Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Ditolak lagi dan lagi


__ADS_3

“Astaga!” Hendra menginjak rem sangat dalam, mobil di depannya menghalangi begitu saja setelah menyelip, dan setelah tahu siapa yang turun dari mobil itu, Hendra pun jadi gugup. Dia turun juga dari mobilnya, “Nyon—“


“Ikut denganku.”


Hendra mengangguk. Masuk kembali dan mengikuti mobil di depannya. Berhenti di restoran mahal, berjalan dengan hati-hati, meski banyak pertanyaan berkecamuk, Hendra tetap diam untuk menjaga sikapnya.


Setelah memesan minuman, tersenyum ke Hendra, “Aku mendengar semua pembicaraanmu dengan Yuni.”


“Maafkan saya, Nyonya.” Hendra memang lancang dan saat dihadapkan dengan mamanya Cahyo, nyalinya menciut. Dia lupa siapa dirinya dan apa derajat yang dia miliki.


“Aku mengejarmu bukan untuk mendengar ucapan permintaan maafmu, Hen. Aku memang tidak suka kamu dekat dengan Yuni, apa lagi setelah mendengar sendiri kalau kamu memang menyukai menantuku, tapi ada hal yang harus kubuang untuk hal yang lebih baik.” Mama Cahyo tersenyum.


“Maksud, Nyonya?” Hendra tak paham dengan ucapan itu, seolah ada arti di balik semuanya, tapi apa?


“Mulai besok Yuni akan belajar mengemudi darimu,”


“Tapi, Nyon—“


Mama Cahyo memamerkan telapak tangannya agar Hendra diam, “hanya dua minggu dan Yuni harus bisa mengemudi dalam dua minggu itu. Kurasa kamu sudah mengenalku dengan baik dan memecatmu karena tidak bisa menjalankan tugasmu adalah hal yang mudah bagiku.”


Hendra mengangguk, uang di atas segalanya, dia butuh, dan tak mungkin mempermainkan semua ini.


Mama Cahyo berdiri saat pelayan restoran datang mengantar minuman dan makanan, “Aku sudah membayarnya, makanlah, tak ada imbalan bagimu, tapi kalau kamu berani bermain-main denganku, kamu akan sangat menyesal, Hen. Jadi jangan gegabah.” Mama Cahyo tersenyum dan pergi. Dia tahu keputusannya memihak Hendra bisa saja berisiko, tapi pilihan lainnya juga tak ada yang sebaik ini, sepertinya langkah yang dia ambil terlihat benar.


Cahyo... segera pulang setelah semua pekerjaan selesai. “Papa ke mana, Ma?” Rumah ini jadi semakin sepi dan itu membuatnya tak nyaman.


“Papamu kan sibuk mengurus lapangan golf? Sekali-kali ikutlah dengan papamu.” Mama Cahyo menjawab tanpa menoleh, dia sibuk membuka tabloid di tangan, sekedar melihat karena putranya jadi menjengkelkan sekarang.


Cahyo mengangguk, “Aku... ke atas dulu, Ma.” Melihat mamanya mengangguk, Cahyo pun berlalu, dan saat melihat Yuni rebahan, Cahyo tersenyum lagi sambil melepas pakaiannya. “Di luar sangat panas, Yun. Aku mandi dulu.” Cahyo langsung masuk kamar mandi.


Yuni bingung, suaminya lebih banyak murung akhir-akhir ini, sepertinya kehidupan jadi sangat berat. Dia segera merapikan tas kerja Cahyo dan mencarikan pakaian ganti, dan saat Cahyo ke luar, Yuni tersenyum, “Bagaimana di kantor tadi?”


Cahyo terkekeh, “Seperti biasa, rapat, banyak klien, ada aduan konsumen, dan... hm... bagaimana kabarmu? Apa masih ada yang sakit?” Kenapa Cahyo sepertinya melihat Yuni semakin kurus? Apa karena terlalu sedih memikirkan dirinya?


