Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Dania-ku


__ADS_3

Tersenyum, papa Cahyo segera berdiri dan merangkul pria yang baru saja bergabung, “Terima kasih, semua tidak akan berjalan lancar tanpa bantuan darimu, Mr.”


 


Tertawa kecil, pria yang lebih suka dipanggil Mr dari pada namanya itu, ikut menepuk pelan punggung pria yang sebaya dengan papanya, “Sudah menjadi kewajiban saya, Om.” Dia begitu ingat...


 


Saat kepulangan Mr ke vila, “Pa.” Ikut duduk begitu saja meski ada tamu, “Hari ini sangat melelahkan, aku bosan bekerja di sini, dan orang yang bekerja sama dengannya sangat menyebalkan.”


 


Papa Mr tertawa, “Ini papanya Cahyo, katakan saja kalau putranya menyebalkan.”


 


Papa Cahyo tertawa, “Dia memang seperti itu.” Meletakkan di meja sebuah amplop, “Tapi kamu harus membantuku, namanya Yuni, dia menantuku.”


 


Mr mengambil amplop itu, membuka dan melihat apa isinya, tapi malah membuatnya terkejut, “Dania?”


 


“Namanya Yuni, Cahyo dan Yuni memiliki kesenjangan khusus, dan aku ke sini untuk—“


 

__ADS_1


“Ya, aku mau.” Mr segera menyetujui apa pun keinginan papa Cahyo dan dua pria di depannya tersenyum lega, “Aku masuk dulu, Pa, Om. Katakan apa pun yang harus kulakukan, aku akan menyelesaikannya dengan baik.” Segera masuk dengan membawa amplop itu.


 


Papa Cahyo tertawa sambil menoleh ke temannya, “Putramu memang berbeda, kuharap setelah dia bertemu dengan Yuni, Cahyo bisa segera berubah.”


 


Papa Mr mengangguk, “Katakan saja apa pun yang bisa membantumu, asal lapangan golf itu bisa segera dibangun, aku tidak akan membuatmu kecewa.”


 


Mr yang mendengar percakapan barusan, mempercepat langkahnya ke kamar, dan segera mengeluarkan semua isi amplop. “Dania, itu kau? Aku sangat merindukanmu, kenapa kamu datang sangat terlambat?” Menciumi foto yang baru saja didapatnya. Tak terlalu lama dan papanya masuk ke kamar. Mr menoleh, “Pa, ini Dania, aku menemukannya, Pa.” Air matanya tak terbendung menemukan sang kekasih hati.


 


 


Mr menggeleng, “Tidak, Pa. Aku memang akan membuat Cahyo cemburu, tapi bukan untuk pernikahan yang membaik, aku akan mengambil Dania-ku kembali. Dia Dania-ku, Pa. Dania-ku.” Hingga saat ini...


 


Mr masih mengingat ucapan dan juga tujuannya mau mendekati Yuni. “Tadi tuan Cahyo datang, aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, sepertinya bukan hal yang serius.” Itu hanya informasi formal yang harus Mr aturkan.


 


Papa Cahyo terkejut, apa lagi pernikahan dengan Nana berhasil di gagalkan, “Apa Cahyo menyiksa Yuni lagi?” Kawatir jika menantu kesayangannya yang sedang hamil itu, sampai terluka.

__ADS_1


 


Mr tersenyum sambil menggeleng, “Sepertinya tidak, Om. Nona Yuni bilang dia baik-baik saja.”


 


Barulah papa Cahyo lega, “Aku ingin bertemu dengan Yuni, atur di mana tempat dan waktunya, aku akan datang dengan istriku.”


 


Mr menelan ludah, dia tahu ini akan terjadi, tapi kenapa tidak rela? Senyumnya memang terpaksa, tapi dia pun tetap harus menjawab, “Mungkin... bukan hari ini, Om. Yuni masih syok, tapi aku akan segera mengabari Om kalau Yuni sudah siap.” Mr tak akan membiarkan apa yang sudah dia genggam terlepas begitu saja.


 


Papa Cahyo mengangguk, “Lakukan apa pun yang terbaik untuk Yuni, Mr.” Papa Cahyo tinggal beberapa saat untuk berbincang, hingga setelahnya kembali ke hotel, tersenyum saat istrinya menyambut, “Dia akan mengatur harinya, jangan kawatir, kita akan segera bertemu dengan Yuni.”


 


Mama Cahyo pun memeluk suaminya. “Aku sangat merindukannya, dia membawa cucuku, cucu yang sangat kuinginkan, aku yakin itu anak Cahyo.” Mengurai pelukan dan mendongak, “Meski pun dokter bilang Cahyo mandul, Tuhan lebih tahu mana yang terbaik untuk putraku, Dia tak akan sejahat itu.”


 


Papa Cahyo menarik istrinya lagi ke pelukan, “Kita akan menyatukan Yuni dengan Cahyo lagi. Meski mungkin agak lama, semua akan bersatu seperti sedia kala, percayalah!”


 


Cahyo yang baru saja datang, ingin mengajak mamanya bicara, hanya diam di tempat mendengar percakapan itu.

__ADS_1


__ADS_2