Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Curiga


__ADS_3

Yuni tidak tahu dengan apa yang dipikirkan mama Cahyo setelah bertemu dengan Hendra tadi, tapi sikap diamnya membuat Yuni merasa bahwa mungkin mama Cahyo sedang salah paham saat ini. Tidak mau membuat mamanya jengkel, Yuni pun hanya bisa ikut diam agar tidak sampai melakukan kesalahan.


“Baru pulang?” tanya papa Cahyo yang mau masuk rumah, mereka tiba bersamaan, tadi papa Cahyo ke kantor karena Cahyo belum pulang dan ada rapat dadakan.


“Iya.” jawab mama Cahyo singkat dan padat, tanpa menghentikan langkahnya malah semakin mempercepatnya untuk memasuki rumah.


“Ada apa?” papa Cahyo berbalik bertanya ke Yuni.


“Tadi Yuni ketemu sama temen Yuni, Pa.” Yuni berpikir, mungkin jujur lebih baik.


“Cowok?”


Yuni mengangguk.


“Temen---“


“Temen kuliah, Pa. Tapi mama mikirnya aku deket sama dia. Yuni gak pernah berpikir seperti itu setelah nikah sama mas Cahyo, Pa.” setelah mamanya yang salah paham, Yuni tidak mau papa Cahyo salah paham juga.


“Mangkanya to, Yun. Kamu nunggu apa? Cepet bikin anak.” Papa Cahyo sangat tahu, meski menebak kalau anaknya memang belum pernah berkumpul, tapi dia pun yakin tebakannya pasti benar.


“Iya, Pa.”


“Jangan iya aja, masak cuma bikin Cahyo nga-ceng aja kamu gak bisa?”


“Bukan gitu, Pa.”


Papa Cahyo terkekeh, “jangan bilang kamu yang takut kalau diajak sama Cahyo?”


Yuni hanya diam. Entah, dia sendiri pun rasanya tidak tahu menamai hubungan ini apa.


“Yun, Yun, wong bikin anak itu enak, ngapain takut, ajak Cahyo pelan-pelan dulu, kamu gak kasihan sama papa sama mam yang pengen nimang cucu dari kalian?” papa Cahyo menepuk puncak kepala Yuni dan sedikit mengacak rambutnya yang memilik warna baru, lalu masuk ke dalam rumah. Dia tidak mau melihat Yuni tertekan, meski nyatanya dia pun juga menekan Yuni agar cepat memberinya momongan.


Yuni hanya bisa diam dan ikut masuk juga ke dalam rumah. Menaruh barang yang dia bawa ke tempat yang semestinya dan kemudian masuk ke kamarnya. Berdiam diri menatap keluar dari jendela yang terpasang di sana dan menerawang entah apa, Yuni pun bingung sendiri, kenapa hanya dirinya yang merasa tertekan? Apa Cahyo tidak pernah mendapat pertanyaan yang sama dari papa dan mama juga? Bahkan Yuni pun bingung harus menjawab apa saat terpojok seperti sekarang ini.


Sore ini tidak ada yang spesial. Bahkan makan malam saja dihiasi dengan hening, tidak ada yang lain selain dentingan sendok dan juga piring. Obrolan yang biasanya hangat pun kini hanya ada sikap acuh dan terasingkan.


Yuni memilih menyelesaikan makan malam ini paling akhir, akan sangat tidak sopan jika dia beranjak lebih dulu, meski rasa ayam goreng ini hambar seakan tak berbumbu, Yuni pun tetap menelannya.


Yuni segera mengambil ponselnya yang memang ia tinggalkan di nakas tadi, menggeser tombol hijau itu karena suaranya semakin menjerit dari tadi, “ya?”

__ADS_1


[Dari mana saja? Kau membuatku membuang banyak waktuku.]


“Maaf, Mas. Baru selesai makan, Mas sudah makan?”


[Udah.]


Yuni tersenyum, dia pun juga tidak berniat menanyakan apa pun lagi, hatinya sendiri saja rasanya masih linglung.


[Rambutmu baru, Yun?]


Yuni sedikit berjingkat di rasanya dan memusatkan fokusnya kembali ke Cahyo, “hmmm ... iya, mama yang minta.” jawabnya sedikit kikuk dengan memegangi ujung rambutnya.


[Kenapa, Yun?]


“Kenapa, Mas?”


Cahyo terlihat berkerut, merasa Yuni sedang menyembunyikan sesuatu darinya saat ini, [tidur yuk, aku ngantuk.] tidak mau terlalu membebani Yuni saat dia sedang menjauh seperti ini, Cahyo memilih menaruh ponselnya ke posisi yang hampir sama dengan semalam dan masuk ke dalam selimutnya.


“Mas, tumben jam segini udah tidur?” Yuni ingat kalau Cahyo biasanya tidur jam sepuluh atau sebelasan.


[Iya, tadi meeting dari pagi, agak alot, jadi capek.]


Yuni tersenyum, biasanya kalau begini Cahyo pasti minta pijit.


“Maaf, Mas.”


[Dah, yuk tidur. Aku besok meeting terakhir, moga gol trus bisa pulang sorenya.]


“Iya, Mas.” Yuni pun memosisikan ponselnya seperti semalam juga dan merebahkan tubuhnya, meski dia belum mengantuk saat ini.