Yuni mendekat, dia memeluk Cahyo begitu saja, “Mas, detak jantung di dalam sana, merdu sekali. Aku pernah baca novel katanya sangat nyaman saat mendengar detak jantung orang yang kita cintai dan kalimat di novel itu memang benar.” Yuni mendongak, “Terima kasih, Mas. Meski pernikahan ini sangat sulit, aku senang karena menikah dengan Mas, bagiku Mas sangat baik.”


Cahyo membalas pelukan Yuni, mengecup puncak kepala juga, “Aku orang jahat, Yun. Aku membencimu, aku tak mencintaimu, hanya membuatmu sengsara saja.”


“Itu dulu, Mas. Sekarang aku hanya merasakan cinta saja. Katakan!” Yuni tersenyum, “Apa tebakanku salah?”


Cahyo terkekeh sambil menggeleng, “Aku tidak tahu harus mengatakan apa, Yun.”


“Tidak perlu, Mas. Cukup seperti ini saja. Istrimu ini, orang yang tak kamu cintai ini, bisa membaca hati dengan baik.” Cahyo sudah banyak berubah dan Yuni bisa merasakannya.

__ADS_1


***


Hari berlalu dengan cepat, semua semakin manis dengan Yuni dan Cahyo, tapi tidak dengan Nana. Sudah hampir seminggu dia kesulitan menemukan Cahyo dan hari ini dia sudah berada di ruang kerja Cahyo bahkan sebelum pemilik kantor itu berangkat kerja.


“Kamu gila? Apa semalam kamu tidur di sini?” Cahyo yang baru masuk, terkejut dengan kehadiran Nana. Ini masih jam setengah delapan dan Nana sudah duduk di kursi kebesarannya.


"Kamu yang gila.” Nana berdiri, “Aku mengandung anakmu dan kamu mengabaikanku begitu saja?” Menunjuk perutnya, kenapa pria mudah sekali berubah?


Cahyo terkekeh, “Bukankah dari dulu aku sangat sibuk? Kamu sangat tahu jadwalku, Na.” Cahyo menaruh tas kerjanya dan duduk di kursi yang tadi diduduki Nana. “Butuh berapa? Aku akan mentransfernya sekarang.” Mengeluarkan ponselnya di depan Nana.


Nana menyahut ponsel itu dan melemparnya begitu saja, tak peduli kalau pecah dan rusak, yang Nana tahu dia hanya ingin diperhatikan. “Kamu sangat tahu kalau bukan uang yang kubutuhkan, Cahyo! Aku membutuhkanmu! Anak ini membutuhkanmu! Kenapa kau malah mencampakkanku setelah dia ada, huh?!” Nana berteriak, seolah ingin seluruh dunia ini tahu kalau dia sedang dizolimi oleh Cahyo, jahat sekali, kan?


Cahyo menghela napas, berdiri untuk mengambil ponselnya, untung saja masih menyala meski layarnya retak, sepertinya dia harus beli yang baru setelah ini. “Dari awal kita kenal, kamu sangat tahu kesibukanku, Na. Sekeras apa kamu teriak, kalau aku tidak bisa yang tidak bisa, banyak pekerjaan di sini, mau terima atau tidak memang itu menyatakannya. Pulanglah! Aku akan ke apartemen sore ini.” Cahyo merapikan rambut Nana dan mengecup kening juga.


“Oke.” Nana menghela napas juga, “Kalau kamu tidak datang, jangan salahkan aku kalau terjadi apa pun dengan anakmu, Cahyo. Aku tidak sedang bercanda.” Berbalik dan pergi.


Sedangkan Cahyo malah terkekeh sambil berjalan ke kursinya. Banyak pekerjaan yang menunggu, Nana bisa diurus lagi nanti, bukan hal sulit baginya menangani kemarahan Nana.


Yuni... tersenyum lebar, “Aku sangat gugup.” Sambil mengemudi, dia mulai berbaur dengan mobil lainnya di jalan raya.


