
Baru saja akan melahap makanan dan Cahyo menurunkan kembali garpunya, “Apa yang kamu pikirkan?” Melihat Yuni hanya memainkan garpu, Cahyo jadi penasaran, tak biasa perempuan cerewet itu diam dan melamun seperti itu.
Yuni tersenyum, “Mas, selama ini kita tidak pernah membahasnya dengan benar,” Melihat Cahyo yang mengerutkan kening, “maksudku tentang pernikahan kita, apa... kita akan bercerai suatu saat nanti?”
Cahyo semakin heran dengan pertanyaan itu, cukup berani Yuni mempertanyakannya, “Kau ingin segera menjanda? Siapa pria itu?”
Yuni menggeleng, “Tidak ada, Mas. Kupikir Mas dan Nana... tidak bisa dipisahkan, jadi aku memutuskan untuk berhenti.”
“Mama dan papa? Kamu siap menjawab pertanyaan dari mereka?” Cahyo tak menyangka kalau jalannya akan semudah ini.
“Apa aku harus menjawab mama dan papa sendirian? Kita tidak menghadapinya bersama? Kenapa Mas seolah tidak ingin bercerai denganku?” Yuni tidak mengerti, Cahyo sangat egois, inginnya menang sendiri dan membuatnya terpojok.
Cahyo terkekeh, dia mengambil minum untuk mendorong makanannya agar cepat sampai lambung, “Jujur saja, Yun. Aku ingin kita bercerai setelah anak itu lahir. Nana tidak bisa punya anak dan orang tuaku tahu itu, kalau kita bercerai sekarang akan sulit, jadi buatlah anak dulu. Setelah itu aku akan mengurus perceraian kita.” Cahyo kembali meneruskan makannya.
“Kalau memang Mas mau anak, kenapa tidak mengajakku membuatnya? Bahkan setelah aku minum obat perangsang saja Mas tidak mau.” Yuni menunduk menatap makanan yang harusnya lezat.
“Aku? Denganmu? Kamu terlalu kecil, Yun. Mana bisa aku membuat anak denganmu? Aku seperti sedang bermain boneka kalau melakukan semua padamu. Lagi pula obat perangsang itu tak membuatmu seksi sedikit pun, kau malah terlihat murahan dan menjijikkan, andai aku tidak kasihan, aku akan merekamnya dan mempertontonkannya ke semua orang betapa menjijikkannya dirimu.” Cahyo tak habis pikir dengan pembahasan ini, “Makanlah. Aku mengajakmu makan siang, bukan berdebat seperti ini, jangan membuat nafsu makanku hilang.”
Yuni tak menyangka akan mendengar kalimat panjang dan menyakitkan dari Cahyo, “Mas kenal dengan Anton? Teman Mas itu?” Anggukan Cahyo membuat Yuni menyelesaikan ucapannya, “Semua orang yang menikah adalah orang bodoh, kita sudah bodoh, dan setelah kita bercerai, Mas menikah dengan Nana, bukankah itu juga bodoh? Mas tidak ingin lebih pintar dari Anton?”
Cahyo semakin heran, apa sebenarnya tujuan dari semua pembicaraan ini? Siapa yang membuat Yuni dengan semua kepolosannya jadi tercemar? “Sebenarnya kau ingin aku menikah dan bahagia dengan Nana atau aku tidak melepaskanmu, Yun? Kalau semua orang yang menikah bodoh, bagaimana dengan mama dan papa? Mereka juga bodoh? Orang tuamu? Semua orang di dunia ini? Hanya ada dua alasan kenapa orang tidak menikah, satu karena tidak ada uang, mereka bersatu tapi tidak bisa makan, dan satu lagi karena tidak ada jalan, mereka bersatu tapi salah satunya sudah menjadi istri atau suami orang. Apa hal semudah itu saja kamu tidak mengerti? Bagaimana dengan anak kita nanti, Yun? Dia akan bodoh kalau punya ibu yang bodoh sepertimu.”
“Ya, Mas benar. Aku bodoh dan Mas tidak pantas punya anak dariku.” Yuni mendorong kursinya, berdiri dan segera ke luar dari restoran. Ucapan Cahyo sangat menyakitkan hati. “Jalan, Pak.” Itu memang sopir Cahyo, memangnya kenapa? Bukankah dia masih jadi istri Cahyo saat ini?
