Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Begitu mudah


__ADS_3

Yuni menyerahkan ponselnya, berharap Cahyo tak salah bicara, atau tamat riwayatnya.


 


“Kamu di mana, Yun?” Cahyo bertanya setengah panik. Pasalnya telepon itu cukup lama menunggu diangkat Yuni.


 


Ayah Yuni terkekeh, “Bagaimana bisa kau tidak tahu kalau Yuni hari ini pulang. Apa dia tidak pamit?”


 


Yuni menggigit bibir bawahnya sendiri, sepertinya Cahyo mengatakan hal yang di luar nalar, wajah ayahnya juga membuatnya sedikit takut.


 


“A—Ayah, aku... lupa kalau Yuni hari ini ke sana.” Cahyo menarik napas panjang dan dalam, “Yuni sudah bilang selamat, tapi ada urusan mendadak dan aku jadi panik, Ayah. Apa Yuni sibuk sampai Ayah yang mengangkat teleponnya?” Meski gugup, Cahyo berusaha sebaik mungkin saat menjawab pertanyaan mertuanya.


 


Ayah Yuni terkekeh, “Ya, Yuni sedang mengobrol dengan ibunya. Ada masalah apa sampai kamu lupa kalau Yuni ke sini? Apa Yuni harus pulang sekarang? Aku akan katakan padanya.”


 


Cahyo sedang tak punya pilihan saat ini, “Ada rapat mendadak, Ayah. Klien dari Singapura cukup kenal Yuni dengan baik, dia ke sini, dan ingin bertemu dengan Yuni. Aku panik karena klien itu datang tiba-tiba. Jadi aku bingung mencari Yuni. Maaf, Ayah. Ini akan merepotkan Ayah.” Cahyo mulai bisa menguasai dirinya sendiri.


 


Ayah Yuni tertawa, “Jangan kawatir. Aku akan bilang ke Yuni. Dia akan di sana sebentar lagi.”


 


“Terima kasih, Ayah. Aku harus kembali ke ruang rapat.” Mendapat gumaman dari seberang, Cahyo pun segera memutus sambungan telepon itu, dan kembali ke ruang tamu. Cahyo tersenyum, dia duduk dengan gelisah menanti kedatangan Yuni yang entah berapa jam lagi, “Istriku sedang di rumah mertua, ini adalah jadwal rutin dia ke sana, aku... ah! Sepertinya istriku akan sangat lama untuk sampai di sini.” Cahyo tersenyum lebar, dia tak punya ekspresi lainnya.


 


Orang Singapura itu menggeleng sambil mencebikkan bibir, “Tidak masalah. Kita tunda rapat hari ini. Besok aku akan mengabarimu tempat yang bagus untuk rapat. Semoga istrimu tidak sibuk.” Berdiri dan mengulurkan tangan, “Sampai jumpa besok, Tuan Cahyo.”


 


“Anda tidak ingin menunggu sambil kita membahas sedikit pekerjaan di Singapura?” Cahyo ikut berdiri, mengulurkan tangannya juga ke klien itu untuk menjabat, dia tak ingin kedatangan mendadak ini berakhir sia-sia.


 

__ADS_1


Pria berhidung mancung itu tertawa, “Jangan terlalu serius, Tuan Cahyo. Aku masih punya banyak waktu. Sampai jumpa besok.” Ulangnya sambil menepuk lengan Cahyo lalu pergi.


 


Cahyo sendiri di ruang tamu, duduk dengan setengah melempar diri, menyandarkan punggung dengan lemas, “Mati aku kalau berurusan dengannya dan Yuni dalam satu waktu. Harus bagaimana?” Kepalanya jadi pening seketika.


 


Ayah Yuni mengembalikan ponselnya ke Yuni, “Aku yakin ada yang kalian sembunyikan.”


 


Yuni menggeleng, “Tidak, Ayah. Jangan memikirkan hal yang tidak-tidak. Apa yang mas Cahyo katakan? Apa dia mencariku?”


 


“Ya. Dia ingin kamu pulang karena ada klien dari Singapura. Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Ayah Yuni angkat tangan kalau putrinya tetap menutup diri.


 


“Oh, Singapura! Aku harus cepat ke sana, Ayah. Itu adalah klien penting dan dia cukup banyak bertanya. Aku pernah bertemu sekali dan kami sudah berjanji akan bertemu lagi. Mungkin karena itu dia mencariku, Ayah. Ibu, Adik,” Yuni memeluk dua wanita hebatnya, “aku pulang dulu.”