Hendra terkekeh, “Kemajuanmu sangat bagus, Yun. Asal tenang dan jangan gegabah. Hanya kemudi pasti bisa kamu taklukkan dengan mudah, percayalah!” Hendra tak perlu banyak celoteh sekarang, Yuni sangat cepat belajar, dan sepertinya siap ikut ujian SIM.


“Kita putar di sana, terus pulang, ya? Lelah juga ternyata. Sudah hampir satu jam, kan? Rasanya lebih lama dari biasanya.” Yuni sesekali menoleh ke Hendra, dia seperti seorang profesional sekarang, bukankah itu bagus?


“Hm... bagaimana kalau besok lusa? Aku dan mas Cahyo ada cara besok.” Yuni mulai memasuki area pantai, jalan tak rata, naik turun, dia mulai bisa menanganinya dengan baik.


“Bukankah pernikahan itu tetap akan terjadi, Yun? Apa yang membuatmu bertahan?” Hendra masih tetap tak rela. Wanita yang dia cintai harus merana seperti itu.


“Ya, tanggal tiga puluh bulan ini, aku tidak bisa membatalkannya, kan?” Yuni menarik rem tangan, melepas sabuk pengaman, dan ke luar. “Aku langsung pulang, ya?” Berjalan ke arah mobil yang mengantarnya karena Yuni sudah kelelahan.


“Yun!” Hendra menahan tangan Yuni, “Tabunganku banyak, kalau kamu mau kita bisa kabur bersama, aku sudah wawancara di perusahaan lain, anak panti tidak akan kelaparan, Yun.”


Yuni mengerutkan kening, “Hen, kamu sudah janji, kan? Kita gak akan bahas perkara ini lagi, kenapa terus mengulanginya? Aku sudah menikah dan akan tetap seperti itu dengan tidaknya mas Cahyo menikah dengan Nana. Jangan membuat posisiku terlihat sulit di depanmu.” Yuni pun melepas tangan Hendra perlahan.


“Kamu tahu kalau aku mencintaimu? Bahkan sejak awal, Yun. Beri aku kesempatan, kalau memang bersamaku tak ada kebahagiaan, sama denganmu saat bersama Cahyo, pergilah, aku tidak akan mengganggumu lagi.” Hendra sudah memberikan semua ke Yuni, bahkan harga dirinya, apa Yuni masih menolaknya juga?


Yuni tersenyum, “Ini bukan tentang kebahagiaan, Hen. Jangan seperti ini. Aku... harus pulang. Terima kasih atas segalanya, aku gak akan bisa nyetir tanpa kamu, kamu guru yang hebat.”


“Maksudmu?” Hendra tak suka dengan kalimat itu, terdengar seperti ucapan perpisahan, apa-apaan ini?


“Aku tidak bisa kalau kamu begini, Hen. Maafkan aku.” Yuni berbalik dan masuk ke mobilnya, “Jalan, Pak. Kita pulang sekarang.” Terus menatap ke depan, dia tak mau menoleh ke Hendra agar tak menimbulkan kejelasan lainnya, Yuni sangat tahu apa posisinya saat ini.


Hendra terus melihat mobil yang membawa Yuni pergi, wanitanya raib, dan semua hanya karena status yang menyakitkan semacam itu, bagaimana bisa Yuni tetap bertahan sampai sejauh ini?

__ADS_1


“Siapa, Hen?!”


Hendra menjingkat. Dia menoleh dan tersenyum saat melihat Anton yang berdiri cukup jauh, “Temanku. Kapan kamu datang?” Beberapa hari ini Anton memang tidak di pantai dan itu memudahkan Yuni belajar mengendarai mobil bersamanya.


“Baru, ada mobil tadi orangnya gak ada, kamu juga gak ada, temanmu tadi kenapa buru-buru sekali? Aku sepertinya pernah melihatnya.” Anton masuk ke ruang kerja, biasanya dia dan Hendra berdiskusi tentang pekerjaan di sana, itu adalah tempat ternyaman baginya.


