Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Pingsan, kan?


__ADS_3

Cahyo mengerutkan kening, “Pa! Bukan begitu caranya!” Tak mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh papanya. Memangnya semudah itu menghilangkan nyawa orang.


 


Papa Cahyo terkekeh, membuka laci, dan mengeluarkan botol kecil, “Papa tahu kamu dan Nana sering bertemu, sebanyak apa papa bicara, kamu masih buta, Cahyo. Lakukan, siapa yang ingin kau bunuh? Bahkan jika memang Yuni yang menghambat perjalananmu, berikan saja ini padanya, dengan begitu tak akan ada yang sakit hati karena satunya sudah mati, right?” Mendorong botol kecil berisi racun itu agar lebih mendekat ke Cahyo.


 


Cahyo langsung berdiri, dia merasa papanya mulai gila, meski semua memang salahnya, tapi bukan begini caranya.


 


“Ambil, jangan hanya pergi, pergilah tidur dan pikirkan.” Papa Cahyo kembali ke laptopnya, dia harus menyelesaikan yang tertunda karena kedatangan Cahyo, dan saat putranya tak juga berbalik, “Kalau kamu tak mengambilnya, jangan memanggilku papa lagi atau cepatlah ke luar dari rumah ini.”


 


Cahyo berhenti melangkah, papanya memang gila, dan dia pun berbalik untuk mengambil botol racun itu serta membawanya ke kamar. Entah akan digunakan untuk apa dan kapan, asal dia masih bisa tinggal di rumah ini bersama Yuni, tak ingin berpisah begitu saja.


 

__ADS_1


***


 


Esoknya, Yuni sudah tak bangun terlambat lagi, dia segera membantu mertuanya, dan akan membangunkan Cahyo setelah semua pekerjaan di dapur selesai. “Ahhh... kepalaku sangat pusing.” Yuni memijit pelipis, dia memang merasa lemas sejak tadi, dan sekarang malah ditambah dengan sakit kepala. “Kenapa tangga itu sangat tinggi?” Yuni melangkah perlahan, pandangannya mengabur, dan Yuni seolah hilang kendali.


 


“Yun? Yuni?!” Mama Cahyo segera berlari, melihat menantunya pingsan di tangga, meski sempat jatuh beberapa tingkat, untung saja dia bisa dengan sigap menangkapnya, “Cahyo! Bibi! Ke sini, Pa! Papa!!” Berteriak memanggil semua penghuni rumah agar segera membantunya.


 


 


Mama Cahyo mengangguk, “Cepat!” Menyuruh pelayan di belakangnya dan ikut naik mobil juga. “Aku sangat takut.” Terus mengusap rambut Yuni, wajah itu begitu pucat, dan tak ada pergerakan apa pun dari tubuh lemas itu.


 


“Apa dia makan dengan baik kemarin? Meski Cahyo banyak berubah, dia pasti banyak pikiran juga, memang anakmu itu berengsek.” Papa Cahyo sibuk melihat jalanan di depannya, “Cepat! Jangan lelet nyari jalannya!” Bentaknya ke sopir.

__ADS_1


 


Mama Cahyo menggeleng, “Aku terus sama Yuni, dia makannya juga banyak, jangan membuatku takut begitu. Ke sana saja! Tidak penting rumah sakit bagus, yang terpenting Yuni segera ditangani, cepat!” Mama Cahyo menunjuk klinik kecil tak terlihat oleh mata awasnya.


 


Sedangkan di rumah, pelayan mengetuk pintu kamar dengan hati-hati, setelah terdengar suara dari dalam, dia pun masuk. “Tuan Cahyo, non Yuni pingsan dan tuan besar membawanya ke rumah sakit.”


 


Cahyo yang masih setengah sadar, langsung duduk, “Apa?! Rumah sakit mana?” Mencari jaket, segera mengenakannya, dan akan menyusul Yuni.


 


“Kurang tahu, Tuan. Anda bisa menelepon nyonya besar atau tuan besar, mereka baru saja berangkat, mungkin ke rumah sakit keluarga.” Pelayan itu memberi jawaban yang tak pasti memang, tapi hanya itu yang diketahuinya, mau bagaimana lagi?


 


“Bodoh!” Cahyo segera turun, bahkan sebelum ganti baju, hanya mengenakan piama dan jaket saja, Cahyo ke luar, naik mobil untuk menyusul Yuni.

__ADS_1


__ADS_2