Cahyo menghela napas panjang dan dalam, “Ada apa dengannya? Di sini yang gila aku atau dia? Sudah bagus aku mengajaknya makan siang, pekerjaanku banyak, dan dia malah membuatku kesal sekarang. Memang tidak ada wanita yang waras di dunia ini.” Cahyo tak peduli, dia terus menghabiskan makanannya karena yakin Yuni pasti diantar sopir.
Seperti dugaannya, sopir masuk untuk memberi tahu kalau sudah siap di tempat, Cahyo pun kembali ke kantor. “Yuni tadi mengatakan apa di jalan?” Sepertinya seru menjadi penguntit meski bukan keahliannya.
“Tidak ada, Tuan. Non Yuni hanya diam dan bermain HP, mungkin non Yuni sibuk karena sejak tadi terus memijit pelipisnya.” Sopir itu menjawab tanpa menoleh. Tetap fokus ke jalan adalah kunci.
Cahyo mengangguk. Banyak pekerjaan dari pada hanya memikirkan Yuni saja. “Nana sudah telepon?” Surya ternyata sudah siap juga di ruang rapat dan Cahyo yang baru masuk jadi tak perlu menunggu hanya untuk mempelajari tema rapat kali ini.
“Besok pagi Nana dan Hendra sudah pulang, proyek di sana akan berjalan mulai lusa, manajer area juga sudah siap di sana.” Surya mengulurkan tab ke Cahyo, “Mr sudah mengirim email, katanya tidak bisa datang, dan ini undangan untukmu.”
Cahyo mengangguk. Saat akan membahas hal lebih lanjut, Anton malah datang ke ruang rapat, “Hey! Kejutan kamu ke sini, Ton.” Cahyo berdiri dan menjabat tangan Anton.
Anton terkekeh, “Aku yang memegang proyek sekarang, kamu tahu sendiri, kan? Pekerjaanku tidak banyak, jadi aku mencari cabang lain, mengandalkan jualan produk saja tidak cukup untuk membahagiakan kekasihku.”
Cahyo tertawa, “Kamu sudah janji akan mengenalkan wanita beruntung itu padaku, kan? Kapan? Besok ada makan malam, ajak dia kalau tidak sibuk, kekasihmu adalah saudaraku juga, Ton.”
“Tentu, aku akan mengenalkanmu dengannya. Kita mulai rapatnya sekarang?” Anton bersiap dengan tap yang dibawa ajudannya.
__ADS_1
Yuni... senang sekali Ratih mau datang setelah ditelepon, “Apa pemikiranku salah?” Saat kesal tak akan selesai kalau tidak disalurkan dan Ratih adalah tempat yang tepat menurutnya.
Ratih tertawa, “Memang, kalau dipikir usiamu dan Cahyo kan cukup jauh, tapi memang sama sepertiku dan Surya, masalahnya Cahyo sudah kenal dengan Nana, kamu harus punya misi khusus untuk itu, Yun.”
“Misi khusus? Maksudmu aku harus berdandan seperti Nana?” Yuni menggeleng, “Tidak akan, Rat.”
“Tidak harus seperti Nana, tapi dewasalah seperti dia. Pasti kamu tahu ada satu sikap yang sangat disukai oleh Cahyo dari Nana, tugasmu harus mencari itu, dengan begitu kamu akan sama dengan Nana dan Cahyo mau membuat anak denganmu, bagaimana?” Ratih yakin dengan rencana itu.
“Aku akan memikirkannya, Rat.” Sepertinya Yuni tak punya pilihan lain.
“Dari pada pusing, kita ke salon saja, yuk! Perawatan akan membuat kita rileks.” Ratih berdiri dan mengulurkan tangan ke Yuni. Mengajak temannya ke salon seperti berangkat ke surga rasanya.
Sedangkan Cahyo... baru saja selesai rapat, dia ingin pulang dari kantor lebih awal, tapi mobil yang begitu dia kenal baru saja masuk halaman. Mengurungkan niatnya untuk masuk, “Lebih cepat dari yang kukira, apa di sana sangat sibuk sampai semua teleponku kau abaikan?” Meski membiarkan Nana memeluk dan mencium bibirnya singkat, Cahyo tetap tak rela dibohongi Nana terus.
