
“Aku sama Ratih, Mas.” Yuni suka saat Cahyo menyuruhnya melayani. Meski hanya pijit saja baginya cukup untuk mewaraskan diri kalau gelar istri itu nyata.
Cahyo bangun, menoleh dan menatap Yuni tajam, “Ratih? Ke mana?”
Tatapan itu yang paling tak disukai Yuni, seolah ada yang terpendam di dalamnya, dan selalu membuatnya takut. “Ka—kami ke salon, Mas.” Yuni tersenyum. Memang itu yang dia lakukan tadi, kan?
“O, ke salon, ya? Setelah itu? Apa Hendra datang untuk bergabung dengan kalian?” Cahyo menyeringai, dia sangat benci dengan nama itu, tadi Nana dan sekarang Yuni, setelah ini siapa lagi yang akan berhubungan juga dengan Hendra?
Yuni mengangguk, dia juga menunduk, Cahyo kembali menjadi monster yang menyeramkan.
Cahyo terkekeh, turun dari ranjang dan mengulurkan tangan ke Yuni, “Ikut denganku, Yun.”
Suara itu sangat berat dan Yuni tak ingin menolak. Meski tubuhnya mulai bergetar, dia tetap menerima uluran tangan Cahyo, berjalan saat Cahyo menariknya menuju ke kamar mandi.
Cahyo mengajak Yuni berdiri di bawah kran air, menyalakan air dingin yang langsung mengguyur tubuh Yuni, dan terkekeh kembali. “Sangat sulit membuatmu paham, Yun. Berapa kali harus kukatakan jauhi Hendra? Sekasar apa aku memperlakukanmu, sepertinya kamu tetap tak mendengar perintahku, lalu... aku harus apa, hm?!” Cahyo tak melakukan apa pun, hanya menatap Yuni yang mulai menggigil, baginya tak ada belas kasih kalau menyangkut nama Hendra.
“Kami tidak melakukan apa pun, Mas. Aku dan Ratih ke salon dan Hendra datang. Kami hanya makan kue dan susu coklat.” Yuni memeluk tubuhnya sendiri, ini tak seberapa dibanding dengan yang dulu, meski dinginnya tetap sama.
“Lalu?” Cahyo memiringkan kepalanya ke kanan, “Menurutmu aku harus bagaimana?”
__ADS_1
“Aku dan Hendra hanya berteman, tak ada yang spesial, mau apa pun perasaan Hendra padaku, aku tak akan pernah menanggapinya, Mas. Jadi... jangan menghukumku lagi. Aku dan Ratih akan sering bertemu dengan Hendra, Mas. Bukan karena aku suka dengannya, tapi karena aku dan mereka sudah berteman, kan? Mas, juga tahu aku sekampus dengan mereka.” Hanya itu yang Yuni punya untuk membela dirinya sendiri.
Cahyo menarik salah satu sudut bibirnya, “Tidurlah di lantai, Yun. Debu di lantai akan membuat semua kotoran di tubuhmu sirna.” Cahyo berbalik dan masuk ruang ganti. Celananya basah, dia membuangnya ke keranjang sampah, setengah melempar, dia ingin memukul seseorang. Andai Yuni pria juga sepertinya, entah apa yang akan dia lakukan, dan saat dia ke luar Yuni sudah berdiri di depan ruang ganti. Cahyo hanya menatap sejenak, berlalu begitu saja ke ranjang, dan mengubur dirinya dengan selimut.
Yuni menarik napas panjang dan dalam, Cahyo yang diam seolah menjawab kalau argumennya terkabulkan, tapi siapa yang bisa menjamin? Yuni ke luar dengan membawa selimut tebal, menggelarnya di lantai, dan tidur sambil menghadap ke Cahyo. Pria itu dengan segala sikapnya, entah kapan Yuni bisa meluluhkan, pernikahan ini tak pernah baik-baik saja.
***
Cahyo bangun lebih dulu dan dia melihat Yuni di lantai, “Kenapa perempuan bodoh itu bisa tidur dengan nyenyak di lantai? Dia tidak mencari tempat yang lebih layak dari lantai. Dasar bodoh!” Cahyo turun dari ranjang, mengguncang tubuh Yuni, “Jangan lupa nanti jam setengah tujuh kita berangkat.” Ucapnya setelah Yuni membuka mata.
