Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Nyawa lain


__ADS_3

Yuni membuka mata perlahan, orang pertama yang dilihatnya adalah Ratih, dan dia segera bangun untuk memeluk sahabatnya. “Apa mas Cahyo juga ada di sini?” Cukup tahu kalau ini adalah rumah sakit.


Ratih membuang napasnya kasar, “Bisa gak lupakan saja pria gila itu, Yun?” Tentu saja dia ramah, dia yang baru saja ingin bergabung dan memamerkan ikan tanggapannya ke Yuni dan Hendra, malah melihat Hendra dengan panik membopong Yuni ke mobil. Hendra sudah menceritakan semua dan Yuni masih bisa mempertanyakan hal sekonyol itu? Bodoh!


Yuni segera menyibak selimut, dia turun dengan tergesa melupakan nyeri di tangan, entah sejak kapan infus itu menempel di sana. “Mas Cahyo itu suamiku, Rat. Aku harus menjelaskan sesuatu. Aku—“ Yuni tidak saat Ratih menekan tangannya keras.


“Kamu hamil, setidaknya ingat ada nyawa lain dalam perutmu.” Ratih tetap menekan tangan Yuni. Dia tak akan membiarkan Yuni pergi sebelum infus itu habis.


Yuni segera menyentuh perutnya, malaikat yang dia tunggu telah hadir, dan dia tak akan membiarkan janin itu sedih jika dia tak hati-hati. Yuni duduk kembali, “Berapa bulan?” Setidaknya dengan kehamilan ini, masih ada harapan untuk pernikahannya, dia tak perlu bercerai dari Cahyo.


“Tiga minggu. Pikirkan dia kalau mau melangkah, Yun. Dia nyawamu bukan?” Ratih tersenyum, saat temannya itu mengangguk, segera mendekat untuk memeluk, “Aku akan tetap di sini untukmu, Yun. Berhentilah membuang waktumu untuk pria sialan itu. Pikirkan anak yang ada di perutmu.” Ratih mengurai pelukan dan mengangguk.


Yuni ikut mengangguk juga, dia masih tak tahu harus melakukan apa, baginya kehamilan ini adalah berita yang luar biasa, dan Yuni tak ingin anaknya sedih jika dirinya banyak pikiran seperti ini.


***


Esoknya, Yuni menolak saat Ratih mengantarnya pulang, “Aku bisa sendiri, Rat. Tubuhku sudah segar, aku hanya ingin istirahat di apartemen sepanjang hari, aku ingin bicara dengan anakku berdua saja, ya? Aku bukan akan kecil.” Terus meyakinkan Ratih agar mempercayainya.


Ratih pun menghela napas, “Oke. Segera hubungi aku kalau ada apa pun. Aku akan memarahimu kalau sampai teledor, Yun.”


Yuni tersenyum, “Kamu yang terbaik.” Memeluk sahabatnya lagi dan segera pergi dengan mobilnya. Dia tak melihat Hendra, tak juga mertuanya, sepertinya tak ada yang tahu tentang kabar gembira ini, dan Yuni akan segera mengungkapnya.


“Sayang, kita akan mengejutkan papa, ya? Kamu jangan kawatir, papa pasti lebih menyayangimu dari pada wanita gila itu, dan mama akan selalu ada untukmu, Sayang.” Yuni terus mengusap perut sambil mengendarai mobil ke arah kantor Cahyo. Untung saja Ratih membawakan baju ganti, jadi dia terlihat segar di kantor meski di tengah hari begini, dan tempat yang dituju adalah ruang kerja Cahyo.

__ADS_1


Surya yang baru saja ke luar dari ruangan Cahyo, mengerutkan kening, “Kamu di sini, Yun? Bukannya ....” Enggan antara melanjutkan ucapannya atau tidak.


Yuni tersenyum manis, “Iya, jangan bilang Ratih, ya? Aku gak mau Ratih kawatir, padahal aku baik-baik saja, ya?”


Surya terkekeh lalu mengangguk, “Jaga dirimu, ya? Aku tahu kamu bisa menaklukkan Cahyo yang keras kepala itu.”


Yuni tersenyum semakin lebar, “Aku masuk dulu.” Mengangguk dan segera masuk ruang kerja Cahyo. Hal pertama yang dia lakukan adalah melemparkan senyum.


Cahyo yang melihat itu segera berdecap, “Ck! Apa yang membuatmu ke sini, Yun? Mau menceritakan tentang perselingkuhanmu dengan Hendra?” Cahyo sudah muak dan dia tak ingin mendengar tentang itu lagi.


Yuni menggeleng, dia duduk di seberang meja, dan meletakkan tangannya di meja. “Aku... hamil, Mas.”