 


 


Yuni mengangguk, “Iya, Bu. Aku pulang dulu.” Meski belum puas, Yuni naik juga ke mobil, langsung mengajak sopir menuju kantor Cahyo, dan Yuni terus memikirkan ucapan ibunya.


 


‘Seorang anak adalah pertanda sebuah ikatan sangat kuat.’


 


Ibunya memang benar, tapi apa yang bisa dia lakukan, dia saja canggung saat Cahyo menyentuhnya, gila, bukan? Yuni menghela napas lagi, dia memejamkan mata, berharap saat tiba dan bertemu dengan Cahyo, tubuhnya lebih segar dan siap untuk memerankan dram selanjutnya.


 


‘Tin! Tin!’ Nana terus menekan klakson mobilnya. Saat Hendra ke luar, barulah dia tersenyum, “Lama sekali kamu, Hen. Jangan seperti anak kecil saat berkemas.” Terkekeh, dia cukup paham kalau Hendra sedang kesal dengannya.


 


“Bukankah ini belum waktunya berangkat? Aku masih punya beberapa jam untuk tidur atau bermain game, Nona Nana.” Hendra memasukkan semua barang ke jok belakang, baru setelahnya naik ke kursi penumpang, dan memasang sabuk pengaman.

__ADS_1


 


“Kau tidak ingin menyetir, Anak muda?” Nana menawarkan kursinya untuk Hendra.


 


Hendra menggeleng. Dia cukup mengantuk, ini adalah jam dua belas tepat, orang gila mana yang melakukan perjalanan di jam seperti ini kalau bukan Nana?


 


Nana menggeleng, “Sayang sekali karena penolakanmu akan berakibat fatal.” Menyeringai, dia punya rencana jahat untuk mengerjai Hendra.


 


“Tidak kali ini, Nona Nana. Aku akan membuat garis yang tinggi dan tuan Cahyo sudah memberiku kamar sendiri, jadi Anda tidak bisa membuat alasan atau memenjarakanku nanti.” Hendra menunjukkan nota bayar untuk kamar hotelnya.


 


Nana tertawa, “Itu hanya kertas, Hendra. Jangan dipikirkan. Aku lebih berpengalaman darimu.” Nana segera melajukan mobilnya, menyetel musik cukup keras, membiarkan Hendra menarik sandaran agar lebih lengang untuk merebahkan diri. Baru saja Hendra terbang ke pulau mimpi, “Akh!” Nana menginjak pedal rem cukup dalam.


 


“Astaga! Ada apa?!” Hendra kembali membuka mata, melepas sabuk pengaman untuk melihat keadaan Nana, tapi tak dia temukan keanehan di sana.


 


Nana menggeleng, “Aku hampir saja menubruk orang. Dia menyeberang sembarangan dan itu mengejutkanku, Hendra.” Nana masih memegang kemudi tanpa menjalankan mobilnya.


 


“Tepikan mobilnya.” Hendra membenarkan posisi kursinya, setelah Nana membawa mobil itu ke tempat yang aman, barulah Hendra turun, berjalan memutar, dan membuka pintu di sebelah Nana, “Keluarlah. Biar aku yang menyetir.”


 


Nana menggeleng, dia melepas sabuk pengamannya, lalu melompat ke kursi penumpang. “Kenapa tak memintanya dari tadi? Bukankah begini lebih baik?” Nana terkekeh, ternyata berhasil juga rencananya. Untung tak ada kendaraan tadi, jadi dia tak perlu susah membuat suasana seolah genting padahal tidak.


 


Hendra masuk, memakai sabuk pengaman, dan mulai menjalankan mobil itu. “Kau membuat semua seperti apa yang kamu mau tanpa peduli dengan perasan orang lain.” Nana yang kembali ceria seolah menyadarkan kalau kejadian tadi hanya bohongan.


 


Nana tertawa, “Jangan marah, Hendra.” Tangannya merayap menuju ke pangkal paha Hendra, “Di dunia ini siapa yang bisa membuat diri kita bahagia? Selain kita sendiri? Tidak ada, Hen.” Nana menyeringai, dia mengusap apa yang menonjol dan mudah tegang, tak rugi dia menggunakan baju tanpa lengan dengan belahan dada rendah. Siapa yang tak tergiur dengan kemolekan tubuhnya ini? Bahkan pria berpendirian seperti Cahyo saja sangat mudah dia dapatkan, apa lagi Hendra?

__ADS_1



__ADS_2