“Iya, Mas.” Yuni mengucek mata, tubuhnya sakit semua, tapi dia tetap tersenyum ke Cahyo, “Mr bilang kalau hadiah yang diberikan harus dipakai.” Imbuhnya sebelum Cahyo menghilang di kamar mandi.
Yuni melipat selimut, mencarikan setelan baju yang pas untuk Cahyo, dan menyiapkan tas kerja. Baru saja menata di ranjang, Cahyo sudah selesai mandi, dan ganti Yuni yang ke masuk kamar mandi.
Cahyo ganti baju dengan cepat, sarapan pun tidak, dia langsung ke kantor. “Sur, carikan aku sarapan.” Ucapnya saat bertemu dengan Surya di lobi.
“Sarapan? Ada apa denganmu? Bukankah beberapa bulan lalu kalian sudah saling berciuman? Kenapa sekarang kembali lagi?” Surya tak tahu apa yang dipikirkan Cahyo tentang Yuni dan segala hubungan suci itu.
“Carikan saja aku makanan. Kau tidak ingin aku mati sebelum gajimu turun, kan? Lakukan saja.” Cahyo segera ke ruang kerjanya. Tak butuh waktu lama, mungkin dua puluh menit, Surya sudah datang dengan kotak makanan, “Kamu bertemu Ratih?”
__ADS_1
“Ya, aku setiap hari bertemu dengannya dan tentang makan malam nanti aku juga mengajaknya, tapi Ratih menolak. Kau tahu, kan? Kami merencanakan pernikahan, dia sibuk mengurus semuanya, untuk urusan kantorku, dia tidak mau. Katanya ada kamu jadi Yuni tidak akan kesepian.” Surya rasa ucapan Ratih semalam memang benar.
Cahyo menghela napas, “Ratih tidak pernah cerita tentang Hendra?”
“Tunggu!” Surya mulai mengerti sekarang, “Kau dan Yuni marahan karena Hendra?”
“Buang omong kosongmu, Sur.” Cahyo tak ingin mendengar bualan semacam itu.
Surya malah tertawa, “Hendra, Yuni, dan Ratih, mereka kuliah bersama, akan sulit untuk memisahkannya, lagi pula apa yang kamu kawatirkan? Cinta sama Yuni juga enggak, mending biarkan saja mereka mengobrol, asal masih wajar dan gak bikin kamu malu.” Cemburu memang hal paling berat, tapi kalau tak ada pilihan selain mengalah? Apa yang dibanggakan?
Cahyo membuang napas kasar, “Kamu bisa bilang kayak gitu karena Hendra gak suka sama Ratih.”
“Ya, Hendra sukanya sama Yuni, kan? Kalau Yuni gak mau, kamu mau ngapain? Terus curiga ke Yuni?” Mungkin Surya terlihat ada di pihak Yuni, padahal dia hanya ingin Cahyo membuka mata, itu saja.
“Kenapa harus kamu belain sih? Kemarin Nana sekamar sama Hendra, sore Yuni makan sama Hendra, dan sekarang kamu belain dia, kenapa? Dapat gaji emang?” Perutnya belum terisis dari tadi, Surya malah mengajaknya berdebat terus, teman macam apa Surya ini? Kalau diusir Cahyo juga tidak enak hati, tapi dibiarkan kok makan hati begini?
Surya mengerutkan kening, “Nana dan Hendra sekamar?” Tak menyangka kalau Cahyo sudah tahu perihal ini, “Kalau memang benar, apa yang kamu cari dari wanita tak setia seperti Nana? Bukankah Yuni terbukti lebih baik sekarang? Apa matamu buta? Secantik apa Nana di matamu hingga kamu buta, tidak bisa melihat apa pun di sekitarmu, bahkan hati tulus seperti Yuni juga?” Semua hal buruk semakin tercium tajam, tapi Cahyo tetap tak mengakuinya, dan itulah yang membuat Surya muak dengan kepribadian Cahyo.
Cahyo membuang napas kasar untuk ke sekian kalinya, “Jangan membuat nafsu makanku berkurang, Sur. Pekerjaan kita banyak, jangan buang waktu, setiap detik adalah uang.”
__ADS_1
Surya terkekeh, “Mungkin dengan merenung seorang diri bisa membuatmu kembali waras. Aku pergi dulu.” Sengaja Surya tak mau menanyakan apa pun. Cahyo pria dewasa, kan? Surya tahu hati itu sudah terisi. Hanya saja Cahyo malu mengakuinya.