti yang kamu pikir, aku dan mas Cahyo baik-baik saja, hanya luka kecil, aku terjatuh di kamar mandi kemari.” Yuni tak mau urusan ini menjadi semakin panjang, padahal semua hanya ke salah pahaman saja, Yuni ingin melupakan semua dengan cepat.


 


“Jangan membodohi aku, Yun. Kalau kamu memang gak mau ngaku, biar aku yang menghajar Cahyo berengsek itu, berterima kasihlah nanti setelah aku kembali.” Hendra segera menyahut kunci mobilnya dan ke luar dari penginapan. Dia harus bertemu dengan Cahyo sekarang juga.

__ADS_1


__ADS_2