
Yuni segera masuk, untung saja tak ada mobil Cahyo di toko, dia pun segera menaruh tasnya, dan duduk di depan laptop sambil menunggu Cahyo.
Cahyo baru saja masuk, dia melihat Yuni sibuk dengan laptopnya, “Pekerjaanmu sudah selesai?”
Yuni mendongak, tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Cahyo, “Makan sekarang, Mas?”
Cahyo mengangguk, dia yang belum sempat duduk, segera mengulurkan tangan ke Yuni, “Aku sudah memesan tempat.”
Yuni mengangguk dan menerima tangan Cahyo. “Mau makan di mana, Mas?” Beberapa waktu ke belakang dia memang sering ke luar dengan Cahyo dan menurutnya tak ada tempat yang menyenangkan. Semua terlalu mewah, Yuni tak suka tempat semacam itu.
Cahyo mengambil tangan Yuni, “Biasakan dirimu, Yun. Apa kamu tidak malu dengan rambutmu? Kamu cantik, bajumu bagus, jadi jangan membuat dirimu terlihat tak menarik karena tempatmu yang kurang sesuai.”
Yuni terkekeh, “Aku tahu, Mas. Aku juga suka ke mana pun Mas ajak.” Yuni memeluk tangan Cahyo, merebahkan diri di dada Cahyo, meski canggung dia tetap mencoba bersikap seperti sepasang suami istri normal. Yuni beberapa kali membuka situs untuk membaca novel dan ada adegan ini juga agar hubungan semakin romantis katanya.
Setelah tiba di restoran, Yuni meringis, ada daging kalkun di depannya, kentang campur kacang, dan saus berwarna hijau. Entah akan seperti apa rasanya. Cahyo sudah makan lebih dulu, kemampuannya menggunakan garpu dan pisau tidak buruk, Yuni mulai mencicipi makanan itu.
“Kau suka?” Cahyo melirik Yuni, baru tahu itu adalah suapan pertama Yuni dari tadi, miliknya saja hampir habis.
Yuni mengangguk, “Tidak buruk. Ini enak, Mas.” Yuni jujur, meski lidahnya tak terbiasa, dia harus mengakui kalau ini lezat, hanya saja dia ragu apa bisa kenyang dengan makanan sedikit begini?
“Nanti malam ada acara dengan klien, datanglah bersamaku, aku ...tidak pernah mengajakmu ke semua acaraku, Yun. Mereka selalu menanyakanmu.” Cahyo kembali melahap makanannya.
Yuni mengangguk, “Tapi rambutku? Mas, akan malu nanti.” Yuni juga tidak mungkin mengecat rambutnya dengan warna hitam lagi.
“Memangnya kenapa? Itu cantik. Aku suka rambutmu. Jadilah dirimu sendiri, Yun. Berbeda itu menyenangkan.” Cahyo terkekeh. Ucapannya seperti orang dewasa saja, padahal dia cukup sadar kalau seringnya menjengkelkan. Pelayan datang untuk memberi hidangan penutup, setelah perut terasa begitu kenyang, Cahyo pun mengajak Yuni ke tempat lainnya.
__ADS_1
“Selamat datang di toko kami.” Pekerja menyapa dengan ramah.
Yuni membalas senyuman itu tak kalah manis. Ini adalah kali ke dua dia ke sini bersama Cahyo, dulu semua begitu berbeda, entah hari ini, apakah ada kejadian aneh terulang lagi?
“Kenapa bengong?” Cahyo menyenggol lengan Yuni dengan sikunya.
Yuni meringis, “Aku bingung mau beli apa.”
Cahyo menghela napas. Pelayan yang tersenyum, mungkin mendengar ucapan Yuni, Cahyo cuek, menganggap tak ada apa-apa, “Carikan gaun untuk pesta di malam hari. Aku mau istriku terlihat paling cantik untuk nanti malam.” Setelah pelayan itu mengangguk, Cahyo duduk di kursi panjang sambil mengecek ponselnya, mungkin ada pesan atau bahkan email masuk dari Surya.
Yuni melongo, “Baju apa ini?” Deretan baju di kamar ganti terlalu berlebihan. Semua sangat mini dan terbuka, bisa saja dia masuk angin kalau memakai baju seperti ini, “Aku tidak bisa memakainya.”
“Tapi tuan Cahyo ingin Anda terlihat paling sempurna untuk nanti malam, ditambah dengan rambut Nona Yuni, saya yakin semua sangat cocok.” Pekerja itu memamerkan beberapa gaun yang sangat bagus menurutnya.