‘Bruak!’ Mungkin meja kerja itu bisa saja terbelah menjadi dua, tapi bukan itu yang utama, Cahyo sangat marah, dia mendekati Yuni dan mencekik wanita yang dinikahi secara sah itu, “Lalu kau dengan berani membawanya ke sini? Anak siapa itu, Yun? Anak siapa?!”


“Berani sekali kau hamil dan memamerkannya padaku. Anak siapa itu?!” Cahyo terus menekan jemarinya, biar jika ada yang mati, asal sakit hatinya bisa pergi.


“Tuan Cahyo!” Mr segera mendorong Cahyo dan membantu Yuni duduk dengan benar. Dia mendengar teriakan dari dalam, sudah mengetuk pintu ruang kerja ini beberapa kali, tapi tak juga dihiraukan, jadi dia masuk begitu saja dengan lancang.


Cahyo terkekeh, “Saya tidak ada urusan dengan Anda, Mr.” Mengulurkan tangan, dia masih ingin merebut Yuni, kurang puas menyiksa karena pertanyaan itu belum terjawab.


“Hanya pria lemah yang berani meluka perempuan, Tuan Cahyo. Lagi pula aku ke sini untuk membicarakan tentang kerja sama dan Nona Yuni yang memegang proyek saya, kan?” Mr tak mau kalah.


“Anda bisa kembali lagi nanti. Kembalikan dulu istri saya karena urusan saya belum selesai.” Cahyo terus meraih ke Yuni.

__ADS_1


Mr terkekeh, “Pria macam apa Anda ini?” Menoleh ke Yuni dan tersenyum, “Nona Yuni, sepertinya kita harus mencari tempat lain untuk membicarakan pekerjaan.”


Cahyo menepis tangan Mr yang dengan lancang merangkul istrinya, “Anda—“ Belum juga selesai bicara, sebuah pukulan malah membuatnya hampir tersungkur, bibirnya kembali berdarah, dan Cahyo terkekeh sambil mengusap darah itu.


“Jangan lagi menyentuh Nona Yuni. Kami permisi dulu.” Kembali merangkul Yuni dan mengajaknya pergi.


“Kurang ajar!” Cahyo mengejar Mr dan Yuni, dia tak rela amarahnya harus sudah seperti ini, belum selesai, dan Mr juga bukan siapa pun. Dia menarik kemeja yang dikenakan Mr, lebih baik baku hantam dari pada diam diinjak-injak begini, dan dengan percaya diri Cahyo meninju Mr lebih dulu.


"Ah! Cukup, Mas! Cukup!” Yuni tak berani mendekat. Dia masih ingat dengan baik tentang kehamilannya dan mendekati orang berkelahi bukan pilihan yang bagus.


Teriakan demi teriakan yang terus terdengar, Mr pun menjadi panik, dia menyelesaikan gulat ini dengan cepat, menjatuhkan Cahyo sebisanya, dan terkekeh saat musuhnya tersungkur di lantai. “Jangan pernah menyentuh Nona Yuni lagi, Tuan Cahyo.” Mr mengusap bibirnya yang berdarah juga dan kembali mengajak Yuni ke luar.


Cahyo masih terbaik-batuk di lantai, beberapa tetes darah membuat putih jadi ternoda, dan tubuhnya masih terlalu lelah untuk menyusul. Bukan hanya heran, Cahyo seolah tak percaya, baru kali ini dia kalah dalam berkelahi, apa karena musuhnya lebih tinggi darinya? “Cuih!” Cahyo duduk di lantai setelah meludah. Masih nyeri dan pusing untuk segera berdiri.


“Cahyo?! Ada apa?!” Surya segera menolong Cahyo untuk berdiri.


“Kenapa kamu ke sini?” Cahyo hanya menurut saat Surya membantunya duduk dengan benar.


“Mr ke sini, dia ingin bertanya mengenai proyek di pantai dan perubahannya, apa kamu sudah menggambar desain yang lebih baik? Aku menyuruhnya datang ke sini, tapi aku lupa kalau Yuni juga di sini, aku ingat hubunganmu tidak baik, jadi aku ke sini. Ada apa denganmu?" Surya memberi segelas air putih ke Cahyo.


‘Prang!’ Bukannya diminum, Cahyo malah melempar gelas itu dengan sekuat tenaga, “Semua karena Mr sialan itu.”


“Maksudmu?” Sungguh Surya tak paham dengan apa yang dikatakan oleh Cahyo.

__ADS_1


Sedangkan Cahyo hanya menatap nyalang Surya sambil menggeleng.


__ADS_2