Hendra terkekeh, “Dia wanita yang rumit, aku tidak bisa menggapainya meski sudah bersikap selembut mungkin, sepertinya dia buta.” Hendra tertawa mendengar sarkasnya sendiri.


Anton juga ikut tertawa, “Usaha tidak akan mengkhianati hasil, kata orang begitu, jadi jangan menyerah.” Menepuk punggung Hendra beberapa kali.


“Aku pernah dengar suara yang gaduh di kamarmu, apa pacarmu hantu? Aku tidak pernah melihatnya.” Hendra mengambil minuman soda dingin di lemari es, langsung membuka dan meminumnya, lalu menoleh ke Anton.


Anton tertawa, “Ah... dia memang selalu membuatku bergairah. Kadang kita merasa apa yang kita miliki sudah yang terbaik, tapi wanita tetap menganggapnya kurang, dan aku tidak tahu harus menjelaskannya bagaimana.”


Hendra mengangguk, dia juga merasakan hal yang sama saat merayu Yuni, “Kamu tidak mengajaknya menikah?”


“Sudah. Bahkan saat dia mengandung anakku, dia tetap menolak, katanya pernikahan akan membosankan, aku tidak mau karena keinginan kecil itu hubunganku dengannya berakhir cek cok.” Anton rasa tidak penting juga pernikahan.


Hendra mengangguk, “Hanya pemikiranku atau anggap saja salah, bagaimana jika ternyata pacarmu punya kekasih lain? Pria lain atau apa pun itu, bagaimana?”


Anton terkekeh, “Tidak masalah, bagiku semua tidak penting, Hen. Mereka melakukannya tidak di depan mataku, jadi buat apa dipermasalahkan? Anggap saja aku tak tahu.”


“Kalau pria itu aku?” Hendra terkekeh saat Anton menatapnya tajam.


“Aku bisa membunuhmu karena aku tak suka dia bermain gila dengan pria yang aku kenal siapa namanya.” Anton tak menyangka kalau kekasihnya membuat semua mata pria kehausan.


Hendra malah tertawa tanpa takut, “Kenapa aku? Kenapa bukan pacarmu saja yang kau bunuh? Anggap saja aku tak tahu dan kamu tetap membunuhku? Bagaimana jika pacarmu yang merayuku?”


“Itu tidak mungkin, Hen. Pacarku bukan wanita seperti itu. Dia sangat berhati-hati dan tahu hal apa yang paling kubenci. Sudahlah! Pembicaraan ini tidak menguntungkan. Apa kau punya tujuan khusus saat mempertanyakan itu? Jangan gila.” Anton tertawa, dia tahu Hendra sedang bercanda, tapi sangat keterlaluan sekali.


Hendra terkekeh, meminum sodanya lagi, dan menoleh ke Anton. “Pekerjaan kita masih banyak, kan? Jangan buang waktu.” Berdiri mendekati miniatur dan melihat apa yang menurutnya menarik perhatian, “Apa ini—“


Anton mencekal tangan Hendra yang akan menyentuh jembatan di miniatur, “Kau melihat pacarku dan tertarik padanya? Burungmu langsung berdiri melihatnya telanjang dengan tubuhnya yang seksi? Kau mempertanyakan itu hanya untuk mengukur keberanianmu sendiri, huh?! Jawab!!”


Hendra terkekeh, “Bahkan lebih besar dari itu.”


Anton mengerutkan kening tak percaya, pria seperti apa Hendra ini? Apa tak takut dengan kepalan tangannya yang siap merontokkan gigi?


“Aku menahan untuk tak mengatakan apa pun karena setelah kau mendengarnya, gendang telingamu akan pecah, dan belum tentu kamu siap.” Hendra tersenyum lebar. Cekalan itu lumayan terasa, tapi tetap tak cukup untuk menakutinya.


Sambil menggerutukan gigi, Anton pun berdesis, “Katakan sekarang atau kupatahkan tanganmu ini.”


__ADS_1


__ADS_2