Terkekeh, “Tanyakan ke Hendra, semua berjalan dengan alot, aku pulang lebih dulu karena terlalu merindukanmu.” Nana tak melepas lengan Cahyo, meski tahu raut wajah itu berarti beda, Nana tetap akan merendahkan diri demi keamanannya.
Hendra menggeleng, “Aku... harus pulang, Tuan Cahyo. Cukup lelah dan ada acara dengan Ratih. Aku permisi dulu, Tuan Cahyo, Nona Nana.” Hendra tersenyum dan berbalik menuju pinggir jalan, tak apa pulang dengan taksi.
Nana lebih menempelkan lagi tubuhnya ke Cahyo, “Aku sangat—“
Cahyo mengurai semuanya, “Kenapa kamu dan Hendra sekamar?”
Nana menggeleng, “Kata siapa? Kamu sendiri kan yang memesan hotelnya? Apa aku bisa membatalkan semua setelah sampai di sana? Jangan konyol, Cahyo.” Nana bersedekap dada, baru juga sampai, jangan memancing amarah.
Nana mengangguk, dia tidak pernah berani membantah saat Cahyo sudah seperti itu, bagaimana pun juga uang di atas segalanya, termasuk dengan kenyamanan dan cinta.
“Bagus.” Cahyo melepas cengkeramannya, “Ada yang ingin kamu ambil atau laporkan ke Surya? Kalau tidak aku akan mengantarmu pulang.”
“A—aku pulang saja, Cahyo.” Nana hanya ingin membagi kebahagiaan dengan Cahyo tadi, tapi kalau Cahyo mengatakan pulang, ya sudah, pulang saja.
“Okey. Tunggu sebentar.” Cahyo menelepon sopir, setelah mobil berhenti di depannya, segera menyuruh sopir agar mengantar ke apartemen.
“Kamu tidak mampir?” Nana heran karena setelah sampai di apartemen, Cahyo tak sedikit pun menunjukkan kalau akan turun juga.
Cahyo menggeleng, “Mandilah yang bersih, Na. Aku tahu apa yang kamu lakukan dengan Hendra. Jalan, Pak!” Perintahnya sambil menutup kaca mobil setelah Nana turun.
“Ck! Kalau bukan karena uang, aku sudah menendangmu sejak dulu, Cahyo. Tunggu saja semua kebenaran ini tersingkap dan pria sombong serta arogan sepertimu akan hidup sendirian di dunia ini.” Nana terkekeh, berbalik setelah mobil Cahyo tak terlihat, dia akan merendam air hangat setelah ini. Itu akan sukses menghilangkan pusing di kepalanya.
“Apa Yuni sudah pulang?” Cahyo heran karena yang menyambut kedatangannya hanya pembantu, bukan Yuni, meski tahu Yuni sedang marah tadi, tapi perempuan itu tak pernah mengabaikannya saat pulang kerja.
“Belum, Tuan. Anda ingin buah atau kudapan? Saya akan menyiapkannya.” Bibi masih mengekori Cahyo sampai naik tangga.
__ADS_1
“Sedikit kudapan dan teh hangat, aku akan di ruang kerja setelah ini, antar saja ke sana.” Cahyo pun membersihkan diri, ganti baju yang lebih santai, dan berjibaku kembali bersama laptopnya di ruang kerja.
Yuni... tertawa. Ratih dan Hendra memang tak ada duanya. Tadinya melihat Hendra bergabung, dia memilih untuk pulang, tapi Ratih berhasil menahannya. Toh! Persahabatan ini akan tetap sempurna jika dia tak menanggapi perasaan Hendra padanya.
“Kalau hari itu tiba, kalian harus memberiku paket liburan terindah selama tiga hari.” Ratih mengacungkan jari telunjuk, tengah, dan manisnya bersamaan. Dia sedang membicarakan rencana pernikahannya dengan Surya.
“Tiga hari? Apa cukup? Seharusnya satu atau dua minggu, bukan begitu, Yun?” Hendra terkekeh sambil menggigit roti bakar rasa keju.
“Jangan! Benar Ratih tiga hari, nanti uang tabungan kita bisa habis hanya untuk menyewakan Ratih hotel.” Yuni tertawa lebih keras. Dia sudah menunggu pernikahan Ratih lebih lama dari yang dibayangkan.
