Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Tetap tinggal


__ADS_3

Ini bukan apartemen, apa lagi toko bunga dan kafe, tapi ini adalah sebuah vila di pinggir kota dengan pemandangan indah pegunungan. Yuni berada di sana, duduk termenung di dengan jendala, dengan ditemani teh yang sudah mendingin tanpa berkurang seteguk pun.


Mr menghela napas untuk ke sekian kali, dia tak tahan melihat Yuni begini, dan dia pun memutuskan untuk mengusap lengan Yuni lagi. “Tehmu dingin, Nona.” Mungkin kalimat itu tidak tepat, tapi Mr tak punya kalimat lain.


Yuni menarik napas panjang dan dalam, mengembuskannya perlahan, baru setelahnya meneguk teh yang memang sudah dingin itu. “Mr... apa aku boleh tinggal di sini?” Yuni tersenyum meski dia tahu kalau senyumnya tak semanis yang dulu.


“Tentu. Anda bisa tinggal di sini selama Nona mau.” Mr tersenyum, tangannya akan terbuka untuk menerima Yuni, karena memang itu yang dia inginkan. “Kalau... boleh aku tahu, apa tuan Cahyo sering melakukan semua ini?” Mr sangat serius dalam pertanyaannya.


Yuni tersenyum lagi, “Itu tidak penting, Mr. Bolehkan aku menyimpan semua hanya untukku saja?”


Mr mengangguk, “Tentu. Anda berhak melakukannya.”


Sangat bersyukur punya teman yang mau menerimanya apa adanya, “Aku... sedang hamil, dan... aku tidak tahu apa yang membuat mas Cahyo tidak yakin dengan anak ini. Hatiku sangat hancur.” Yuni menangis. Dia menutupi wajah dengan ke dua tangan. Rasanya sangat remuk dan hancur, ini sebuah penghinaan yang besar, dan dia mendapatkannya dari suaminya sendiri.


Mr berdiri, memeluk Yuni, dan mengusap punggung. “Menangis saja, Nona. Mungkin dengan begitu Anda akan lebih tenang. Vila ini sepi, tidak akan ada yang melihat Anda menangis, jadi lampiaskan saja semua.” Mr mencuri satu kecupan di puncak kepala Yuni. Bagaimana bisa wanita secantik ini disia-siakan oleh seorang pria? Betapa bodoh sekali?


Entah berapa lama Yuni menangis, hingga dirinya puas, barulah dia mengurai pelukan itu, “Terima kasih, Mr. Baju Anda basah.” Yuni tersenyum sambil mengusap jejak itu.


Mr ikut tersenyum juga, “Bukan masalah besar, Nona. Hm... Anda lelah? Aku akan mengantar Anda ke kamar. Bukan maksudku mencemari pikiran Anda, tapi tempat ini lebih baik dari tempat mana pun. Tuan Cahyo masih terlihat marah saat kita pergi tadi dan dia bisa... hm... menghajar Anda di mana pun jika menemukan Anda nantinya.”

__ADS_1


Yuni mengangguk, “Terima kasih. Aku akan istirahat dulu.” Mengekor saat Mr mengantarnya ke sebuah kamar, ini cukup luas, dan Yuni menoleh kembali ke Mr.


Terkekeh, “Kamarku di sana.” Menunjuk sebuah pintu di seberang, “Kalau butuh apa pun Anda bisa berteriak dan aku akan segera datang setelah mendengarnya.”


Yuni tertawa, “Aku tidak akan merepotkanmu, Mr.”


“Hahahaha.” Membuang muka sebentar lalu kembali menatap Yuni lagi, “Repotkan saja, aku akan membantu Anda sebisaku, Nona Yuni. Istirahatlah!” Berbalik dan pergi dengan menutup pintu itu rapat. Mr tak ingin mengganggu Yuni karena sadar kalau Yuni masih membutuhkan waktu untuk sendiri.


Dia ke ruang kerjanya, yakin pasti ada sebuah email yang ingin segera dibaca atau bahkan dibalas, dan saat menemukannya, Mr pun tersenyum.