Yuni tetap menggeleng, “Carikan saja aku baju yang sopan, bisa tanpa lengan atau apa pun, tapi jangan yang seperti ini.” Yuni mengeluarkan ponselnya, mencari gaun hasil tangkapan layar yang pernah dia simpan kala menjelajah dunia maya, lalu memperlihatkannya ke pekerja itu.
Cahyo melihat pekerja yang bersama Yuni tengah melintas, dia tak sabar menunggu Yuni mengenakan gaun bagus, tapi ternyata tak ada siapa pun yang ke luar dari kamar ganti itu, malah pekerja yang tadi masuk kembali.
Yuni menoleh saat mendengar langkah kaki. Tersenyum saat pekerja itu menyodorkan gaun yang terlihat indah sebelum dia mencobanya, “Aku ambil yang ini saja.”
Pelayan itu ragu, “Anda belum mencobanya, Nona Yuni. Bagaimana dengan tuan Cahyo?”
“Dia pasti suka juga. Langsung bungkus, aku mau yang ini.” Yuni ke luar dan tersenyum melihat Cahyo menatapnya heran.
“Mana gaunmu?” Cahyo tak melihat ada yang berubah dari Yuni.
__ADS_1
“Mama telepon, Mas. Suruh cepat pulang katanya, tapi aku sudah ambil gaun yang bagus untuk nanti malam.” Yuni berbohong, dia tak ingin kejadian lalu terulang kembali.
Cahyo mau tak mau tetap menelan kekecewaan. Dengan gontai pulang, membiarkan Yuni dan mamanya berbincang di ruang tengah, sedangkan dirinya sendiri ke kamar untuk tidur siang. Dia sudah terlalu lelah dan malas untuk kembali ke kantor sekali pun.
Yuni ikut membaca tabloid mode dengan mamanya. Dia mencari gaya apa kiranya yang akan dia tirukan untuk nanti malam.
“Tidak biasa kamu membaca tabloid mama, mau ke mana?” Mama Cahyo sangat paham dengan Yuni.
“Ada acara nanti malam, Ma. Aku bingung mau dandan gimana. Rambut ini terlalu mencolok. Aku bingung sendiri kalau ada acara formal begini.” Yuni tetap membola-balik tabloid itu.
Mama Cahyo tersenyum, “Gampang. Nanti malam kalau sudah siap, biar mama yang dandanin kamu, percaya sama mama.”
Yuni sangat senang dengan usulan mama Cahyo. Dia pun bisa bersantai. Hingga saat malam tiba, Yuni segera ke kamar mama Cahyo untuk dirias.
Cahyo memasang jam tangannya sendiri, menyemprotkan parfum, lalu merapikan rambutnya lagi untuk sentuhan terakhir. Setelah cukup percaya diri dengan penampilannya, Cahyo ke luar, dia akan menunggu Yuni di bawah. “Pa, mama sana Yuni belum selesai?” Papanya yang menonton TV sambil bersantai, seolah menikmati waktu sendiri.
“Aku baru selesai, Mas.” Yuni menyahut begitu saja setelah mendengar Cahyo.
Cahyo menoleh, tersenyum, dan menoleh kembali ke papanya, “Kita berangkat dulu, Pa, Ma.” Tak mau ketinggalan acara karena jamnya sudah hampir terlewat. Tak banyak yang Cahyo bicarakan dengan Yuni. Surya terlalu mengganggu dengan banyaknya email yang masuk padahal sudah malam. Hingga mobil berhenti, Cahyo baru menyadari kalau dia sudah sampai di tempat acara, “Ayo, Yun!”
Yuni hanya mengekor Cahyo. Meski tak ada tangan yang digandeng, Yuni cukup senang karena langkah Cahyo yang tak terlalu cepat, cukup bisa diimbangi olehnya yang mengenakan sepatu terlalu tinggi.
“Itu temanku, Yun. Kita ke sana dulu.” Cahyo menarik tangan Yuni, rasanya aneh berjalan seperti ini, dan Cahyo jadi ingin menertawakan dirinya sendiri. “Hey! Selamat atas pembukaan anak cabang perusahaan ke tujuhmu.” Cahyo memeluk temannya, “Ini istriku, Yuni.” Cahyo menoleh ke Yuni, “Ini Anton, temanku.”
Yuni mengulurkan tangan, “Yuni.” Memperkenalkan diri ke teman Cahyo.
__ADS_1
Anton tersenyum sambil bersalaman, “Kau melupakanku, Nona?”