“Ya, benar, dan yang—“ Ratih memberi isyarat agar dua temannya diam. Ponselnya berdering dan itu telepon dari Surya, “Aku bersama Yuni, okey, ya, aku pulang sekarang, I love you too, Honey.” Ratih tertawa setelah menyimpan ponselnya di tas, “Ayo pulang, Yun! Kita ketemu lagi kapan-kapan ya, Hen? Aku dan Surya mau makan malam.” Berdiri dan mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu.
“Hati-hati, Rat. Jangan ngebut saat pergi dengan Yuni.” Hendra mengantar Ratih dan Yuni ke tempat parkir, setelah dua perempuan itu melesat dengan mobil Ratih, barulah Hendra mengambil helmnya. “Aku senang kamu mau berteman denganku lagi, Yun. Aku tidak akan membuatmu marah atau benci padaku, tidak akan, biar kita tetap seperti ini saja.” Hendra terkekeh, sepertinya dia mulai gila karena terlalu cinta dengan Yuni, andai membunuh orang bukan tindakan kriminal, Hendra akan melenyapkan nyawa Cahyo secepatnya.
“Dadah!” Yuni melambaikan tangan ke Ratih, setelah Ratih pergi, Yuni pun masuk rumah, “Mas Cahyo sudah pulang?” tanyanya ke bibi.
“Sudah, Non. Di ruang kerja. Nona, dari mana? Tuan Cahyo sepertinya kawatir.” Bibi tetap menyiapkan makan malam karena sudah jam delapan sekarang.
Yuni tersenyum, “Aku masuk dulu, Bi.” Sepertinya Cahyo memiliki perasaan padanya, apa tebakan ini salah? Lalu Nana? Ah! Memikirkan wanita itu Yuni jadi pening. Yuni mengetuk pintu ruang kerja beberapa kali.
Cahyo mendongak, “Masuk!” Yakin kalau itu Yuni.
“Mas, mau makan malam di sini atau meja makan? Aku akan membawakannya ke mari kalau Mas sibuk.” Yuni berjalan begitu lamban, ini terlalu malam, siapa tahu Cahyo marah karena dia terlambat pulang.
“Meja makan saja, sebentar lagi akan selesai, makanlah dulu. Aku akan menyusul setelah ini, Yun.” Cahyo tak terlalu menghiraukan Yuni.
Yuni mengangguk dan ke luar lagi. Seperti apa yang diperintah Cahyo, Yuni makan lebih dulu, bahkan makanan di piringnya hampir habis, tapi Cahyo belum juga bergabung. “Apa pekerjaannya sebanyak itu?” Tinggal beberapa suap, Yuni bingung antara menunggu dan meninggalkan Cahyo.
“Ya, memang banyak, kau mau membantu?” Cahyo duduk di sebelah Yuni, langsung membalik piring, dan mengambil nasi.
Yuni meringis, “Aku hanya tak mau kamu telat makan.”
“Jangan sok perhatian, Yun.” Cahyo mulai menyendok makanannya.
“Kamu selalu mengatakan hal itu, Mas. Padahal aku akan tetap seperti ini dan tidak bisa berubah.” Yuni lupa kalau sempat berdebat tadi siang, mungkin karena itu perutnya tak cepat kenyang, dia pun makan pisang sambil menunggu Cahyo makan.
“Lupakan saja, Yun. Besok ikutlah makan malam, jam enam kita berangkat, aku tidak ingin terlambat untuk acara besok, Yun. Jadi jaga sikapmu.” Cahyo ingin yang terbaik untuk Mr.
“Enam? Bukankah itu terlalu sore untuk makan malam?” Yuni sangat tahu kalau Cahyo biasa berangkat jam setengah delapan.
Cahyo menggeleng, “Besok berbeda. Buatkan aku susu jahe, Yun. Setelah itu pijit punggungku, kutunggu di kamar, cepatlah.” Cahyo mengambil satu pisang dan pergi.
__ADS_1
Yuni mengangguk, dia segera membuat susu jahe dan ke kamar, melihat Cahyo tengkurap, Yuni pun mendekat dan mulai memijit punggung Cahyo.
Cahyo memejamkan mata, pijatan Yuni selalu nyaman, dia tak pernah mendapatkan ini dari siapa pun. “Kamu tadi ke mana, Yun? Kenapa pulangnya malam sekali?” tanya Cahyo tanpa mengubah ekspresi.