Sudah hampir dua jam dan Yuni tetap setia menatap layar ponselnya yang menunjukkan gambar hampir sama, Cahyo yang terlelap dengan dengkurannya dan juga wajah lelap terlihat lelah itu.


Yuni sadar, dia cukup lama hanya bergeming saja. Memilih beralih menatap bola lampu di atas ruangan yang tak mengeluarkan pijar karena lampu sudah dimatikan sejak tadi oleh Yuni. Terlalu lama berkelana membuat buliran bening itu keluar dengan tidak sopannya, tanpa permisi dan membawa perih yang membekas, andai dia bisa berbagi, mungkin tidak akan sesakit ini.


***


Yuni membuka matanya tanpa banyak berpikir pagi ini. Cahaya mentari yang menyapa gorden yang terpasang ala kadarnya, membuat Yuni sadar kalau ini sudah cukup siang.


Layar ponsel yang terlihat gelap pun diabaikan Yuni, dia lebih memilih segera ke kamar mandi saat ini.

__ADS_1


“Yun? Mau ke mana?” tanya mama Cahyo yang melihat Yuni sedikit berdandan pagi ini.


“Ke toko, Ma. Mama belom pernah ke sana, hanya sekali waktu pembukaan dulu, mama ikut, ya?” Yuni senang mama Cahyo tidak mendiamkannya lagi pagi ini, dia pun bisa sarapan dengan cepat dan benar meski ini sudah agak terlambat karena dia bangun kesiangan tadi.


“Okey, mama ganti baju dulu.”


“Ma? Papa ke kantor?” tanya Yuni sedikit berteriak.


“Iya?!” jawab mama Cahyo ikut berteriak juga karena sudah menjauh dan hampir masuk ke dalam kamarnya.


Yuni mengajak mama Cahyo dengan bangga masuk ke dalam ruangannya, setelah sarapan memang Yuni langsung berangkat tadi, “Ma, di sini ada kamarnya kalo Mama capek bisa istirahat. Mama mau nonton TV?” Yuni menyambar remot TV yang ada di atas meja kerjanya.


“Boleh.” Mama Cahyo mengambil majalah di atas meja itu juga, mencari kursi yang menurutnya pas, dan membukanya. Beraneka gambar bunga yang indah di sampul majalah itu sangat bisa menariknya tadi, “Yun? Ke mana?” tanyanya saat melihat Yuni membuka pintu itu lagi.


Yuni tersenyum, “aku mau lihat anak-anak dulu, Ma.”


Setelah mendapatkan anggukan setuju dari mama Cahyo, Yuni pun keluar dari ruangannya sambil membawa bunga yang tadi bertengger rapi di meja kerjanya. Cukup paham dengan bunga milik siapa ini. “Ini siapa yang masukin?” tanya Yuni ke pekerjanya yang sedang sibuk menata dan mengganti air bunga.


“Saya, Mbak.” jawab salah satu dari ke duanya.


“Ngapain dimasukin? Ini bunga siapa?” Yuni menanyakannya dengan intonasi rendah, tidak berniat membentak sama sekali.


“Kan kemarin mas Hendra yang ngasih ke Mbak Yuni? Lah tertinggal di depan, aku pikir Mbak Yuni kelupaan.” Jawabnya lagi.


“Buang saja. Kalau kamu mau bawa pulang.” Yuni menyerahkannya ke pekerja itu, cukup kecewa melihat kelancangan yang memang tidak disengaja itu. Andai saja pekerjanya itu tahu, bunga anggrek yang baru saja diserahkannya tadi membawa nyeri tersendiri di hati Yuni.


“Bunga dari siapa, Yun?” mama Cahyo cukup curiga dengan semua pergerakan Yuni untuk saat ini.


“Ah?!” Yuni tidak menyangka mama Cahyo akan mengikutinya tadi, “dari Hendra, Ma. Itu baru kemaren, Yuni udah buang tapi malah mereka masukin ke sini.”


“Mama gak suka kalau kamu kayak gini.”


“Ma, Yuni jujur ... “ Yuni segera mendekat ke mejanya dan membuka laptop yang ada di sana, memutar siaran CCTV yang terpasang di sana, dan memutarnya ke arah mama Cahyo agar beliau bisa meliatnya juga, “... ini, Ma. Hendra bawa bunga ini kemarin.” Yuni menunjuk tepat di tanggal yang tertera di CCTV itu, “dan Yuni masuk ninggalin bunga itu di luar juga. Yuni gak bawa bunga anggrek itu kan, Ma? Yuni tinggalin di luar, tapi mereka yang masukin trus taroh sini, mangkanya Yuni suruh bawa pulang ke mereka.” Yuni tidak mau lagi mama Cahyo akan menganggapnya buruk.


“Terserah, Yun.” Mama Cahyo kembali ke kursinya tadi, dan mendaratkan bokongnya dengan kasar.


Yuni hanya bisa bergeming, semakin lama meluruhkan tubuhnya agar terduduk di kursinya dan menopang sambil menutup kepalanya dengan kedua tangannya.


Lagi.

__ADS_1


Buliran benih itu membelah pipinya lagi.


Tapi Yuni menggigit bibirnya agar suaranya tidak sampai mencuat ke luar.


__ADS_2