‘Maaf atas kesalah pahaman yang terjadi, kami harap Mr tidak mencampur ke salah pahaman ini ke dalam perkara bisnis, kami sangat menyayangkan semua.’


Mr pun segera membalas sekenanya dan kembali menutup laptopnya. Ini tengah hari, dia tak mungkin menawari Yuni makan siang dalam keadaan begini, jadi dia akan menyiapkan makan malam lebih awal untuk ibu hamil yang tinggal di vilanya sekarang.


Yuni ikut tersenyum juga, “Kita bisa makan di luar, Mr.”


“Aku sudah masak sesuatu. Mari kita makan dulu, Nona.” Mr mempersilakan Yuni agar berjalan di depannya.


“Anda... masak sendiri?” Yuni sangat takjub mendengarnya.

__ADS_1


“Hahahahaha.” Mr memasukkan tangan ke saku celana, “Aku hidup sendiri di Singapura, beberapa kali memilih tinggal di Eropa meski kembali juga ke Singapura, makanan di benua lain tidak pernah cocok dengan lidahku, Nona. Jadi akan memilih untuk masak sendiri apa yang ingin kumakan.”


Yuni jadi bersemangat, “Di mana ruang makannya, Mr? Aku tidak sabar.”


Tak kalah bersemangat juga, Mr pun berjalan lebih cepat untuk mendahului Yuni agar sampai di ruang makan lebih dulu. Dia segera mengambilkan makanan untuk Yuni, baru untuk dirinya sendiri, dan duduk dengan percaya diri di depan Yuni.


Tanpa ragu, Yuni melahap makanan itu, mengunyahnya perlahan, dan tersenyum lebar setelah mendapatkan makanan yang memang lezat. “Mr, Anda harus membuak restoran.” Yuni kembali menyendok makanannya dan menikmati.


“Hahahahaha. Suatu saat nanti aku akan membuka restoran dengan Anda, Nona.” Mr ikut menikmati masakannya juga. Dia memanggang daging, menggoreng tomat ceri dan asparagus, serta membuat saus jamur. Melihat Yuni yang makan dengan lahap, Mr mengambil seiris daging lagi, dan memberikannya ke piring Yuni, “Ini untuk bayi kecil di dalam sana.”


“Astaga!” Yuni segera minum jus semangka karena dia hampir tersedak, “Ini porsi besar namanya.” Tertawa melihat Mr yang terlalu perhatian.


Mr malah menggeleng, “Nona Yuni, aku dulu pernah dekat dengan perempuan, kami merencanakan sebuah pernikahan, dia sedang hamil saat itu, tapi Tuhan malah mengambilnya.”


Yuni pun menyentuh tangan Mr dan mengusapnya, “Maaf kalau aku membuat Anda mengingat masa lalu yang sulit.”


“Tidak, aku sudah merelakannya pergi, aku hanya tidak ingin melihat ibu hamil kelaparan. Makanlah yang banyak, Nona. Semua ibu hamil harus makan banyak agar sehat.” Mengiris daging miliknya sendiri dan melahapnya. Mr mengunyah makanannya sambil tersenyum ke Yuni.


“Jangan kawatir, Mr. Aku akan merawat anak ini dengan baik.” Yuni ikut tersenyum juga, bahkan semakin lebar, dia bertekat dalam hati, tak akan ada Yuni yang lemah seperti kemarin atau bahkan tadi pagi. Baginya, pertanyaan Cahyo adalah cambuk tersakit yang pernah dia rasakan, dan karena itulah semua akan berubah.

__ADS_1


Dengan segenap jiwa, dia akan merawat anak dalam perutnya, membesarkannya seorang diri pun tak apa. Yuni ingin menunjukkan pada dunia kalau anaknya pasti hebat meski tak ada yang mau mengakuinya.


Yuni berdehem, dia bersyukur bertemu Mr di sisa kesabarannya, dan yakin kalau Tuhan sengaja menyiapkan orang sebaik Mr untuknya. “Mr, bagaimana kalau seandainya aku... tetap tinggal di vila ini?”


__ADS_2